Salatiga

Masih Soal Pabrik Semen di Kendeng

Presiden Jokowi (di tengah), Gunretno (sebelah kanan Presiden Jokowi) dan warga kendeng berfoto bersama (Dok. Tribun Jateng)

Presiden Jokowi (di tengah), Gunretno (sebelah kanan Presiden Jokowi) dan warga Kendeng berfoto bersama di Istana Negara, Jakarta (Dok. Tribun Jateng).

“Tuut, tuut, tuut… ya, halo mas, maaf, kemarin saya sedang dalam perjalanan dari Surabaya. Jadi tidak enak kalau ditanya-tanya,” akhirnya, setelah beberapa kali tak dapat memberikan wawancara melalui pesan singkat, pagi itu dengan suara agak serak-serak basah, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno menjawab panggilan telepon dari Lentera, (3/11). Maksud dari Lentera mewawancarai Gunretno ini, ialah untuk menayakan kondisi terkini di Rembang.

Ya, ini masih soal proyek pembangunan pabrik semen milik PT. Semen Indonesia (SI), di Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sassusnya, proyek tersebut hingga kini masih tetap berjalan. Padahal, pada 5 Oktober lalu Mahkmah Agung (MA) telah memenangkan upaya Peninjauan Kembali (PK) warga Rembang terhadap PT. SI.

Gunretno membenarkan kalau masih ada aktifitas yang dilakukan oleh pekerja proyek, pun alat-alat berat masih tetap beroperasi. “Sampai sudah ada putusan masih tetap saja seperti itu. Alasannya masih menunggu salinan keputusan dari MA,” jelas pria berkumis, yang akrab disapa Kang Gun itu.

Sebelum adanya PK dari MA, kata Kang Gun, warga sebenarnya juga sempat bertemu dengan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, di Istana Negara, Jakarta, (2/8). Hasil kesepakatan dalam pertemuan tersebut adalah diupayakannya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Dan sebelum kajian tersebut dikeluarkan, sebenarnya proyek pembangunan pabrik semen harus berhenti. “Tapi tidak dihentikan, malah tambah ngebut pembangunannya,” tutur Kang Gun.

Sementara itu, di saat putusan dari MA tak ditanggapi PT. SI, baru-baru ini muncul dukungan terhadap pembangungan pabrik semen dari Forum Silaturahim Kyai Muda (FSKM) Jawa Tengah (Jateng). Seperti diberitakan Suara Merdeka.Com, (29/10), FSKM mendukung proyek pembangunan pabrik semen lantaran perusahaan tersebut masuk ke dalam kategori Badan Usaha Milik Negara (BUMN). FSKM merasa cinta kepada tanah air dan memiliki nasionalisme sehingga harus mendukung perusahaan milik negara.

Saat dihubungi Lentera melalui pesan singkat, Ketua Bidang Media FSKM Jateng, Anis Maftuhin enggan memberikan wawancara. Meski demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Wali di Salatiga itu, sempat mengatakan kalau dukungan terhadap PT. SI diberikan berdasarkan aspirasi dari mayoritas warga setempat. “Ini hasil ijtihad kami berdasarkan aspirasi dari mayoritas warga setempat,” tulis Anis dalam pesan singkatnya, (31/10).

Adapun bentuk dukungan yang diberikan FSKM terkait berdirinya pabrik semen di Rembang berwujud dorongan moral. “Sehingga umat-umat kami bisa mendapatkan peluang lapangan pekerjaan. Masalah semen, untuk kepentingan maslahat atau kebaikan bersama, maka kami dukung,” terang Anis kepada SuaraMerdeka.Com, di sela-sela pelantikan pengurus FSKM Jateng, di Ponpen Al-Anwar 3, Sarang. (Baca juga: Untuk Maslahat, Forum Kyai Muda Jateng Dukung Pabrik Semen di SuaraMerdeka.Com)

Soal maslahat umat, proyek pembangunan pabrik semen di Rembang ditanggapi secara berbeda oleh ulama Nahdatul Ulama (NU), sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang Ubaidillah Achmad. Menurut penulis Islam Geger Kendeng yang akrab disapa Gus Ubed itu, pemimpin negara seharusnya mengikuti permasalahan yang ada di masyarakat. Bukan sebaliknya masyarakat yang harus mengikuti kebijakan negara. “Lagi pula kalau industri yang diuntungkan siapa sih? Kan pemilik modal. BUMN itu kan ada yang tanam saham di sana, akhirnya kapital yang menguasai. Air di Pegunungan Kendeng itu emas biru, di negara lain itu dilindungi betul. Nanti kalau kita jadi rebutan air terus seperti apa? Kan malah bisa jadi konflik karena air. Oleh karena itu, kebijakan yang dipikirkan itu seharusnya jangka panjang. Saya bisa bicara seperti ini kan juga untuk anak cucu kita,” kata Gus Ubed.

Gus Ubed juga mengatakan kalau mayoritas dan minoritas dalam masyarakat itu tidak dapat dijadikan tolok ukur terkait pembangunan pabrik semen. “Tidak boleh begitu. Harus berdasarkan riset Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). Dampak lingkungan itu harus jadi prioritas utama daripada persetujuan masyarakat. Tapi Amdal industri itu (milik PT. SI –red) kan Amdal palsu, maksud saya yang paling sok suci seakan sudah tidak perlu ditinjau ulang. Padahal perlu ditinjau ulang. Kalau jujur, masak dikatakan di Pegunungan Kendeng itu tidak ada sumber mata air. Padahal ada sekitar 179, di Tempo juga ada itu. Saya juga pernah ke sana kok. Ada air mengalir dengan indahnya,” kata Gus Ubed.

Senada dengan Gus Ubed, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng H. Tafsir, mengatakan kalau dukungan mayoritas warga saja tidak cukup. Saat dihubungi Lentera melalui pesan singkat (3/11), begini jawaban Tafsir, “sekali lagi, dukungan mayoritas warga saja gak cukup. Tapi kelestarian dan kelangsungan ekosistem harus dijaga.”

Menyoal dukungan yang diberikan FSKM terhadap PT. SI, Tafsir berharap agar segala sesuatunya telah dikonsultasikan dengan para ahli dibidangnya. “Maka FSKM mendukung pabrik semen di Pegunungan Kendeng semoga sudah konsultasi dengan ahlinya tersebut. Tentu kurang komperhensif jika hanya karena alasan BUMN, karena pabrik semen tidak semata-mata ekonomi tapi juga ekosistem,” jawab Tafsir, dalam pesan singkatnya.

Berita ini ditulis oleh Galih Agus Saputra, Pemimpin Umum LPM Lentera. Mahasiswa Ilmu Komunikasi-Jurnalistik UKSW, angkatan 2014.

Penyunting: Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s