Kampus

Tesis Royke: Orang Dayak Menolak Tambang Dalam Publik Virtual

Royke Roberth Siahainenia memaparkan hasil penelitiannya di hadapan para penguji, di Gedung Probowinoto UKSW (16-02). (Foto: Christian Adi Candra)

Royke Roberth Siahainenia memaparkan hasil penelitiannya di hadapan para penguji, di Gedung Probowinoto UKSW (16-02). (Foto: Christian Adi Candra).

Dewasa ini, konflik agraria seakan menjadi tontonan sehari-hari. Mulai dari penyerobotan lahan, hingga penggusuran yang dilakukan oleh aparat sebagai kepanjangan tangan dari negara dan perusahaan multinasional. Konflik antara masyarakat dan PT. Indomoro Kencana di Murung Raya, Kalimantan Tengah lah salah satunya. Konflik itu bermula kala PT. Indomoro Kencana melakukan ekspansi lahan penambangan, hingga menggusur tanah adat, situs cagar budaya, dan mengganggu perekonomian masyarakat setempat yang sama halnya mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan melakukan aktifitas pertambangan.

Mahaiswa Program Pascasarjana Studi Pembangunan UKSW Royke Roberth Siahainenia menyoroti persoalan itu, dalam tesisnya yang berjudul “Orang Dayak Menolak Tambang: Studi Gerakan Sosial Baru Dalam Ruang Publik Virtual.” Royke melakukan penelitian ini sejak 2011-2017, sementara Ujian Terbuka-nya berlangsung di Ruang Probowinoto UKSW, (16/02).

Menurut Royke, selama ini masyarakat di Murung Raya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan terkait perluasan daerah penambangan. Mulai dari audiensi dengan Pemda, demonstrasi, penghentian paksa pengeboran, hingga pengambilalihan lahan tambang secara paksa. Dalam melakukan demonstrasi, masyarakat setempat juga mengedepakan aspek kebudayaan, yaitu, dengan mengadakan ritual Hinting Pali. Masyarakat setempat percaya bahwa, dengan adanya ritual itu siapa saja yang melintasi batas yang telah ditentukan bakal kehilangan nyawa.

Dalam penelitiannya, Royke tak hanya menaruh perhatian pada gerakan sosial yang dilakukan oleh masyarakat Murung Raya. Di hadapan para penguji, Royke juga memaparkan bagaimana cara masyarakat Murung Raya memanfaatkan media internet untuk melawan PT. Indomoro Kencana. Masyarakat Murung Raya, kata Royke, membuat laman virtual yang memuat hasil reportase atas dampak buruk dari aktifitas pertambangan yang dilakukan oleh PT. Indomoro Kencana. Pun, langkah itu membuahkan hasil karena pada akhirnya saham PT. Indomoro Kencana anjlok dan aktivitas pertambangannya tak dilanjutkan.

Menurut Royke, media virtual sangat lah penting dalam mengabarkan gerakan perlawanan masyarakat, terutama di daerah pedalaman yang mengalami konflik agraria. Ironisnya, saat ini belum ada kemudahan akses internet di beberapa daerah pedalaman, sehingga konflik agraria yang ada tidak terkabarkan dengan baik dan tak menjadi perhatian masyarakat secara luas. Royke beranggapan bahwa, “negara belum bersikap adil. Soal komunikasi negara tidak transparan.”

Meski demikian, lanjut Royke, masyarakat Murung Raya tidak menganggap keterbatasan akses internet dan kebutuhan listrik sebagai halangan yang cukup berarti. Mereka tetap berjuang dan melawan dengan memanfaatkan jagat virtual sebagai media perlawanan sekalipun harus bersusah payah.

Berita ini ditulis oleh Christian Adi Candra, Staf Pengembangan Sumber Daya Manusia LPM Lentera. Mahasiswa Ilmu Komunikasi-Jurnalistik UKSW, angkatan 2015.

Penyunting: Galih Agus Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s