Ragam

Bridge of Spies, Kisah Bebasnya Mata-mata Uni Soviet dari CIA

Poster: ScreenRant

Poster: ScreenRant

Bridge of Spies yang dirilis pada 16 Oktober 2015, menjadi film yang tergolong masih segar dan menjadi koleksi wajib bagi penggemar film dengan penggabungan beberapa unsur seperti Thriller, Drama dan Dokumenter. Film ini diangkat dari sebuah novel berjudul sama yang ditulis oleh Giles Whitehall pada tahun 2010 lalu, yang terinspirasi dari kisah nyata dan dengan sedikit sentuhan bumbu Hollywood.

Film Bridge of Spies sendiri mengisahkan tentang seorang pengacara Amerika bernama James Donovan (diperankan oleh Tom Hanks). Donovan adalah pengacara yang berkerja pada suatu kantor asuransi. Pada suatu ketika, CIA memintanya untuk menjadi pembela dari Rudolf Abel (diperankan oleh Mark Rylance), yang saat itu ditangkap oleh pemerintah Amerika Serikat dan dianggap sebagai mata-mata milik Uni Soviet.

Dalam proses pembelaannya, Donovan acap kali menemui kesulitan dan tantangan. Bahkan, nasionalismenya pun sempat berkali-kali dipertanyakan. Tak hanya oleh Hakim dan Penuntut umum dalam pengadilan, namun juga oleh isterinya sendiri. Ia dianggap membela mata-mata milik negara musuh.

Hal ini berdampak pada kehidupannya, terror pun sering ia jumpai. Rumah Donovan diserang oleh orang tak dikenal. Meski demikian, Donovan tak bergeming dengan penyerangan tersebut, ia tetap menyelesaikan tugas yang diberikan oleh CIA untuk membela orang yang dituduh mata-mata tersebut.

Singkat cerita, Donovan sukses membuat Rudolf Abel terlepas dari jeratan hukuman mati. Namun, di lain tempat dalam waktu yang masih sama, seorang pilot Amerika yang bernama Francis Gary Powers (diperankan oleh Austin Stowell) pesawatnya ditembak jatuh oleh Soviet dan akhirnya ditangkap oleh militer Soviet. Tak cukup sampai disitu, seorang mahasiswa ekonomi yang juga berasal dari Amerika Serikat, bernama Frederic Pryor (diperankan oleh Will Rogers) tertangkap di Jerman Timur.

Film ini menjadi kolaborasi yang keempat kali antara Tom Hanks dan sang sutradara Steven Spielberg. Ya, Spielberg, si sutradara jenius penuh ide segar yang bisa dikatakan telah memenangkan berbagai penghargaan dalam dunia perfilman. Sebelumnya, ada Saving Private Ryan (1998), Catch Me If You Can (2002), dan The Terminal (2004) yang menjadi ajang kerja sama kedua sineas hebat ini.

Film besutan Spielberg yang tak kalah sukses dipasaran antara lain, Jaws (1975), Indiana Jones: Raiders of the Lost Ark (1981), E.T the Extra-Terrestrial (1982), Poltergeist (1982), Back To The Future (1988), Jurassic Park (1993), Transformers (2007), The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn (2011).

Tom Hanks sendiri bukan tanpa rekam jejak yang mumpuni sebagai seorang aktor, lihat saja perannya sebagai Robert Langdon, sang ahli simbol dalam The Davinci’s Code serta Angels and Demon (keduanya merupakan adaptasi novel karya Dan Brown). Hingga menjadi seorang perwira yang mengalami keterbelakangan mental dalam Forest Gump. Pendalaman karakter, materi dan pembawaannya yang khas, membuat setiap karakter yang dibawakan Tom Hanks sangat menarik untuk dinantikan dan dinikmati. Terbukti dalam film ini, apa yang dinantikan benar-benar menjadi suatu hal yang cukup memuaskan.

Dari segi cerita, film ini memiliki banyak sekali konflik. Namun, tensi yang diberikan sepertinya cukup, karena membuat atensi penonton terhadap film ini menjadi cukup kuat. Sayangnya, dalam film bertemakan perang ini, adegan aksi kurang mendapat porsi, praktis hanya dalam scene tertentu saja dapat di rasakan bagaimana suasana tegang karena perang.

Sebagai film yang memiliki tema ‘agak’ thriller, film ini juga sudah cukup membuat jantung berdegup kencang lewat kompleksitas masalah yang ada didalam cerita. Walau demikian, masih mudah untuk dipahami dan diikuti bagi pemula dalam genre film ini.

Spielberg benar-benar mengerti bagaimana membuai mata penontonnya dalam setiap adegan yang diarahkannya. Entah mengapa, suasana mencekam Berlin Timur ketika Tembok Berlin sedang dibangun menjadi suatu pemandangan yang begitu luar biasa. Adegan disaat pesawat mata-mata Amerika menembus stratosfer, pun tak kalah luar biasa. Padahal saya tau, itu hanya green screen. Tapi tak apa, saya tetap takjub.

Untuk mengakhiri resensi ini, saya memberikan acungan jempol bagi Steven Spielberg, dan tentu saja kepada Tom Hanks. Tanpa Spielberg, cerita dalam novel ini mungkin tak bisa diarahkan dengan sebaik ini untuk menjadi suatu adegan per adegan dalam sebuah film. Namun, tanpa Tom Hanks, karakter James Donovan tak akan sehidup dan sedekat itu dengan para penontonnya. Faktor kedekatan emosional seorang aktor muncul lewat karyanya. Hal ini yang membuat film ini begitu nyaman dinikmati dikala senggang. Salut! Angkat topi untuk film ini!

Resensi Film oleh Muhammad Fachri Darmawan, Staf Berita Video LPM Lentera. Mahasiswa Jurnalistik Fiskom UKSW angkatan 2014.

Penyunting: Galih Agus Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s