Kampus

Pelopor Perubahan ala Presiden Jancuker

Berturut-turu Sujiwo Tejo (kanan), dosen Fiskom Sri Suwartiningsih, dosen Fakultas Hukum, Christina Maya Indah dan Pamerdi Giri Wiloso (kanan) (Foto : Achmad Fatkur)

Berurutan pembicara Sujiwo Tejo (kanan); dosen Fiskom Sri Suwartiningsih; dosen Fakultas Hukum Christina Maya Indah; dan moderator Pamerdi Giri Wiloso (kanan) (Foto : Achmad Fatkur)

Indonesia saat ini, mengalami banyak permasalahan akut dalam bidang sosial-politik, salah satunya korupsi. Korupsi dapat disebabkan karena kurangnya rasa kepemimpinan dan kecintaan terhadap pekerjaan, serta mahalnya biaya kampanye calon pejabat. Mahalnya biaya kampanye tersebut, dapat menimbulkan politik balik modal. Begitulah hal yang mencuat dalam seminar Speak Up! bertajuk “Pelopor Perubahan” pada Jumat (12/2).

Mahasiswa, yang kerap disebut sebagai agen perubahan, harus memiliki kesadaran untuk menjadi pelopor perubahan. “Kalian mahasiswa Fiskom jurusan Ilmu Komunikasi, dapat berinisiatif memperkecil peluang korupsi dengan membuat sistem kampanye yang murah. Dengan begitu mungkin peluang pejabat korupsi akan berkurang,” saran Sujiwo Tejo selaku pembicara. Seminar yang diadakan di ruang pertemuan Hotel Grand Wahid itu juga dosen Fiskom Sri Suwartiningsih, dan seorang dosen Fakultas Hukum, Christina Maya Indah sebagai pembicara.

Dalam sesi tanya jawab, Sujiwo Tejo menanggapi seorang peserta yang menyinggung mengenai Max Webber, seorang tokoh Sosiologi. “Akademisi di Perguruan Tinggi terlalu terpaku pada filsafat barat. Bahkan kita sendiri tidak menyadari bahwa di Indonesia juga memiliki pemikir yang tak kalah dengan mereka. Di Salatiga pun ada!” tegas budayawan gondrong itu. Ia mengaku kecewa, karena panitia tidak mengetahui makam Ki Ageng Suryomentaram, seorang pemikir Jawa yang pernah tinggal di Bringin. Sujiwo hendak mengunjungi makam Ki Ageng Suryomentaram itu.

Menurut Jessicca Moranggi Tobing, Kepala Bidang II SMF Fiskom, mahasiswa Fiskom membutuhkan orang seperti Sujiwo Tejo agar nantinya mahasiswa Fiskom, dapat kritis terhadap isu sosial-politik yang terjadi serta mewujudkannya dalam aksi nyata. “Rasanya sangat tepat kami memilih Sujiwo Tejo selaku pembicara. Walau ia berlatar belakang matematika, kita tahu bahwa dia adalah budayawan yang sering mengkritisi pemerintah dengan gaya edannya itu,” ujar Jessicca.

Berita ini ditulis oleh Agus Handoko, wartawan magang LPM Lentera.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s