Kampus

Tantangan Berat UKSW Dirikan Fakultas Kedokteran

Tanda nama Fakultas Kedokteran sempat dipasang namun kini diganti menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran (Foto: Yunda).

Tanda nama Fakultas Kedokteran sempat dipasang namun kini diganti menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran (Foto: Yunda).

Pada 30 Maret 2014, UKSW mengirimkan proposal pertama pendirian Fakultas Kedoteran (FK) ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) melalui Sistem Layanan Direktorat Pengembangan Kelembagaan (Silemkerma) Perguruan Tinggi. Jawaban baru didapatkan pada Oktober 2015, yang mana proposal diminta untuk direvisi.

Sebagai persiapan pendirian FK, pada tanggal 12 Februari 2016, UKSW menandatangani nota kesepahaman dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat di kampus Universitas Hassanudin (Unhas) Makasar. Penandatangan MoU tersebut diikuti dengan kerjasama antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UKSW yang diwakili Dekan FIK UKSW Ferry Karwur dengan Fakultas Kedokteran Unhas yang diwakili Dekan FK Unhas Prof. Andi Asadul Islam.

Sebelumnya, UKSW mengajukan kerjasama dengan UGM Yogyakarta. “Namun UGM tidak segera merespon saat itu,” ujar Pembantu Rektor II Teguh Wahyono pada Lentera. UKSW akhirnya memutuskan bekerjasama dengan Unhas. Namun, beberapa waktu lalu, UGM menyatakan bersedia untuk membantu UKSW dalam pembentukan FK.

Selain penandatangan nota kesepahaman, UKSW juga telah melakukan berbagai persiapan pendirian FK. Salah satu syarat yang harus dimiliki adalah berkerjasama dengan RS yang ada atau memiliki rumah sakit sendiri. Dalam hal ini, UKSW memilih untuk membeli RS Ananda yang dimiliki oleh dokter spesialis kandungan, Wahyono. RS yang terletak di Jalan Ki Penjawi Kelurahan Sidorejo Lor Kecamatan Sidorejo Salatiga kini dikelola YPTKSW. Sejak dikelola, perbaikan terhadap rumah sakit tersebut sedang dilakukan dan ditargetkan selesai pada 2017, tepat dengan rencana pembukaan FK UKSW.

Selain itu ruangan lantai enam Perpustakaan UKSW dikhususkan untuk persiapan FK UKSW. Ruangan yang dipersiapkan diantaranya tujuh laboratorium, empat ruang praktek, serta masing-masing satu ruang patologi klinik dan ruang komunikasi. Pada 28 November 2016, Satgas FK UKSW rencananya mengadakan diskusi dengan Kemenristekdikti RI. Diskusi gagal dilaksanakan karena Kemenristekdikti batal hadir. Hingga tulisan ini terbit, diskusi belum dilaksanakan.

UKSW memiliki tantangan berat karena data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) menyebutkan terdapat 83 FK di seluruh Indonesia. Dari semuanya, hanya 17 FK yang terakreditasi A. Sisanya akreditasi B sebanyak 29 FK dan akreditasi C sebanyak 37 FK. Artinya, pendidikan kedokteran di Indonesia masih didominasi universitas dengan akreditasi C sebanyak 45 persen.

Menindaklanjuti hal tersebut, Menteri Ristekdikti RI Mohamad Nasir melakukan moratorium untuk FK di Pulau Jawa. Langkah ini diambil untuk memberikan kesempatan pendirian FK di luar Pulau Jawa. Pasalnya, belum tentu dokter-dokter lulusan Jawa mau ditempatkan di luar Pulau Jawa. “Sementara kami lakukan moratorium itu, kami ingin membenahi FK yang sudah ada. Karena ada banyak perguruan yang tinggi yang ada FK, akreditasinya masih C, ini harus kita  perbaiki. Mutunya harus kita naikkan,” ujar Mohamad Nasir.

