Laporan Khusus

Dari Tembakau Suyitno, Hingga Pasar Canggal

Dalam-dalam menghisap tembakau kesayangan (Foto : David Adhyaprawira).

Dalam-dalam menghisap tembakau kesayangan (Foto : David Adhyaprawira).

Giginya banyak yang menguning dan rusak. Kalau tersenyum, jijik rasanya, apalagi saat merokok. Walau demikian, ia seorang yang murah senyum. Untuk hal yang tidak lucu pun, ia tetap terkekeh ringan. Begitulah sosok Suyitno Wiyoto, warga Rogomulyo, Kaliwungu, Kabupaten Semarang.

Pria berumur 59 tahun itu bekerja sebagai buruh bangunan. Itupun ia terkadang kerja, terkadang tidak. “Kalau saya berkerja menjadi buruh tani wis ora payu (sudah tidak laku- red) mas,” ujarnya.

Triadi, anak ketiga Suyitno dari enam bersaudara terkadang membantu bapak kerja jadi buruh bangunan. “Saya nggak tertarik bekerja di pabrik, jauh. Tetap bertani, untuk makan sendiri,” ucap Triadi. Sementara istri Suyitno membuat kepang, anyaman dari bambu yang digunakan untuk menjemur gabah hasil panen.

Untuk menghilangkan rasa penat, Suyitno biasa duduk di teras maupun ruang tamu rumah pada sore hari, ditemani teh hangat. Tidak lupa tembakau Boyolali favoritnya, lengkap dengan cengkeh Gaun dan kertas sigaret Tjap Topi.

Ketika Suyitno menawarkan tembakaunya, harum khas tembakau tercium di hidung saya. Terlihat pula kertas sigaretnya tebal sekali, seperti kertas buram. Saya pun sebenarnya juga senang nglinting. Tapi kalau nglinting, saya tidak terbiasa menggunakan cengkeh, begitupun kali ini.

_DSC0446

Santai bersama keluarga di sore hari (Foto : David Adhyaprawira).

Namun, Suyitno menganjurkan saya untuk menggunakan cengkeh. “Gen rodo alus (supaya agak halus –red),” ucapnya. Saya ngotot menolak. Tapi ketika dihisap, rasanya nyesss! Kepala pusing, tenggorokan kering, jantung berdebar, penglihatan berkunang-kunang sedikit. Ampun, ini ‘tembakau setan’. Rasanya lebih ampeg (kuat) ketimbang tembakau biasa.

Saya nyesal tidak menghiraukan anjuran Suyitno. Karena terlalu berat, saya terpaksa menghabis tembakau itu dalam sehari. Saya hidupkan, lalu matikan. Saya hidupkan lagi, lalu matikan lagi. Begitu seterusnya sampai tembakau pemberian Suyitno tidak layak dihisap.

Suyitno sudah terbiasa dengan tembakau yang satu ini. Walau sudah lama merokok, Suyitno mengaku belum pernah asma, sakit tenggorokan, atau sakit lainnya akibat rokok. “Tapi kalau masuk angin gitu, yo wayahe leren udude (ya waktunya berhenti merokok –red) sampai sembuh. Terus merokok lagi,” ujarnya sembari tertawa, lalu menghisap kembali lintingannya.

Tingwe, istilah gaul untuk nglinting dhewe (melinting sendiri –red), menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Suyitno. Mungkin juga dengan warga lainnya. Ketika ia berkerja, ia sering membawa tembakau. Teman kerjanya juga begitu. Terkadang mereka bersama-sama mencicipi masing-masing tembakau yang dibawa.

Itu kalau kerja. Kalau ada hajatan atau acara resmi, sudah beda cerita. Suyitno tidak akan membawa tembakaunya. “Malu mas,” ujarnya sambil tertawa lagi. Supaya bisa tetap merokok dengan gengsi, Suyitno lalu membeli rokok bungkusan. Djarum 76 filter pilihannya. Duh!

