Salatiga

Membongkar Bias Gender dalam Naskah Berita

Dewi Candraningrum, Pemred Jurnal Perempuan dalam lokakarya "Jurnalis Kampus Meliput Keberagaman" di Salatiga (Foto: Galih Agus Saputra).

Dewi Candraningrum, Pemred Jurnal Perempuan dalam lokakarya “Jurnalis Kampus Meliput Keberagaman” di Salatiga (Foto: Galih Agus Saputra).

“Perspektif gender dapat dilihat dengan membongkar motif maupun modus yang dibawa oleh penulisnya,” ujar Pemred Jurnal Perempuan, Dewi Candraningrum. Dewi menjelaskan bahwa pembongkaran dapat dilakukan ketika pembaca memaknai secara dalam, konten maupun narasi yang dibawa dalam tulisan tersebut. Dia juga menekankan ketika proses pemaknaan ini, pembaca tidak diperbolehkan menafsirkan naskah hanya dengan beberapa bagian maupun kata yang subyektif, seperti cantik atau seksi, untuk menentukan apakah tulisan berperspektif gender atau tidak. Begitu Dewi menjelaskan materi “Perempuan dan Media” dalam sesi lokakarya “Jurnalis Kampus Meliput Keberagaman” oleh Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) yang dilaksanakan di Hotel Grand Wahid, Salatiga pada Jumat-Minggu (01-03/09).

Menurut Dewi, media arus utama Indonesia acap kali menggunakan konsep bahasa yang kabur dalam mewartakan isu yang bertautan dengan masalah gender, seperti cabul atau mesum. Dewi juga mewanti-wanti agar jurnalis tidak terjerat dalam penggunaan bahasa yang akan berdampak pada korban pemberitaan. “Bahasa itu ibarat mata rantai, serupa berita bom yang akan berulang kali meledak pasca pemberitaan sudah diterbitkan,” imbuh pelukis ini. Ia menyarankan agar jurnalis harus mengerti etika penyiaran dengan tidak menarasikan lokasi, kronologi, maupun identitas. Karena pasca terbitnya berita, seorang korban masih memiliki hidup yang perlu dijalani.

Dewi dalam materinya menyampaikan secara deskriptif dengan situasi yang berkembang dalam masyarakat saat ini, seperti pemberitaan pelecehan maupun pemerkosaan anak-anak. Dia juga banyak menyinggung latar belakang pemerkosaan bawah umur adalah berbedanya perspektif antara manusia dahulu dan sekarang. Perbedaan yang mencolok dari keduanya adalah bahwa hal yang berkenaan dengan alat vital manusia dulunya diyakini sebagai hal yang suci dan berkaitan erat dengan ritual kepercayaan. Semisal obyek Lingga dan Yoni yang berbentuk serupa alat kelamin manusia pada masa lampau diyakini melambangkan kesuburan alam semesta. Namun manusia modern cenderung menganggap obyek seksual atau bagian tubuh lainnya hanya serupa obyek yang dengan bebas dapat dieksploitasi.

Berita ditulis oleh Agus Handoko, wartawan LPM Lentera.

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s