Kampus

Menyoal Indonesia Menurut Indonesia

Dari kiri ke kanan, Sri Suwartingsih sebagai moderator, dan Juliari Peter Batubara serta Hanny Setiawan sebagai pembicara dalam Talkshow Sudahkah Kita Merasa Menjadi Warga Negara Indonesia?, di lantai 7, Gedung Perpustakaan UKSW (Foto: Muhammad Fachri Darmawan).

Dari kiri ke kanan, Sri Suwartingsih sebagai moderator, dan Juliari Peter Batubara serta Hanny Setiawan sebagai pembicara dalam Talkshow Sudahkah Kita Merasa Menjadi Warga Negara Indonesia?, di lantai 7, Gedung Perpustakaan UKSW (Foto: Muhammad Fachri Darmawan).

“Indonesia menurut Indonesia merupakan salah satu matakuliah di Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana. Bukan Indonesia dari kacamata agama islam, bukan juga Indonesia dari kacamata Amerika. Namun Indonesia dari kacamata orang Indonesia,” kata rektor UKSW, John Titaley saat memberi sambutan dalam Talkshow Kewarganegaraan, di lantai 7, Gedung Perpustakaan UKSW, Selasa (8/3).

Talkshow yang diadakan Bidang I, Senat Mahasiswa UKSW tersebut mengangkat tema Sudahkah Kita Merasa Menjadi Warga Negara Indonesia?, untuk memantapkan mahasiswa agar lebih mengerti hakikatnya sebagai warga negara. Sedangkan Anggota Komisi VI DPR RI, Juliari Peter Batubara, dan Pendiri Solo Mengajar, Hanny Setiawan tampil sebagai pembicara.

Saat talkshow berlangsung, Juliari dan Hanny menanggapi pernyataan John. “Jika bersumber pada pasal 35 dan 36 UUD 1945, identitas Indonesia adalah bendera merah putih, lambang negara Garuda Pancasila, bhinneka tunggal ika, dan dasar negara Pancasila,” kata Juliari atau yang akrab dipanggil Ari.

Meski demikian, lebih lanjut Ari mengatakan bahwa intisari dari Indonesia adalah gotong royong, yang dianggapnya hampir hilang di masyarakat saat ini. “Sifat gotong royong hampir hilang, tergantikan dengan sifat-sifat yang sarat akan kepentingan tertentu,“ imbuhnya.

Berbeda dengan Ari, Hanny menganggap bahwa Indonesia terdiri dari tiga jenis nasionalisme, yaitu, nasionalisme kebangsaan, nasionalisme etnis, dan nasionalisme agama. Tiga hal tersebut tidak bisa dilepaskan karena sudah ada di tiap individu. “Keetnisan dan agama tidak bisa dihilangkan karena masing-masing individu memiliki jati diri tersebut. Namun tetap ingat nasionalisme yang utama tertuju pada nasionalisme kebangsaan, yaitu, Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Hanny.

Hanny juga mengatakan bahwa setiap warga harus memiliki tiga kunci utama untuk menjadi warga negara Indonesia yang sesungguhnya. “Pertama, menganggap Indonesia itu penting. Kedua, yakin bahwa kita bisa melakukan sesuatu untuk Indonesia. Serta ketiga, nyaman dan bangga menjadi warga negara Indonesia,” jelasnya.

Berita ini ditulis oleh Rahayu Pawarti, wartawan LPM Lentera. Mahasiswa Komunikasi-Jurnalistik, Fiskom angkatan 2014.

Penyunting : Galih Agus Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s