Ragam

Ibu Bumi Dilarani, Jangan Ada Babak Baru Lagi

s__74416136

Salah satu poster petani Kendeng (Foto: Gerry Junus)

Keringat mereka membasahi pipi, turun perlahan dan bercampur air mata. Di bawah panas matahari, di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, para wanita ini mencari keadilan. “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani,” mereka melantunkan tembang tanpa henti untuk mengetuk hati penguasa. Tiga puluh hari sudah mereka mendirikan tenda. Hari demi hari mereka lewati dengan pantang menyerah. Aksi damai ibu-ibu dari pegunungan Kendeng itu dimulai setelah  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluarkan izin pertambangan PT Semen Indonesia.

Senin, 5 Desember 2017, mereka melakukan long march untuk mengawal keadilan dari Rembang menuju kantor Gubernur Jawa Tengah. Sepanjang jalan tembang dilantunkan. Ketika tiba di Semarang dengan sambutan dari pendukung penyelamatan ibu bumi, mereka menyampaikan kesedihan dan luka.

“Kami berjalan dengan niat, meskipun kaki kami banyak yang melepuh,” ujar Sukinah salah satu petani Kendeng yang berusia 40 tahun. Ia tampak lelah setelah berjalan berhari-hari, namun ia masih bisa memberikan semangat kepada petani lainnya. Sukinah menambahkan, “aksi ini adalah tirakat perjuangan, maka jangan disepelekan karena tidak semua orang berani melakukan ini,” sambil menurunkan caping bertuliskan ‘Tolak Pabrik Semen’.

s__74416135

Di bawah payung (Foto: Gerry Junus)

Aksi lanjutan berlangsung pada  17 Desember 2016, dengan didirikan tenda di depan kantor Gubernur. Ibu-ibu Kendeng bersikukuh untuk menetap disana hingga putusan MA untuk mencabut izin pertambangan dipenuhi.  Selama tenda berdiri, mucul dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya pameran lukisan oleh aktivis perempuan sekaligus seniman Dewi Candraningrum yang digelar pada 16 Januari 2017. “Sudah dua tahun lebih ibu-ibu Kendeng menjaga pegunungan Kendeng biar utuh, jadi ini untuk menguatkan,” kata Dewi yang berpakaian kebaya dan jarik sambil menata lukisannya. Dewi mengatakan ia juga sama-sama belajar dan berjuang dengan ibu-ibu Kendeng, ia menambahkan “kami tidak memusuhi orang-orang pro pabrik semen, karena perjuangan kami adalah hadiah bagi mereka dan anak cucu mereka. Jika kita menang, mereka akan mendapatkan manfaatnya juga”.

s__74416134

Pameran lukisan oleh Dewi Candraningrum (Foto: Gerry Junus)

Tiga puluh hari berlalu semenjak mereka meninggali tenda-tenda perjuangan, pada 17 Januari 2017, Ganjar harus memberikan keputusan. Malamnya (16/01), Sang Gubernur memutuskan untuk mencabut izin pertambangan. Namun dalam keputusan itu ada yang janggal, Ganjar memerintahkan pabrik semen untuk memperbaiki dokumen supaya pabrik bisa beroperasi. Keputusan yang menyatakan mencabut izin tetapi memberi kesempatan untuk memperbaiki amdal dianggap sebagai akal-akalan di mata para pejuang Kendeng.

Aksi damai di hari terakhir (17/10), sempat tegang karena bersamaan dengan aksi Aliansi Petani Tembakau Indonesia (APTI). Awalnya demonstrasi berjalan lancar oleh kedua belah pihak. Namun beberapa waktu kemudian saling dorong antar masa tak terhindarkan, dan berujung pada terinjaknya dua  ibu-ibu Kendeng. Sempat ricuh, tapi aksi damai tetap berjalan. Setelah para ibu-ibu Kendeng mendapatkan salinan putusan, mereka menuju tempat Gus Nuril untuk mengadakan syukuran.

“Perjuangan ini tidak menghakimi ada yang salah dan yang benar. Pak Ganjar melihat pembangunan ini dari ekonomi yang agak berbau kapitalis, sedangkan rakyat melihat dari pembangunan lingkungan. Semuanya baik, yang tidak baik itu yang ikut ngegeri,” ujar Gus Nuril, pemimpin Pondok Pesantren Sokotunggal. Selain itu, Gunretno, tokoh Sedulur Sikep, mengatakan bahwa perjuangan ini belum berakhir. Masih ada peluang untuk pabrik semen kembali mendapatkan izin dan mendirikan pabriknya. Namun ketika ditanya mengenai aksi selanjutnya, Gunretno mengatakan “aksi selanjutnya adalah mencangkul, menanam, dan bertani,” sembari tersenyum sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah.

Liputan ini ditulis Gerry Junus, wartawan magang LPM Lentera, mahasiswa Fiskom UKSW.

Penyunting: Laureena Jennifer

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s