Kampus

Jurnalispeak: Tidak Ada Kata yang Berdosa!

 

1486121407639

Dewi Candranigrum Saat Menyampaikan Materi (Foto: Dok. Panitia Jurnalispeak).

“Sebenarnya apa salahnya sebuah kata? Tidak ada kata yang berdosa, yang meletakkan dosa pada kata itu ya si penulisnya,” ungkap Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan Dewi Candraningrum. Dewi menjelaskan selama ini tulisan tentang perempuan cenderung hanya menggunakan kata atau kalimat jargon daripada yang bersifat ensiklopedik dan konseptual. Seperti ungkapan seks bebas yang seharusnya adalah seks tidak bertanggung jawab dan ungkapan pemerkosaan yang harusnya lebih tepat ditulis sebagai serangan seksual karena merupakan tindakan kriminal. Tulisan yang hanya sekedar menebar jargon bukanlah tulisan yang kuat. “Tulisan seorang penulis haruslah kuat bukan sekedar tebar jargon dan hoax,” jelas aktivis perempuan itu.

Dewi menegaskan bahwa syarat untuk menulis adalah berpihak pada kebenaran. Keberpihakan penulis bukan berarti dia tidak objektif. Menurut Dewi, yang menentukan objektivtas sang penulis adalah metodologi atau teknis penulisan. “You have to decide where to put your feet on,” ungkapnya.

Penting untuk setiap penulis mengerti benar arti dari sebuah kata untuk menghindari kesalahpahaman dalam proses penafsiran oleh pembaca. Dewi menganjurkan para peserta yang mengikuti workshop Jurnalispeak pada Rabu (01/02) di Gedung E126, agar membaca ensiklopedia dan memiliki kamus dalam smartphonenya untuk membantu dalam proses menulis.

Dalam acara yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) tersebut, Dewi juga menjelaskan tentang bagaimana media memperlakukan perempuan dalam pemberitaannya. Menurutnya, banyak tulisan dalam pemberitaan media yang sifatnya seksisme khususnya dalam pemberitaan tentang kasus serangan seksual terhadap perempuan. Misalnya penggunaan kata digagahi dan mengganti nama korban menjadi bunga. Selain seksisme, media juga terkadang menjadi pelaku perkosaan terhadap korban dengan menarasikan kronologi, lokasi kejadian dan identitas korban. “Perkosaan media ini tidak etis karena bisa mempertaruhkan masa depan korban,” kata perempuan yang juga seorang seniman itu.

Di akhir materi, Dewi juga menyinggung perihal perspektif banyak orang, terutama penulis yang sering tabu terhadap penggambaran tubuh. Banyak penulis maupun media yang cenderung menganggap objek seksual atau intim dari tubuh manusia sebagai hal tabu untuk dituliskan dan selalu diindikasikan dengan sesuatu yang tidak etis, mesum dan cabul. Dewi mencontohkan kata payudara yang cenderung diganti dengan gundukan dan keengganan untuk menulis kata penis atau vagina. Keengganan yang demikian nampaknya membuktikan bahwa banyak penulis yang cenderung meletakkan dosa pada sebuah kata dalam tulisan.

Selain Dewi Candraningrum, workshop yang bertema “Gender dalam Opini” ini juga mendatangkan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang Edi Faisol. Edi Faisol yang juga seorang wartawan Tempo membawakan materi mengenai cara menyajikan artikel pada sesi kedua workshop. Edi memulai materi dengan menceritakan pengalamannya sebagai seorang jurnalis. Kemudian Edi memaparkan beberapa contoh artikel dari web pribadinya. “Jangan takut menulis, rekan-rekan bisa mencoba menulis lewat media sosial,” ujar Ketua AJI periode 2016-2019 itu.

Berita ini ditulis oleh Eka Putri Esterina Rasi, wartawan LPM Lentera.

Penyunting: Mei Yulinda Sinta Marito Manalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s