Kampus

Pesona Indonesia dalam Culture Night Festival 2017

img_3878

Salah satu kelompok perkusi saat tampil di atas panggung Culture Night Festival 2017. (Foto: Jalu Ihza Susetyo)

Culture Night Festival yang diselenggarakan pada Selasa (28/2) di lapangan basket UKSW, menarik antusias para mahasiswa. Acara yang dimulai sekitar pukul 17.00 WIB ini dikemas secara apik dan unik. Nuansa budaya sudah terlihat pada pintu masuk venue yang dihias dengan obor. Kesan itu bertambah kuat saat masuk ke dalam lapangan, di mana terdapat ornamen instalasi bambu yang membentuk logo Culture Night. Tidak hanya itu, aroma wewangian bunga juga menambah daya tarik acara tersebut.

Culture Night Festival 2017 adalah salah satu rangkaian acara Dies Natalis FISKOM yang ke 17. Penyelenggara mengusung tema Harmony of Diversity dengan maksud agar mahasiswa UKSW bisa hidup toleran di lingkungan yang beragam budaya dan etnis. “Di FISKOM sendiri banyak budaya, berangkat dari situlah kita ngadain kegiatan seperti ini dengan tujuan bahwa keberagaman itu nggak selalu (menimbulkan-red) konflik melulu. Dari sinilah kita belajar bahwa ada beragam budaya di Indonesia,” jelas ketua panitia, Setyaji Rizky Utomo.

Setelah mendengar kata sambutan dari Ketua panitia dan Dekan FISKOM Daru Purnomo, acara ini dibuka dengan menampilkan tarian daerah Jawa dari kelompok Tari Nusantara. Acara dilanjutkan dengan penampilan dari band FISKOM yang melantunan lagu-lagu daerah yang dipadukan dengan aransemen musik modern.

Beberapa pertunjukan lain seperti penampilan drumblek dari Drumblek FISKOM dan perkusi dari FISKOM Percussion menambah kemeriahan acara. Temutuk Percussion tampil sebagai bintang tamu yang menutup festival ini.

Setidaknya ada delapan himpunan mahasiswa etnis yang berpartisipasi dalam acara ini, yaitu K’MPLANG (Lampung), PAMPAKAT (Kalimantan Tengah), IKMAPPOS (Poso), HIPMMA (Maluku), PKMST (Toraja), HIMPAR (Papua Barat), BATAK TOBA & SIMALUNGUN dan PINAESAAN (Minahasa). Tidak hanya menyuguhkan keunikan tarian dan lagu dari etnis mereka, beberapa himpunan juga menyanyikan lagu dari etnis lain. Hal ini merupakan cerminan dari nilai harmony yang ingin ditunjukan antar etnis yang terlibat di dalam acara ini

Ika Septiyani Wulansari sebagai penonton menganggap acara ini bisa menjadi media pembelajaran untuk mengenal budaya dari etnis-etnis lain. “Menurut saya sih bagus bisa menyatukan berbagai etnis di dalam satu tempat dan satu acara, buat saya menambah wawasan tentang kebudayaan daerah lain,” ungkapnya.

Berita ini ditulis oleh Radik Karis Prabowo, jurnalis LPM Lentera, mahasiswa FISKOM 2014.

Penyunting: Mei Yulinda Sinta Marito Manalu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s