Kampus

Menelisik Jurnalisme di Era Digital

Henry Subiakto Staf Ahli Menkominfo Bidang Hukum memaparkan materinya di Ruang Grand Merapi, Hotel Laras Asri Salatiga (Foto: Achmad Fatkhur Rohman).

Henri Subiakto Staf Ahli Menkominfo Bidang Hukum memaparkan materinya di Ruang Grand Merapi, Hotel Laras Asri Salatiga (Foto: Achmad Fatkhur Rohman).

Kamis (10/11), Kemenkominfo bekerjasama dengan Fiskom UKSW mengadakan Seminar Nasional dengan tema “Tantangan Pers di Era Digital” bertempat di Hotel Laras Asri, Salatiga. Seminar tersebut bertujuan untuk membekali mahasiswa agar semakin memahami dunia pers di Indonesia. Seminar ini juga menjadi salah satu upaya agar mahasiswa yang nantinya akan menjadi wartawan atau bekerja di dunia pers bisa mendapatkan gambaran tentang hubungan pemerintah dan pers di era digital.

Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara yaitu Henri Subiakto Staf Ahli Menkominfo Bidang Hukum, Hery Pamungkas Wakil Direktur TVKU Semarang dan  Bonardo Marulitua Aritonang dosen Ilmu Komunikasi Fiskom.

Henri Subiakto membawakan materi tentang Undang-Undang Pers dan menjamurnya media ‘abal-abal’ di dunia maya. Banyak media massa digital yang menyalahgunakan kemudahan teknologi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak pula berita palsu dan propaganda politik yang tersebar menyulut berbagai reaksi negatif masyarakat.

Henri juga menjelaskan wajah pers sebagai institusi politik, institusi sosial, institusi bisnis bagi masyarakat. Selin itu, menurut Henri Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) juga penting dipahami karena perkembangan interaksi sosial di dunia maya semakin meningkat.

Hery Pamungkas, menjelaskan bahwa banyak pemberitaan di media massa yang mengandung unsur kekerasan, penistaan SARA, dan hiburan yang tidak mendidik. “Seperti berita eksekusi mati Saddam Husein, seharusnya tidak diberitakan kepada masyarakat karena mengandung unsur kekerasan,” ujar Hery Pamungkas sambil menunjukan video berita di salah satu TV swasta.

Bonardo Marulitua Aritonang, membawakan materi tentang strategi yang dilakukan pers untuk menghadapi tantangan di era digital. Ia memaparkan demokrasi digital bagi masyarakat, dimana masyarakat bebas untuk bersuara dan berekspresi. Selain itu, jelas Bonardo, pers di era digital harus bebas, sehat dan bertanggung-jawab kepada masyarakat.

Berita ini ditulis oleh Geraldi Taher, wartawan magang LPM Lentera, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fiskom UKSW.

Penyunting: Ruth Lusiani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s