Opini

Etik Global: Solusi Konflik Antar Umat Beragama

Ilustrasi oleh Rob Dobi, diolah oleh Bima Satria Putra

Ilustrasi oleh Rob Dobi, diolah oleh Bima Satria Putra

Artikel ini ditulis oleh Galih Agus Saputra, saat ini menjabat sebagai Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Lentera. Sekretaris di organisasi Akar Rumput yang bergerak di bidang reforma agraria dan lingkungan hidup. Serta mengisi jabatan bidang advokasi di komunitas Salatiga Sadar Budaya (Sasabu) yang bergerak di bidang kebudayaan di Salatiga.

Dalam dua tahun terakhir ini, adanya konflik berbasis agama seakan tak pernah putus menimpa masyarakat di Indonesia. Pemberitaan di media massa, maupun perbincangan di media sosial –Facebook, Twitter dan sebagainya- sering kali dipenuhi dengan kasus, misalnya, pembakaran gereja di Aceh Singkil, pengrusakan masjid Ahmadiyah di Kendal, pengrusakan vihara dan kelenteng di Tanjungbalai, serta kejadian di Tolikara. Di samping itu, baru-baru ini perhatian masyarakat Indonesia juga tertuju pada demo 4 November, yang disusul demo 2 Desember yang berlangsung di Jakarta.

Presiden Jokowi, dalam pidatonya di Istana Negara (4/11), menilai bahwa demo 4 November telah ditunggangi aktor politik. Sama halnya di Aceh Singkil, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan, saat diwawancarai Tempo (15/10/15), menduga ada unsur politik dalam peristiwa pembakaran gereja. Sementara dalam kasus pengrusakan masjid di Kendal, seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Wahid Institute Ahmad Suaedy kepada BBC (25/5), peristiwa itu terjadi karena tidak ada niat baik dari pemerintah pusat untuk menegakkan undang-undang dan peraturan. Kalau untuk peristiwa di Tanjungbalai, dan Tolikara penyebabnya hampir mirip, yaitu tidak adanya kesadaran masyarakat atas kehidupan beragama sehingga menimbulkan konflik, ketakutan, dan bahkan kekerasan.

Memanfaatkan agama sebagai instrumen politik ini sesungguhnya tidak etis. Musababnya, agama sendiri berada di ranah privat sementara politik berada di ranah publik. Dan apabila ranah privat dan publik ini telah bersinggungan, tentu dapat mengakibatkan persoalan yang amat pelik untuk dicarikan jalan keluar. Apa jadinya bila suatu organisasi berbasis agama mengatur kebijakan negara, padahal masyarakat dalam negara itu sendiri sudah jamak dalam hal berkeyakinan dan beragama? Inilah yang dimaksud pelik untuk dicarikan jalan keluar, karena setiap orang akan berdebat atas dasar keyakinannya masing-masing sehingga cukup susah untuk mendapatkan solusi. Meski demikian, dalam hal ini penulis bukan bermaksud mengatakan kalau agama itu salah atau beragama itu menimbulkan masalah. Hanya saja, segala sesuatunya perlu dibicarakan bersama sehingga, agama yang seharusnya menjadi penyejuk bagi pemeluknya tidak berubah menjadi atau dimanfaatkan sebagai sumber kekacauan.

Di Indonesia sendiri, dasar hukum yang menjamin kebebasan beragama telah termaktub dalam Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945). Dalam pasal tersebut, telah secara jelas dikatakan bahwa, “setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.” Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945, juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Pun Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama. Selain itu dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa beragama merupakan HAM. Namun demikian, hak asasi tersebut bukannya tanpa pembatasan. Dalam Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 diatur bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain.

Deklarasi Etik Global

Sementara itu, upaya untuk mewujudkan sebuah konsesus dasar (foundamental consesnsus) umat beragama di seluruh dunia telah dibahas dalam Kongres Dewan Parlemen Agama-agama Dunia, di Chicago, Amerika Serikat (AS), pada 28 Agustus sampai 4 September 1993. Hans Küng dan Karl-Josef Kuschel dalam Etik Global (1999) mengatakan bahwa, 6.500 orang perwakilan agama dari seluruh dunia yang hadir dalam pertemuan itu telah bekerjasama dan menyusun Deklarasi Menuju Etik Global (Declaration Toward a Global Ethic).

Sejak awal dimulainya kongres, adanya perbedaan pendapat para anggota dewan langsung menimbulkan reaksi. Walhasil, perdebatan sengit para anggota dewan pun tak terhindarkan. Namun demikian, kabar yang menggembirakan, para anggota dewan ini bersedia dan mendukung deklarasi atas nama orang beriman di seluruh dunia. Padahal, disaat itu pula, kata Hans Küng dan Karl-Josef Kuschel, banyak agama yang sedang terlibat dalam konflik politik, bahkan dalam perang berdarah.

Apa yang dimaksud dengan Etik Global ini bukanlah ideologi global, atau penyatuan agama secara global. Etik Global juga bukan berarti membawahi agama-agama yang sudah ada atau mencampuradukan semua agama. Selain itu, Etik Global juga tidak mengganti etik leluhur agama-agama yang sudah ada. Sebagai contoh, misalnya, menurut Hans Küng dan Karl-Josef Kuschel, Taurat Yahudi, khotbah di atas Bukit Kristen, al-Qur`an Muslim, Bhagavadigta Hindu, ajaran Budha maupun Konfisius, masih tetap menjadi dasar keyakinan dan kehidupan, pemikiran dan tindakan bagi jutaan laki-laki dan perempuan di dunia.

