Uncategorized

Cerita Dalam Ruang Hampa

Processed with VSCO

Ruang yang mereka bilang kosong, disana ada seorang anak. Anak yang cukup aneh. Dalam ruang yang mereka bilang penjara, anak itu bermain. Bermain dengan pola pikir yang tidak sesederhana usianya. Batu tulis dan dinding. Terkadang, dia hanya duduk diam tepat di dekat celah ventilasi. Sesekali mengintip untuk melihat anak lain dan permainan mereka.

Mereka tidak pernah tau. Setiap hari anak itu mendengar. Puluhan orang saling berteriak tanpa tau apa yang mereka teriakkan. Anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Sesekali mereka memaki jika tidak sesuai harapan. Ketika itu si anak menangis. Ingin rasanya dia keluar dari sana. Melantunkan kekesalan pada mereka yang selalu ingin didengar tanpa berusaha untuk mendengar.

Namun, dia tidak setiap waktu menangis. Ada kalanya dia tersenyum. Tersenyum melihat beberapa anak tetap bermain dengan gundu dan karet gelang. Dia iri. Mereka bisa dengan mudah berceloteh. Ceria, ringan, polos, dan mungkin jujur. Mungkin. Dia sendiri tidak tahu definisi jujur seperti apa yang mereka pegang.

Dalam hati dia bertanya, kejujuran dan kepolosan mereka, entah sampai kapan akan bertahan. Sampai waktu dan pengalaman mengubah mereka menjadi ‘lebih manusiawi’ versi mereka yang menyatakan diri sebagai manusia? Atau sampai waktu mereka terenggut oleh mereka yang punya kuasa?

Sementara itu, anak lain memilih diam. Dalam ruang yang mereka anggap paling bersih, paling aman, dan paling benar. Sebuah ruang bernama keapatisan. Ruang yang diciptakan oleh mereka yang tidak suka keceriaan dan kejujuran. Atau ruang yang mereka sendiri ciptakan agar tidak melihat kenyataan?

Terkadang anak itu tertawa. Entah karena lucu melihat kejadian di luar sana, atau menertawakan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bisu. Bukan karena Tuhan menciptakannya demikian, tetapi karena mereka yang takut untuk mendengar dan mereka yang hilang setelah ingin didengar. Diam di dalam ruang yang tidak pernah dianggap penting karena kosong. Tidak pernah ada suara yang terdengar dari sana.

Namun anak itu bersyukur. Meski tidak ada yang tahu siapa dan dimana dia, masih ada dinding dan batu tulis yang tahu kisahnya dalam ruang kosong itu. Meski tidak bisa bersuara, mereka mampu merekam cerita, tanpa seorang pun tahu kenangan apa yang ada disana. Coretannya adalah suaranya. Tentang mereka yang acuh, tidak tahu, rakus, dan seolah bijak tetapi berlaku tidak adil pada mereka yang lain. Tidak ketinggalan sedikit goresan tentang dia yang melihat, mendengar, dan merasakan, tetapi takut untuk didengar. Dirinya sendiri. Goresan tebal bertuliskan ‘SAMPAI KAPAN AKU BERHENTI JADI PENGECUT?!’.

Cerita ini bukan dongeng. Ini tentang kami yang menamakan diri sebagai agen perubahan, calon pemimpin masa depan. Kami yang baru belajar tetapi sudah berasa tahu segalanya hanya karena sebuah gelar ‘besar’. Maha yang diikuti kata siswa. Siswa yang besar. Besar pengetahuannya? Besar gengsinya? Besar kepalanya? Atau hanya besar badannya? Entahlah…

Ketika diam tidak menghasilkan apa-apa, diam juga tidak merubah apa-apa. Ketika kejenuhan berujung apatis, mungkin butuh sedikit angin segar untuk mengusir rasa jenuh tanpa sentuhan magis. Ketika suara menjadi alasan seseorang kehilangan dirinya, mungkin perlu suara lain, untuk mengingatkannya kembali. Dan ketika suara lain dianggap mengusik, mungkin mereka hanya perlu piknik. Terlalu lama duduk di sofa membuat mereka lupa bahwa sofa itu bukan milik mereka.

 


Satire ini ditulis oleh Rahayu Pawarti, Mahasiswa Jurnalistik Fiskom UKSW 2014.
Penyunting : Alexio Alberto Cesar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s