***

3 kilometer dari rumah Suyitno, terdapat Pasar Canggal yang terletak di pusat kecamatan Kaliwungu. Pasar yang buka hanya pada pon (salah satu hari dalam kalender Jawa) ini tidak berbeda jauh dengan pasar-pasar di desa lainnya. Ada mbah-mbah yang hanya berjualan gula merah. Ada pedagang asongan yang menawarkan topi atau kain lap. Ada pengamen yang memainkan keroncong. Ada potong rambut yang bersebelahan dengan pasar kambing. Ada-ada saja.

Di pasar inilah Suyitno biasa membeli ‘tembakau Setan’-nya. Setelah berkeliling pasar, cuma ada dua orang yang berjualan tembakau. Satunya ibu-ibu, satunya lagi mbah-mbah. Mereka hanya duduk di emperan pasar. Saya dengan seorang teman, tertarik untuk mendatangi yang mbah-mbah.

Memotong rambut di dekat pasar kambing (Foto : David Adhyaprawira).

Memotong rambut di dekat pasar kambing (Foto : David Adhyaprawira).

“Umur sudah 70 tahunan, le,” ujar Mbah Sarsini. Ia sudah berjualan tembakau selama dua tahun di Pasar Canggal. Sebelumnya dia hanya bertani. Sayangnya saya lupa bertanya kenapa dia berhenti bertani. Yang saya tahu, ia membawa dua plastik super besar berwarna hijau yang berisi gumpalan-gumpalan raksasa tembakau Boyolali.

Mbah Sarsini tidak merokok, tapi nginang (mengunyah pinang –red). Berbeda dengan mbah-mbah putri yang lain, ia tidak menggunakan pinang, tapi tembakau. “Nek mbakone enak yo rasane legi, le (kalau tembakaunya enak ya rasanya manis –red),” ujarnya.

Ia menunjukan plastik hitam yang dibawanya, di dalamnya ada gambir dan njet (kapur), keduanya resep untuk nginang. Diambilnya sedikit tembakau, lalu memperagakan bagaimana ia biasa nginang.

Ketika ditanya berapa harga tembakau yang ia jual, ia mengambil sebongkah besar gumpalan tembakau. “Ini 2 ons punjul (lebih –red), hanya 20 ribu saja,” ujarnya. “Segini saja kepalamu!” saya pikir. Dia hendak membunuh kami atau bagaimana. Itu terlalu banyak.

Berbeda dengan toko tembakau di Salatiga, Mbah Sarsini tidak menggunakan timbangan per ons. Ia mengambilkan tembakau hanya dengan mengira-ngira, lalu tanpa merasa berdosa menyerahkannya ke pembeli.

Karena terlalu banyak, kami hanya mau mengambil setengahnya saja. “Ya sudah 15 ribu  saja,” tawarnya. Kami menolak sekuat tenaga. Kami minta setengahnya saja dan Mbah Sarsini memberikan harga setengahnya pula. Kami mengiyakan.

Mbah Sarsini dan 'tembakau setan'-nya di emperan Pasar Canggal (Foto : David Adhyaprawira).

Mbah Sarsini dan ‘tembakau setan’-nya di emperan Pasar Canggal (Foto : David Adhyaprawira).

Sepulang dari pasar, saya semakin sadar berapa keuntungan yang didapatkan dari korporasi rokok raksasa dan pemasukan negara dari cukai tembakau hingga roda perekonomian berjalan. Seandainya gumpalan tembakau Mbah Sarsini dijadikan rokok biasanya, mungkin bisa jadi ratusan batang.

Dari kebun tembakau hingga ke tangan perokok, sebatang rokok mengalami proses yang sangat panjang untuk hanya sekedar dihisap lalu dibuang puntungnya. Tembakau mengalami peningkatan harga berkali-kali lipat ketimbang membelinya langsung dari petani.

Tapi mbah harus tetap bangun pagi-pagi ke pasar untuk menjual tembakau dan bapak-bapak dengan tenang melinting tembakau kesayangannya. Saya tidak meromantisir, tapi begitulah kehidupan desa. Jauh dari rusuhnya kampanye anti-rokok dan perumusan kebijakan yang merugikan petani tembakau. Hmm…

Laporan ini ditulis oleh Bima Satria Putra, Pemimpin Redaksi LPM Lentera.

Penyunting : Andri Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s