Salatiga

Geliat Generasi Hijau

Prosesi pembakaran ogoh-ogoh (raksasa) perusak lingkungan (foto: David Adhyaprawira)

Prosesi pembakaran ogoh-ogoh (raksasa) perusak lingkungan (foto: David Adhyaprawira)

Satu rusa menunduk, mulutnya di rumput, dua lainnya kepalanya tegak. Tubuhnya transparan, sedang matanya biru, di punggungnya tumbuh bibit tanaman. Itulah rusa-rusa yang ada di Taman Kota Bendosari, Salatiga. Semuanya terbuat dari limbah botol air mineral dan menjadi instalasi Aksi Seni Untuk Lingkungan (ASU Lingkungan) 2, Sabtu-Minggu, (23-24/4).

Ada juga instalasi manusia pemanggul bumi di sana. Yang kontras dengannya adalah instalasi raksasa perusak lingkungan. Dia bertaring, matanya bulat tajam, tangan kirinya gergaji, sedang yang kanan alat pengeruk (bucket) eskavator. Tingginya melebihi manusia pemanggul bumi. Bajunya berhiaskan dasi, juga bertuliskan Lapindo, industri semen, reklamasi, dan PLTU. Tampak gagah dan kekar, nanti dibakar.

Menurut Eric Setyo Darmawan, Kordinator ASU Lingkungan, kegiatan tersebut adalah gerakan yang dibentuk atas dasar keprihatinan relawan dari lintas organisasi terhadap kondisi agraria di Indonesia selama ini. “Kami ingin mengedukasi masyarakat tentang kondisi agraria di Indonesia yang semakin kritis,” imbuhnya.

Dari sebelah kiri manusia pemanggul bumi, muncul belasan anak membawa kertas ukuran A4. Dua di antaranya menulis pesan “Indahnya Bumi Ini,” dan “Bumiku Menghitam Karena Batu bara.” Dinar Bayu, Community Campaigner Greenpeace Indonesia, yang mengkordinir anak-anak tersebut mengatakan bahwa, anak-anak perlu ditanamkan arti pentingnya menjaga lingkungan. “Kalau sudah mulai menanamkan kepada mereka, ya nantinya akan terbawa sampai dewasa,” katanya.

***

Hari pertama ASU Lingkungan 2 diisi dengan pentas seni musik, teater, musikalisasi puisi, tari-tarian, dan diskusi tentang lingkungan. Saung Suara misalnya, menampilkan kolaborasi musikalisasi puisi dengan Candra alias Tung Tung. “Tanah, air, pohon, udara adalah nyawa,” begitu serunya.

Gading Suryadmaja, pemain akustik, tampil untuk mengenang Trisanto Handoyo alias Mbah Santo, aktivis lingkungan Salatiga yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Para relawan dan penonton maju untuk duduk di muka panggung. “Saya bukan orang yang begitu dekat dengan Mbah Santo, tapi saya mengagumi beliau,” ujarnya.

Setelah Gading, tampil The The The, band Punk Rock asal Temanggung. “Kami juga juga bikin lagu di hari bumi ini. Judulnya Sesembarang Sampah,” kata Sandy Adianto, basis dan vokalis band The The The. Sesembarang Sampah, kata Sandy, mengkisahkan lahan-lahan yang telah dijamah tangan-tangan korup.

Iksan Skuter, pemain akustik solo asal Malang, tampil sebagai bintang tamu dalam malam pertama. Kedatangan Iksan di ASU Lingkungan 2 kala itu, juga bertepatan dengan tur albumnya yang kelima, yaitu Benderang Terang. Salatiga adalah kota ke 11 dari 12 kota yang ia singgahi.

“Di antara kota-kota yang saya kunjungi, kota ini (Salatiga –red) paling keren. Gayeng,” katanya. Menurutnya, acara seni yang mengangkat isu lingkungan itu jarang diadakan di Malang. “Adapun paling dalam kantong-kantong kecil, dan bukan acara seperti ini tapi diskusi. Lha kalau di sini lain. Musik berfungsi sebagai media menyampaikan pesan lingkungan,” jelas Iksan.

