Kampus

Warsita, Pikun dan Caping Gunung

Warsita, nenek pikun yang selalu merindukan suami dan anak-anaknya (Foto: Tomi Utoyo).

Warsita, nenek pikun yang selalu merindukan suami dan anak-anaknya (Foto: Tomi Utoyo).

Warsita berjalan dengan membungkuk sambil terbatuk, sesekali syalnya melorot dari lehernya. Musik keroncong sayup-sayup mengiringi lagu Caping Gunung. Tidak seperti lagu Bengawan Solo, lagu ciptaan Gesang Martohartono yang satu ini tidak terlalu populer, apalagi di kalangan anak muda. Begini liriknya, “Ndek jaman berjuang, njur kelingan anak lanang. Biyen tak openi, gek saiki ono ngendi?” Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya, “Zaman masih susah dulu mengatkan pada anak laki-laki. Dulu aku merawatnya, lalu sekarang ada dimana?”.

Petikan lagu Caping Gunung tersebut memang sangat pas bagi Warsita, nenek pikun yang setiap hari merindukan suaminya yang telah tiada. Kadang ia mengira suaminya belum pulang kerja. Kadang ia lupa kalau kopi susu kesukaan suaminya tak akan diminum siapa-siapa. Bingkai foto di meja ruang tamunya pun selalu ia ratapi sebagai penawar rindu dan pereda pilu.

Ketiga anak Warsita juga sepertinya tak pernah berkunjung ataupun sekedar berkabar via telepon. Ratri, Randu, dan Respati, sibuk dengan urusan dan keluarga masing-masing. Hanya Warni dan Paijo, dua orang pembantu di rumah yang setia mengiyakan permintaan-permintaan Warsita.

Pementasan Gebyar Teater Tilar (GGT) 2016 ini nampaknya memang dekat dengan cerita kehidupan sehari-hari. Anak seringkali terlalu sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangganya hingga lupa untuk bersua dengan orang tua. Naskah “Pikun” garapan anak-anak Teater Tilar Fakutas Ekonomika dan Bisnis (FEB) ini berhasil menarik perhatian puluhan penonton di Lapangan Basket UKSW, Kamis (31/3) malam.

Rindu Randu

Randu namanya, anak kedua Warsita. Warsita bilang, “Randu itu paling bandel. Pasti dia sedang keluyuran malam-malam begini”. Namun, lanjut Warsita, Randu itu paling mirip dengan ayahnya. Semua keinginan Randu harus terpenuhi dan ia mempunyai tekad yang kuat. Meski paling menjengkelkan, Randu itu anak paling disayang.

Di panggung yang berbeda, instalasi rumah Randu dibuat dengan rapih. Randu dan istrinya, Arum, tinggal dan telah memiliki usaha sendiri. Arum sebenarnya ingin sekali bertemu dengan ibu mertuanya. Ia selalu membujuk Randu untuk mengunjungi Warsita. Namun, Randu tetap bersikukuh tidak ingin bertemu karena berpikir bahwa orang tuanya tidak sayang kepadanya, padahal sebaliknya. Anak yang paling nakal dan susah diatur, terkadang malah menjadi anak kesayangan dan selalu dirindukan orang tua.

Randu dan istrinya, Arum, berbincang di depan rumahnya (Foto: Tomi Utoyo).

Randu dan istrinya, Arum, berbincang di depan rumahnya (Foto: Tomi Utoyo).

Kalau dilanjutkan lagu Caping Gunung, liriknya seperti ini, “Jarene wes menang, keturutan sing digadang. Biyen ninggal janji, gek saiki opo lali?” Lirik tersebut artinya, “Katanya sudah berhasil, tercapai apa yang diinginkan. Dulu sudah berjanji, apa sekarang sudah lupa?”.

Randu yang sempat lupa, kini sadar bahwa sebenarnya ia juga merindukan orang tuanya. Orang tua memang terlihat tua dan pikun. Akan tetapi, terkadang seorang anak bisa lebih pikun dari orang tua yang pikun. Anak sering lupa, siapa yang merawat dan membesarkanya dulu. Anak sering pikun, dimana tempat pulang semasa kecil. Pikun memang bisa menyerang siapa saja. Duh.

Andika Arma Saputra, sutradara pementasan naskah “Pikun” ini mengatakan, “Seringkali anak pergi meninggalkan orang tuanya. Namun Randu kembali karena melihat orang tua yang sudah membesarkanya dulu kini sakit dan pikun. Ini bisa menjadi pesan bagi anak-anak muda.”

Liputan ini ditulis oleh Andri Setiawan, mahasiswa Jurusan Jurnalistik angkatan 2014 Fiskom, UKSW.

Penyunting: Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s