Namun, pada 29 Maret 2016, Menteri Ristekdikti RI Mohamad Nasir mengizinkan pembukaan delapan FK baru di lima wilayah, yaitu Surabaya (3 buah), Makassar (2 buah), dan masing-masih (1 buah) Malang, Ternate, dan Semarang. Satu-satunya universitas swasta yang lolos hanya Universitas Ciputra Surabaya. Dari delapan FK baru itu, lima di antaranya tak direkomendasikan Tim Evaluasi Pengusulan Program Studi Kedokteran yang dibentuk Kemenristekdikti. Bahkan satu FK tak diperiksa.

Pendirian FK tambah berat ketika Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 2016 menyatakan menolak pembukaan FK baru. Mereka menolak karena masih banyak pendidikan kedokteran yang terakreditasi C. “Lebih baik yang ada ini ditingkatkan mutunya, dengan begitu kualitas dokter yang lulus akan meningkat. Kalau dibuka banyak-banyak tapi kualitas rendah, masyarakat yang akan kena dampaknya,” ujar Prof. Bambang Supriyatno, Ketua KKI.

Selain itu, biaya pendidikan FK masih sangat mahal. UKSW memiliki tantangan untuk menyediakan pendidikan FK yang murah namun berkualitas. Menurut Kepala Badan Data dan Informasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Andi Khomeini Takdir Haruni mengatakan, mahalnya pendidikan kedokteran seolah tak bisa lagi dibendung. Regulasi soal biaya tak ada, sehingga muncul tudingan bahwa jurusan kedokteran di universitas dikomersialisasi. Batasan biaya pendidikan kedokteran itu belum ada regulasinya.

Menurut Andi, biaya pendidikan fakultas kedokteran mulai dari Rp 200 juta sampai 400 juta. Jika dihitung biaya, mereka kuliah menghabiskan biaya hingga Rp 500 juta sejak masuk hingga selesai kuliah. Selain itu, biaya pendidikan kedokteran yang tidak sebanding dengan gaji dokter menjadi salah satu pertimbangan. Lalu pada saat mereka selesai, ada kewajiban mengabdi di daerah terpencil dan dibayar Rp 1,2 juta. Hingga hari ini, Andi masih mendengar laporan teman di daerah-daerah, gaji selalu habis dan tidak ada yang bisa ditabung. “Oke pengabdian, lalu makan apa? Masa mereka terjun ke daerah pun masih minta sama orang tua? Itu tidak logis dan tidak waras. Kondisi seperti ini harus dibenahi. Sekarang sudah sampai di angka Rp 3 juta atau Rp4 juta. Tapi biaya hidup juga meningkat. Jadi sebetulnya masih sekedar impas,” ujarnya.

Pendidikan kedokteran adalah pendidikan yang sangat krusial demi kesehatan Indonesia yang lebih baik. Keselamatan pasien harus menjadi fokus utama dari lulusan dokter. Dengan pengembangan mutu pendidikan kedokteran yang baik, maka keselamatan pasien pun akan terjamin. Peningkatan mutu pendidikan bukan hanya tanggung jawab universitas, tetapi juga pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti. Tanggung jawab tersebut bisa berupa dukungan bagi peningkatan sumber daya manusia, dukungan dana dan bantuan peralatan praktik. Memang universitas negeri memiliki anggaran tetap bantuan kementerian, sementara universitas swasta tidak ada. Jika pun ada, tidak besar. Mampukah UKSW menjawab tantangan tersebut?

Sampai berita ini terbit, nama Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW telah berganti menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran. Tanda nama telah terpasang di depan perpustakaan lantai enam. Sebelumnuya sempat dipasang nama Fakultas Kedokteran, namun kemudian dicopot.

Laporan ini ditulis oleh Setyaji Rizky Utomo, wartawan LPM Lentera, mahasiswa Jurnalistik Fiskom UKSW.

Penyunting: Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s