Iksan mengaku resah dengan konflik agraria yang belakangan ini banyak terjadi. Ia berharap agar ASU Lingkungan terus belanjut dan rutin diadakan tiap tahun. Menurutnya, banyak musisi dengan kegelisahan yang sama. “Soal konflik, tahun ini juga banyak isu yang perlu dikawal. Ada kasus PLTU di Batang, semen di Rembang, pasir di Lumajang, Banyuwangi, lalu Kulon Progo,” imbuhnya. Menurut Iksan, kelangsungan hidup petani lokal pun perlu dikawal. “Karena itu dalam tur ini, saya jual kopi yang saya beli dari petani lokal, di Dampit, Malang,” katanya.

Setelah itu, tampil kolaborasi band reggae se-Salatiga, yang tergabung dalam Salatiga Reggae United (Saru). Penonton penuh di muka panggung kala itu, mereka menari dan turut menyanyikan lagu sang legendaris Bob Marley, One Love dan lagu Gombloh, Berita Cuaca.

Ikrar Generasi Hijau Indonesia

Api membumbung tinggi, setinggi panggung ASU Lingkungan, kala raksasa perusak lingkungan dibakar sejumlah penari api dari Omah Sekuyung, Trisala, dan FKWMA malam itu. Prosesi pembakaran raksasa tersebut, pun diiringi tabuhan genderang (djembe) dari grup musik ansambel, Malinke.

Denny Helleweh, begitu sapaan akrabnya, yang menjadi koreografer tari api mengatakan, “pembakaran ogoh-ogoh (raksasa) perusak lingkungan dilakukan sebagai simbol penolakan terhadap segala bentuk perusakan alam.” Kini, perusak alam telah habis terbakar dan menjadi abu. Penonton bersorak. “Mampus,” teriak salah satu penonton, terdengar di antara keramaian.

Tak lama kemudian, muncul dua penari. Seorang lelaki menari sambil membawa bibit tanaman, yang perempuan menari sambil membawa kendi. Bibit tanaman diletakan di atas abu raksasa yang telah habis terbakar. Penari perempuan kemudian menyiraminya dengan air dari dalam kendi, juga membasahi bara api yang belum mati. Terdengar bunyi, cesss, kala bara itu dibasahi. Asap tipis mengepul.

Inti dari tarian itu adalah, “kita harus menjaga bumi beserta isinya,” kata Dian Krisnawati, penari perempuan, yang belakangan diketahui menjadi simbol dewi air. Penonton kembali bersorak dan bertepuk tangan.

Yulianto, walikota Salatiga yang turut hadir malam itu, ikut bertepuk tangan. Ia datang mengenakan baju polo berwarna putih. Bersama penonton dan relawan, ia turut berdiri di muka panggung usai prosesi pembakaran raksasa perusak lingkungan. Setelah itu, ia juga turut menyerukan ikrar generasi hijau indonesia.

“Atas nama bumi yang kami pijak, kami siap menjaga dan melestarikan alam yang kami tinggali”

“Atas nama bumi yang kami huni, kami siap melawan dan menolak keras, segala macam bentuk perusakan lingkungan, atas nama apapun”

“Atas nama bumi yang menghidupi kami, kami akan terus berbuat dan bereaksi, untuk bumi yang lebih hijau”

Malam ikrar generasi hijau indonesia (foto: David Adhyaprawira)

Malam ikrar generasi hijau indonesia (Foto: David Adhyaprawira)

***

Burung bercicit. Matahari perlahan meninggi, tampak genit. Ada yang menyeduh teh atau kopi. Ada juga yang bersiap untuk mandi. Di tangga utama, ada ibu, anak, dan bapak sehabis jogging. Itu adalah pemandangan di Taman Kota, kala minggu pagi.

