Kampus

Bintoro Gunadi, Biolog yang Punya ‘Ratusan Ribu Karyawan’

Bintoro Gunadi menunjukan 'ratusan ribu karyawannya' dalam Kuliah Tamu (Foto: Andri Setiawan).

Bintoro Gunadi menunjukan ‘ratusan ribu karyawannya’ dalam Kuliah Tamu ‘Vermiculture Technology, Human Health and The Natural Way of Farming’ (Foto: Andri Setiawan).

Suatu ketika, Bintoro Gunadi jatuh dalam keadaan tidak sadar ketika bekerja bersama ‘ratusan ribu karyawannya’ dalam suhu dingin. Saat itu suhu mencapai empat derajat celcius dan membuat darahnya mengental. “Saya terlalu bersemangat memanen seratus kilogram cacing sehingga kena sudden cardiac arrest (gagal jantung mendadak-red),” ujarnya saat Kuliah Tamu ‘Vermiculture Technology, Human Health and The Natural Way of Farming’ pada Selasa (29/11) di ruang E 126 UKSW.

Leluconnya itu disambut tawa oleh peserta kuliah umum, karena karyawan yang dimaksud Bintoro adalah cacing-cacing yang ia pelihara. Bintoro memang senang bermain dengan cacing. Mantan Dekan Fakultas Biologi UKSW itu sekarang menetap di Kanada dan mendirikan Burnaby Red Wigglers, perusahaan yang mengembangbiakkan cacing untuk produksi kompos pertanian.

Selepas mengajar di almamaternya, Bintoro sempat berkerja di pabrik teh instan besar di Indonesia. Di situ ia mengembangkan pengolahan limbah daun teh untuk dijadikan kompos. Karena jasanya itu, namanya diabadikan sebagai nama laboratorium di pabrik tersebut.

Menurut Bintoro, cacing punya potensi ekonomi yang besar. Belum lagi ditambah manfaat kesehatan. “Cacing menghasilkan lumbrokinase yang dapat mengencerkan darah,” ujarnya. Lumbrokinase yang dihasilkan cacing tergolong murah dan tidak ada efek samping. Jadi, cacing yang ia pelihara sebenarnya dapat menyembuhkan sakit yang ia alami saat memanen cacing di suhu rendah waktu itu.

Ia merasa beruntung karena tidak banyak yang bisa bertahan dari gagal jantung mendadak. Menurutnya, hanya 3% dari penderita yang berhasil hidup. “Karena itu saya merasa ada tujuan khusus kenapa saya masih bertahan,” katanya. Sekarang ia juga menjadi konsultan kompos pada beberapa perusahaan perkebunan di Indonesia.

Berita ini ditulis oleh Bima Satria Putra, wartawan LPM Lentera.

Penyunting : Andri Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s