Laporan Khusus

Memetik Sayur Segar Desa Batur

Aku dipinta Pitoyo Ngatimin untuk membaui Paprika yang sedang ditanamnya. “Gimana? Harum?” tanyanya. Manis pikirku.

“Ini dibuat dari tetes tebu dan gula. Untuk mengusir serangga yang sering menyerang tanaman,” jelasnya. Pestisida yang ia gunakan lebih ramah lingkungan ketimbang pestisida yang dijual di toko-toko pertanian. Serangga mungkin tidak mati, tapi bakal menghindar dari tanaman.

Pitoyo Ngatimin, Petani organik desa Batur (Foto : David Adhyaprawira).

Pitoyo Ngatimin, Petani organik desa Batur (Foto : David Adhyaprawira).

Pitoyo Ngatimin adalah salah satu pegiat pertanian organik di Desa Batur, Getasan, Kabupaten Semarang. Kepadaku, ia menjelaskan memilih pertanian organik karena produk yang dihasilkan lebih sehat. “Selain itu, ya… karena kekurangan modal,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Trangulasi itu sembari tertawa ringan.

Sebagai petani organik, Pitoyo tidak akan menggunakan bahan kimiawi sintetis apapun terhadap tanamannya. Semuanya ia produksi sendiri atau ia beli dari rekan di Gapoktan Trangulasi yang memproduksi. Ada beragam produk yang mereka hasilkan, mulai dari pupuk hingga pestisida.

Aku sempat berkeliling desa Batur untuk melihat bagaimana pertanian organik mereka terapkan. Ada seorang petani yang mengangkut sebakul tahi sapi yang bau di atas kepalanya. Aku sempat khawatir akan resiko kesehatan yang bakal dialami. “Tidak apa-apa. Tidak ada masalah dengan itu. Mereka sudah terbiasa dan tidak ada sakit-penyakit yang timbul,” tenang Pitoyo.

Melihat tahi lebih dekat (Foto : Arya Adikristya).

Melihat tahi lebih dekat (Foto : Arya Adikristya).

Sebelum 1998, Pitoyo sebenarnya juga petani anorganik. “Tapi sejak dulu saya kurang senang dengan bahan kimia yang digunakan teman-teman petani yang lain,” ujarnya.

Sebelum Gapoktan Trangulasi terbentuk, ia berupaya mengajak petani lain di desa Batur untuk berpindah ke organik. “Salah satu caranya saya buktikan dengan lahan ini (sambil menunjuk tempat ia berdiri –red),” jelasnya.

Pada 2002, Gapoktan Trangulasi terbentuk. Namun belum organik. Gapoktan Trangulasi menjadi pertanian organik pada 2004 dan mulai menolak subsidi pupuk dari pemerintah. Sekarang Gapoktan Trangulasi sudah tersertifikasi sebagai pertanian organik.

Mendapat sertifikasi pertanian organik bukan perkara mudah. Banyak hal yang harus diperhitungkan, mulai dari bibit, pupuk, pestisida, lokasi lahan, bahkan air yang digunakan. “Makanya kalau di dataran rendah susah pertanian organik ya pak? Kan, banyak berdiri industri dan perumahan yang buat cemar lingkungan?” tanyaku. Pitoyo hanya mengangguk.

Pitoyo menjelaskan bahwa salah satu tantangan saat ini adalah mempertahankan idealisme pertanian organik. “Karena terkadang, ada beberapa petani yang kembali ke anorganik,” ujarnya lagi.

Pitoyo berusaha agar anggota Gapoktan tetap konsisten menerapkan pertanian organik. Salah satunya dengan menyediakan pasar bagi produk sayuran mereka. “Kalau pasar tersedia, mereka pasti konsisten,” ujar Pitoyo.

Mengemas sayur siap kirim (Foto : David Adhyaprawira).

Mengemas sayur siap kirim (Foto : David Adhyaprawira).

Sekarang, Gapoktan Trangulasi berhasil mengekspor produk pertaniannya hingga ke Singapura dan Malaysia. Selain itu, produk mereka secara rutin dikirim ke Superindo dan tersebar ke Yogyakarta, Solo, Magelang dan Surabaya. Komoditas pertanian yang mereka hasilkan tidak sebatas sayur-sayuran saja, tapi juga dari daun-daunan, akar-akaran dan buah-buahan.

***

Rekan liputanku, David, kemudian menunjuk salah satu tanaman yang kemarin habis dipanen Pitoyo. “Ini namanya pak-choi. Sayur dari daratan Cina,” ujar Pitoyo.

“Ya, enak itu buat salad atau dimasak dengan mie,” sambung David. Pitoyo menawari kami untuk mengambil sisa-sisa pak-choi segar yang tidak ia panen. David mengambil banyak sekali untuk dibawa pulang.

Selesai liputan, kami kembali ke kantor redaksi dan memasak mie dicampur pak-choi yang kami panen. Rasanya segar sekali! Karena terlalu banyak, sisa pak-choi itu kubuang ke kebun, supaya jadi pupuk organik. Hehe 🙂

Liputan ini ditulis oleh Bima Satria Putra, Pemimpin Redaksi LPM Lentera.

Penyunting Tamu : Arya Adikristya

Iklan Lentera 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s