Salatiga

Bendung Mbah Santo, Saksi Bakti kepada Ibu Pertiwi

Peletakan plakat untuk Trisanto Handoyo, oleh Relawan 1001 Pendaki Tanam Pohon (Foto:

Peletakan plakat untuk Trisanto Handoyo, oleh Relawan 1001 Pendaki Tanam Pohon (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Jalan bebatuan dan jutaan lampu kota yang terlihat dari lereng Gunung Ungaran, menjadi pengantar Lentera bersama ratusan relawan lainnya dalam perjalanan menuju Rumah Panggung di Dusun Promasan, Kabupaten Semarang pada, Sabtu (13/2) lalu. Rumah Panggung tersebut, selain dapat ditempuh melalui jalur pendakian Medini, Kabupaten Kendal, juga dapat ditempuh melalui jalur pendakian Mawar, Kabupaten Semarang. Rumah Panggung menjadi titik kumpul para relawan yang tergabung dalam kampanye lingkungan hidup ‘1001 Pendaki Tanam Pohon’.

Keesokan harinya (14/2), matahari mulai menampakan diri. Menyinari hamparan kebun teh, ditemani dinginya udara yang terasa sejuk di sekitaran tenda-tenda kecil milik para relawan. Tidak lama kemudian, terdengar suara sirine dari pengeras suara milik panitia. Itu pertanda agar para relawan segera berkumpul di depan Rumah Panggung.

Tanam pohon kali ini diawali dengan upacara bendera setengah tiang. Hal tersebut dilakukan untuk menghormati salah satu relawan yang telah berpulang pada 6 Februari 2016, yaitu Trisanto Handoyo atau yang akrab dipanggil Mbah Santo. “Meskipun beliau sudah tidak ada, acara seperti ini harus tetap berjalan. Tidak boleh patah semangat dan harus diteruskan,” kata Sinta Srikandi, seorang relawan dari Jakarta.

Ketika di Jakarta, Sinta mengaku kesulitan mencari kegiatan seperti 1001 Pendaki Tanam Pohon. “Tetapi ketika kenal Mbah Santo, saya akhirnya aktif tanam pohon dan diperkenalkan dengan komunitas dari berbagai daerah. Biasanya kalau beliau ada di acara seperti ini, teman-teman menjadi antusias,” imbuhnya.

Usai upacara, panitia memberi arahan kepada relawan mengenai jalur penanaman. Jalur penanaman kali ini, dibagi menjadi 3 jalur sesuai dengan tingkat kesulitan medannya masing-masing. Jalur merah adalah jalur yang cukup terjal, karena letaknya tidak jauh dari puncak Gunung Ungaran. Sedangkan jalur kuning dan hijau relatif lebih mudah ditempuh para relawan, karena masih berada di sekitaran lereng gunung dan tidak jauh dari Rumah Panggung.

Adapun pohon yang ditanam sebanyak 6000 bibit. Semuanya merupakan tanaman endemik Gunung Ungaran seperti Pinus (Cupressus lusitanica), Akasia (Acacia Decurrens), dan lain-lain. Ketua Panitia 1001 Pendaki Tanam Pohon, Wahyu Adi Saputro mengatakan, “Gunung Ungaran dipilih sebagai lokasi penanaman karena gunung tersebut merupakan pemasok air terbesar bagi tiga kabuputen di sekitarnya, beberapa waktu lalu di sini juga sempat terjadi kebakaran.”

Setelah pemberian arahan, para relawan dipersilahkan mengambil bibit yang hendak ditanam sesuai jalur penanamannya masing-masing. Saat berjalan menuju lokasi penanaman, Lentera juga melihat pemandangan yang tidak begitu menyenangkan dipandang. Banyak lahan terlihat gosong, sisa pohon yang terbakar juga berserakan. Pun lahan yang terletak di tepi jurang juga rawan ambles saat diinjak.

Kegiatan ditutup dengan peletakan plakat di bendungan yang terletak di Dusun Promasan. Dahulu, bendungan tersebut pembangunannya juga diprakarsai oleh Mbah Santo dalam program Promasan Bersinar. “Sebenarnya peresmiaannya sudah tahun lalu. Namun, sekarang bendungan pembangkit listrik bertenaga mikrohidro itu kami beri nama Bendung Mbah Santo, karena kami ingin bendungan tersebut menjadi saksi atas bakti kami kepada ibu pertiwi, bersama Guru Besar (Mbah Santo –red) kami,” terang Wahyu.

Peletakan plakat tersebut diiringi dengan isak tangis dari sanak saudara, kerabat, dan relawan dari berbagai komunitas pecinta alam. Kini di sana sudah tertanam kokoh plakat semen bertuliskan, “Bendung Mbah Santo, Pahlawan Gugur Gunung.”

Liputan oleh David Adhyaprawira Nonoputra dan Bagus Muhammad Arifa’Ul. Keduanya wartawan magang LPM Lentera.

Penyunting : Galih Agus Saputra

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s