Salatiga

Belajar Toleransi dari Salatiga

centrum-van-salatiga

Memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November 2015 lalu, Setara Institute mengeluarkan Indeks Kota Toleran 2015. Seperti dilansir dari Tempo.co, Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani menjelaskan bahwa indeks tersebut bertujuan untuk mempromosikan kota yang dianggap berhasil memperjuangkan toleransi sehingga memicu kota-kota lain untuk mengikuti.

Salatiga berada di urutan kedua dari 10 kota toleran teratas se-Indonesia versi Setara Institute. Penelitian dilakukan terhadap 94 dari 98 kota di Indonesia. Sedangkan empat variabel yang digunakan dalam penelitian tersebut meliputi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Peraturan Daerah, himpunan data dari Komnas Perempuan, serta tindakan pemerintah dalam menindaklanjuti peristiwa, regulasi sosial, dan demografi agama.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Salatiga, Tamam Qoulani mengatakan, Salatiga sebenarnya berpotensi menjadi kota nomor satu atau paling toleran se-Indonesia. Musababnya, sebelum pemerintah membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama pada 2006, di Salatiga sudah terbentuk Majelis Pemuka Agama Salatiga (Majelis Puasa), pada 2002.

“Pemerintah sering mengajak kami (Majelis Puasa –red) bertemu Menkokesra di Semarang,” kata Tamam. Dalam pertemuan itu, pemerintah bertanya alasan dibentuknya Majelis Puasa. “Ya saya jawab, karena Salatiga ingin tercipta umat beragama yang rukun dan nyatanya itu berhasil. Bahkan tidak hanya soal agama, suku-suku yang ada di Salatiga, penduduk dari luar negeri dan warga Indonesia dapat hidup berdampingan dengan baik. Baik secara agamanya, baik juga secara bangsannya,” jelas Tamam.

Menyoal interaksi sosial dan kerukunan umat beragama, Peneliti dibidang sosial dan keagamaan Yayasan Percik, Singgih Nugroho mengungkapkan bahwa, selama ini nyaris tidak ada catatan konfilk yang cukup signifikan terjadi di Kota Salatiga. Baik dilandasi unsur agama maupun etnis tertentu.

“Kalau diluar mungkin ada pihak-pihak yang memainkan isu primordial, namun di Salatiga sepetinya tidak terjadi hal semacam itu. Masyarakatnya pun cukup toleran dalam menerima penduduk dari luar,” imbuhnya.

Sejak dahulu, menurut Singgih, masyarakat di Salatiga cukup majemuk. Meski demikian banyak tokoh agama, etnis, maupun universitas yang cukup berpengaruh dalam menciptakan masyarakat yang toleran.

“Bahkan tokoh-tokoh tersebut mempunyai inisiatif untuk menciptakan forum lintas etnis maupun iman yang cukup membantu dan telah berjalan dengan baik, contohnya ada Forum Gedangan, baru-baru ini juga ada Forum Sobat,” katanya.

Singgih juga menjelaskan, bahwasannya Kepala Daerah juga harus berkomitmen untuk menjaga masyarakat agar tetap toleran. “Karena di berbagai daerah, banyak terjadi konflik dengan adanya provokasi dari pejabat daerah yang dilandasi kepentingan politik,” tukasnya.

Berita ini ditulis oleh Galih Agus Saputra, staf PSDM LPM Lentera, mahasiswa Fiskom 2014.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s