Kampus

Budaya Maritim Indonesia, Gamaliel: Mahasiswa Harus Tahu!

Gamaliel kala menjadi pembicara dalam lokakarya menulis ilmiah dengan tema "Budaya Maritim Indonesia," di Gedung E126 UKSW, (22/2). (Foto_Mei Yulinda Sinta Marito).

Gamaliel kala menjadi pembicara dalam lokakarya menulis ilmiah dengan tema “Budaya Maritim Indonesia,” di Gedung E126 UKSW, (22/2). (Foto_Mei Yulinda Sinta Marito Manalu).

Dosen Fakultas Biologi UKSW Gamaliel Septian Airlanda bercerita tentang kejayaan sektor kelautan Indonesia di masa lalu. Ia menjadi pembicara dalam lokakarya menulis karya ilmiah dengan tema “Budaya Maritim Indonesia”, di Gedung E126 UKSW, pada Rabu, (22/2). Menurut Gamaliel, kejayaan sektor kelautan di Indonesia terjadi pada abad 13. Kala itu, Kerajaan Majapahit dapat menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga Singapura (Tumasik) dan Malaysia (Malaka). Selain itu, Indonesia juga mempunyai lima jaringan perdangangan yang disebut commercial zones. “Mirisnya, lima jaringan yang terkenal secara internasional itu malah ditulis oleh orang luar. Jadi, Indonesia sendiri tidak tahu,” katanya.

Menurut Gamaliel, saat ini, pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah memperhatikan pembangunan sektor maritim dengan adanya, poros maritim dan tol laut. Oleh karena itu, ia berharap agar mahasiswa mengetahui dan mendalami program tersebut. “Sebagai orang berpendidikan, mahasiswa harus benar-benar mengetahui tentang budaya maritim. Mahasiswa harus membiasakan diri membaca dan menuliskannya secara ilmiah. Tidak boleh hanya mengikuti perkataan orang lain. Semua argumen kita itu ilmiah, jangan isinya cuma katanya, katanya,” tutur Gamaliel.

Gamaliel kemudian menjelaskan kekayaan sektor maritim di Indonesia, mulai dari sistem pengelolaan sumber daya alam di laut, berbagai macam warisan budaya, dan kearifan lokal, hingga perekonomian. Namun demikian, dari sekian banyak kekayaan yang ada, masih ada faktor yang menurut Gamaliel menjadi penghambat perkembangan sektor maritim di Indonesia, yaitu, pendidikan. “Banyak anak nelayan susah untuk bersekolah, dan banyak pula anak nelayan yang ada diperantauan kemudian tidak mau menjadi nelayan. Padahal, banyak nelayan-nelayan di luar negeri yang kaya dan berpendidikan tinggi,” katanya.

Siang itu, Gamaliel juga sempat menyinggung kebiasaan buruk yang dewasa ini masih dipelihara oleh kebanyakan orang di Indonesia. Lagi-lagi soal kebersihan lingkungan dan sampah. Kata Gamaliel, sekarang ini masih banyak orang yang, jika datang ke pantai sambil membawa bekal makanan, sampahnya lupa dibawa pulang. Duh!

Berita ini ditulis oleh Mei Yulinda Sinta Marito Manalu, Sekretaris LPM Lentera. Mahasiswa Ilmu Komunikasi UKSW, angkatan 2015.

Penyunting: Galih Agus Saputra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s