Etik Global ialah upaya untuk memberdayakan apa yang selama ini dianggap layak oleh agama-agama di dunia. Perlu diketahui pula upaya tersebut terlepas dari segala perbedaan tingkah laku, nilai-nilai moral dan keyakinan dasar yang ada pada masing-masing tradisi. Atau dengan kata lain, Etik Global bukan bermaksud mereduksi agama-agama ke dalam minimalisme etis, tetapi menghadirkan batas minimal etik yang dimiliki bersama oleh semua agama-agama yang ada di dunia.

Prinsip-prinsip Etik Global

Setidaknya, ada empat hal yang menjadi prinsip dalam Etik Global. Kongres Dewan Parlemen Agama-agama Dunia mengendaki; 1) Tuntutan Fundamental; 2) Empat Petunjuk Yang Tak Terbatalkan; 3) Transformasi Kesadaran; serta mengakui bahwa, 4) Tidak Ada Tatanan Global Baru Tanpa Etik Global Baru.

Kongres menghendaki adanya Tuntutan Fundamental lantaran perempuan dan laki-laki sering kali bertatapan langsung dengan kesewenang-wenangan. Dan itu semua, seperti yang telah kita ketahui, telah terjadi di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Atas dasar kekuasaan, yang sama sekali bukan berarti kebenaran, kebebasan dan kesempatan mereka dirampas, hak asasi mereka diinjak-injak, pun martabat mereka dilecehkan. Oleh karena itu, kongres menghendaki bahwa, setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi.

Adapun Empat Petunjuk Yang Tak Terbatalkan yang dimaksud dalam kongres itu, meliputi; 1) Komitmen pada budaya non-kekerasan dan hormat pada kehidupan; 2) Komitmen kepada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil; 3) Komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang tulus; serta, 4) Komitmen pada budaya kesejajaran hak dan kerjasama antara perempuan dan laki-laki.

Kongres juga menghendaki adanya Transformasi Kesadaran karena menganggap bahwa, bumi ini tidak bisa diubah menjadi lebih baik jika individu maupun kolektif tidak berubah terlebih dahulu. Maka dari itu, kongres memutuskan untuk mengajak semua perempuan dan laki-laki di dunia ini untuk lebih saling pengertian, terlebih kepada pandangan hidup secara sosial. Perempuan dan laki-laki harus saling bekerjasama untuk mengembangkan perdamaian dan mewariskannya melalui keyakinan masing-masing, serta tidak lupa untuk tetap ramah kepada bumi.

Kongres percaya bahwa, tidak akan ada tatanan global baru tanpa etik global baru. Mengapa demikian? Hal tersebut didasari adanya beberapa asumsi, yaitu, pertama, keterlibatan kita demi kepentingan HAM, kebebasan, keadilan, perdamaian dan pemeliharaan sangatlah penting. Kedua, agama dan tradisi budaya kita yang berbeda ini tidak boleh menghalangi keterlibatan kita bersama dalam melawan segala bentuk dan kondisi yang tidak manusiawi dan kita semua pada dasarnya dapat bekerja bersama-sama untuk meningkatkan kemanusiaan. Dan ketiga, semua prinsip yang dinyatakan dalam etik global ini dapat dibenarkan oleh semua orang yang memiliki keyakinan etis, baik yang didasarkan pada agama maupun tidak.

Relevansi Etik Global Dalam Konteks Indonesia

Lalu, apa gunanya Etik Global di Indonesia? Bukankah kita sudah punya Pancasila jauh sebelum adanya Etik Global? Seperti yang telah disinggung di awal paragraf tadi, tak dapat dipungkiri bahwa belakangan ini kita telah beberapa kali menghadapi persoalan yang cukup pelik. Dan seperti yang kita ketahui pula, dibalik perosalan tadi sering kali ada pihak-pihak tertentu yang memainkan isu primordial demi keuntungan pribadi. Melihat kenyantaan tersebut, Etik Global menjadi begitu relevan di Indonesia, bahkan dapat mendampingi Pancasila. Dua konsensus tersebut tampak selaras lantaran memiliki kemiripan cita-cita, yaitu, untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat yang jamak.

Namun demikian, kita semua tidak dapat menjalankan Pancasila dan Etik Global begitu saja tanpa harus meyakini nilai-nilai didalamnya. Kita semua harus tetap menghayatinya, mengingat keberagaman yang ada di Indonesia ini bagaikan pisau bermata dua –di satu sisi membuat negeri ini menjadi kaya akan suku, ras, dan agama, namun di sisi lain dapat menyebabkan konflik bila tak ada nilai-nilai yang menjadi dasar pijakannya. Di samping itu, yang perlu diingat juga adalah, agama harus lah menjadi agen perdamaian dan bukannya terlibat dalam konflik sosial. Agama harus dijaga kesuciannya, agar interest politik tak bersarang didalamnya. Pun pragmatisme-religius –maksudnya agama dijalankan bilamana menguntungkan dan tidak bila sebaliknya- harus dihindari oleh siapapun, karena sikap tersebut jauh lebih berbahaya, terlebih lagi bila dilakukan oleh orang-orang untuk kepentingan materi semata.•

Penyunting : Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s