Salatiga

Cabut Saja, Ada Hukumnya Kok!

Salah satu partisipan ASU Lingkungan sedang melepas iklan joki skripsi, di Jalan Kartini (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Salah satu partisipan ASU Lingkungan sedang melepas iklan joki skripsi, di Jalan Kartini (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

“Itu lho (sambil menunjuk papan iklan joki skripsi yang menancap di pohon –red), yang seperti itu nanti cabut aja nggak masalah. Lha ada hukumnya kok! Sebelum dicabut, difoto dulu untuk diunggah ke Facebook. Biar nanti kalau ada yang protes, bisa dijelaskan maksud kita,” tegas Erik Darmawan, Koordinator ASU Lingkungan pada ASU Lingkungan Action #2, Sabtu (19/03).

Menurut Husen Abdul Jabar, Ketua Penyelenggara ASU Lingkungan #2 Action, iklan-iklan yang dipasang dengan paku di badan pohon adalah tindakan yang menyakiti pohon. “Memang efek jangka pendeknya tidak ada, tapi ketika paku itu berkarat pada tubuh pohon, justru memperpendek umur pohon,” ujar Husen. Selain itu, pemakuan pohon merupakan tindakan yang melanggar UU No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Walikota Salatiga, Yuliyanto juga sempat hadir sebelum kegiatan dimulai. Ia memberikan sedikit sambutan, “Saya sangat berterimakasih pada seluruh relawan dan semoga kegiatan seperti ini (ASU Lingkungan –red) bisa dilakukan rutin,” ujarnya. Kemudian ia berfoto bersama relawan yang hadir. Dengan antusias saya melihatnya berani membaur dengan masyarakat.

Pak Walikota, membaurlah dengan kami (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Pak Walikota, membaurlah dengan kami (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Kaosnya nggak cukup, Pak Yul. (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Kaosnya nggak cukup, Pak Yul. (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Sesuai dengan jadwal, pukul tiga sore sudah banyak relawan yang berdatangan membawa peralatan berupa tang, linggis, dan karung. Mahasiswa pecinta alam, komunitas lingkungan, lembaga pers mahasiswa, dan masih banyak komunitas atau organisasi dalam bidang lain turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Para relawan pun dibagi menjadi empat kelompok secara acak. Kelompok pertama mengarah ke Jalan Moh. Yamin (kantor pos), sedangkan kelompok kedua mengarah ke Jalan Pemotongan lalu melewati Lapangan Pancasila. Kelompok ketiga mengarah ke Jalan Osamaliki lalu melewati Lapangan Pancasila juga dan kelompok terakhir mengarah ke perempatan Jetis hingga melewati Jalan Monginsidi. Semua kelompok akan kembali ke Selasar Kartini.

Cabut saja, ada hukumnya kok! (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Cabut saja, ada hukumnya kok! (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Ayo mas, saya gendong kamu cabut paku (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Ayo mas, saya gendong kamu cabut paku (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Para pegiat lingkungan terlihat tidak luntur semangatnya walau cuaca mendung dan turun gerimis. Mereka segera berangkat dengan kelompoknya masing-masing. Selain mencabuti paku dan papan iklan dari pohon, mereka juga memungut sampah di sekitarnya sembari membawa kotak donasi keliling.

Ketika saya sibuk berburu foto dari atas motor, ada seorang pria yang sempat kesusahan mencabut paku karena terlalu tinggi menancap di pohon. Sontak saya turun, lalu memberi bahu untuk ditunggangi. “Yang penting kecabut,” pikirku. Namun ada pula paku yang tidak bisa di cabut karena terlalu dalam menancap dan sudah menyatu dengan pohon tersebut.

Setelah aksi cabut paku dan Resik Kutha selesai, para relawan diberi waktu sejenak untuk beristirahat. Mendung perlahan tersingkirkan dari hadapan langit senja. Semilir angin yang bertamu, menyejukan saya dan relawan lainnya setelah dua jam berkeliling berburu paku dan sampah.

“Paku-paku dan sampah ini nanti akan disatukan dan dijadikan instalasi untuk acara penutup ASU Lingkungan yang bertepatan pada Hari Bumi 22 April 2016,” ujar Husen. Instalasi yang akan dibentuk nantinya berupa lampion, ogoh-ogoh, dan instalasi lainnya.

Sembur api sana-sini (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Sembur api sana-sini (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Penonton terpaku pada gerakan penari di tengah-tengah semburan api (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Penonton terpaku pada gerakan penari di tengah-tengah semburan api (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Bingung kasih caption (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Bingung kasih caption (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Dibuang sayang (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Dibuang sayang (Foto: David Adhyaprawira Nonoputra)

Pertunjukan api dan perkusi jimbe oleh Malinke yang menjadi penutup kegiatan hari tersebut, semakin mencuri perhatian masyarakat umum. Ditambah dengan seorang penari perempuan, yang tidak henti-hentinya mengayunkan telapak tangan maupun panggul mengikuti ketukan jimbe yang enerjik didengar telinga. Lantai Selasar Kartini dan atap jip ambulan Salatiga Peduli-pun jadi panggungnya.

Lalu lintas sempat macet karena ramainya orang yang berhenti di sembarang tempat dan menonton hanya dari jok sepeda motornya. Panitia langsung berinisiatif mengatur tata letak penonton agar jalanan tidak macet dan kembali lancar.

Seperti biasanya, salah satu acara pra-Hari Bumi ini dilaksanakan agar masyarakat lebih menghargai dan melek lingkungan. Semoga pepohonan di Indonesia bebas dari paku dan apapun yang menyakiti pohon demi kepentingan sendiri. Semoga, dalam semoga ada usaha. Salam lestari!

Laporan ini ditulis oleh David Adhyaprawira Nonoputra, wartawan magang LPM Lentera.

Penyunting : Bima Satria Putra dan Andri Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s