Sedangkan Bonang, begitu sapaan akrab seniman cukil kayu Akar Merdeka dari Blora, pagi itu telah sibuk dengan tinta dan papan xilografi. Xilografi (xylografi) dalam seni grafis merupakan teknik cetak relief, dimana gambar berasal dari pahatan permukaan papan kayu. “Seni ini adalah bentuk perlawanan kami, misi yang kami bawa adalah air,” kata Bonang.

Kala itu, banyak pengunjung dan relawan yang datang ke tenda, tempat Bonang bermalam. Mereka mengikuti lokakarya cukil kayu yang diberikan oleh Bonang dan kawan-kawannya. Ada juga yang membawa baju untuk dicetak. “Kami akan terus melakukan perlawanan, nanti orang-orang di kampung sekitar akan kami ajari membuat karya seni ini,” imbuh Bonang.

Tidak kalah sibuk, Sentot Supriyanto dan kawan-kawannya dari komunitas Suket Teki sedang bermain balok berbahan dasar plastik dan lilin. Mereka mengolah limbah polietilena (polimer yang menjadi bahan baku pembuatan kantong plastik) menjadi karya seni dengan mencairkan plastik yang dicampur lilin, dan ketika sudah beku dipahat. “Kami pada dasarnya sangat resah dengan sampah plastik yang sulit terurai,” kata Sentot. “Nyebahi,” sahut temannya.

Bonang dan kawannya, kala memberi lokakarya cukil kayu (Foto: Galih Agus)

Bonang dan kawannya, kala memberi lokakarya cukil kayu (Foto: Galih Agus)

Sejumlah anak sedang mengikuti lokakarya polietilena, yang di berikan Sentot Supriyanto (Foto: Galih Agus).

Sejumlah anak sedang mengikuti lokakarya polietilena, yang di berikan Sentot Supriyanto (Foto: Galih Agus).

***

Hari kedua ASU Lingkungan 2 juga menampilkan pentas seni musik. Ms. Wiwik, band Ska Salatiga bersama Greenpeace Indonesia mengkampanyekan tagar BreakFree, yang banyak dijumpai di media sosial –Facebook dan Twitter sebagai respon atas polusi udara yang dihasilkan dari pembangkit listrik berbasis batu bara. “Di acara ini, kami mendukung sepenuhnya kelestarian bumi,” kata Andi Kriswantoro, vokalis Ms. Wiwik.

Beberapa waktu lalu, kata Andi, Ms. Wisik juga sempat singgah di Batang dan melihat kondisi masyarakat setempat yang sedang berhadapan dengan proyek pembangunan PLTU. “Kami temani masyarakat disana, kami ikut jaga ladang dan sawah,” jelasnya.

Kampaye BreakFree oleh MS. Wiwik (Foto: Dok. Akar Merdeka).

Kampaye BreakFree oleh Ms. Wiwik (Foto: Dok. Akar Merdeka).

Santi Cikal, pengunjung dari Semarang, mengapresiasi ASU Lingkungan. “Kreatif, saya pikir masyarakat akan semakin peduli dengan lingkungan jika acara seperti ini rutin diadakan,” katanya.

ASU Lingkungan 2 ditutup dengan penampilan Sisir Tanah dilanjut dengan grup musik Dendang Kampungan, keduanya dari Jogjakarta. Malam itu, Danto, vokalis Sisir Tanah, membawakan lagu untuk para relawan, yaitu Harus Berani. “Lagu ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang telah memilih jalan hidupnya sebagai alat kontrol sosial, medium penyadaran publik, membawa perubahan sosial supaya orang-orang melihat dengan mata yang jernih,” katanya di atas panggung.

Sedangkan Dendang Kampungan, malam itu juga sempat bernyanyi untuk perempuan-perempuan di Rembang, yang telah lebih dari 366 hari hidup di tenda untuk menolak pembangunan pabrik semen. “Tolak tambang, jaga rembang,” begitulah penggalan bait lagu, yang dibawakan Dendang Kampungan.

Berita ini ditulis oleh Galih Agus Saputra, staf Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPM Lentera. Mahasiswa Komunikasi-Jurnalistik, Fiskom UKSW.

Penyunting: Bima Satria Putra

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s