Sosok

Darmiyanto, Terus Berlari Selama Nafas Belum Terhenti

Darmiyanto, di atas becaknya (Foto: Dok. aforgottenhero.blogspot.co.id).

Merasa paru-parunya bekerja lebih baik saat berlari, Darmiyanto (72) memilih cabang olahraga atletik, yaitu, lari maraton sebagai jalan hidupnya. Lomba lari di tingkat RT menjadi awal prestasinya, kemudian giat berlatih dengan mengimbangi laju kuda kesayangan pamannya. Tak tanggung-tanggung, kini, sebanyak 170 medali, berikut 19 piala ia susun rapi di lemari kaca. Menjadi monumen paling berharga di ruang tamu, renungan berpuluh-puluh ribu tapak kaki dan cucuran keringat di mana pun ia berkompetisi.

Sore itu, langit tak semendung hari biasanya. Saya pikir, ini waktu yang tepat untuk liputan. Tanpa berpikir lama lagi, saya kemudian memacu sepeda motor menuju Jl. Pemotongan, dekat Pasar Raya I, Salatiga. Saya memang sudah berencana sejak jauh hari untuk membuat janji wawancara dengan Pak Dar.

Pak Dar yang saya maksud ini adalah Darmiyanto, tukang becak yang saban hari menunggu pelanggannya di Jl. Pemotongan, Salatiga sejak pukul 10 pagi, hingga pukul 3 sore. Selain menjadi tukang becak, Darmiyanto ini adalah pelari Kelas Veteran yang acap kali tampil dalam kejuaraan lari maraton yang diselenggarakan, baik di dalam, maupun luar negeri.

***

Darmiyanto sedang duduk di becak kawannya kala saya tiba di Jalan Pemotongan. Penampilannya lebih sporty dan paling kentara, ketimbang tukang becak lainnya. Ia mengenakan baju olahraga, lengkap dengan celana pendek, berikut sepatu kets dan kaus kaki setinggi lutut.

“Apa ini orangnya,” saya bergumam dalam hati, sambil ragu-ragu karena memang belum pernah bertemu. Apalagi melihat wajah Darmiyanto secara langsung. Selama ini, saya tahu informasi tentangnya hanya dari media daring dan sesekali melihat fotonya di Kantor Redaksi LPM Scientiarum.

Setelah memarkir sepeda motor di belakangnya, saya lantas menghampiri, kemudian menyapa sambil mengajaknya salaman. Singkat cerita, Darmiyanto mengiyakan permohonan saya untuk melakukan wawancara di rumahnya.

***

Jarak tempuh dari Jl. Pemotongan, menuju rumah Darmiyanto di Jl. Raya Salatiga – Dadapayam Km. 10, Gg. Atlet No. 52, Ngemplak Tugel, Kelurahan Krandon Lor, Kec. Suruh, Kab. Semarang kurang lebih memakan waktu setengah jam. Setiba di rumah Darmiyanto, pandangan saya langsung tertuju pada sejumlah lembaran koran dan foto yang tertempel di dinding ruang tamu. Semuanya tentang Darmiyanto.

Tak lama kemudian, istri Darmiyanto keluar sambil membawa baki. Isinya, dua gelas teh hangat dan sepiring pisang, yang kurang saya ketahui jenisnya. “Monggo, Mas silakan duduk. Seadanya ya. Mumpung tehnya masih hangat diminum dulu. Pisangnya juga dihabiskan loh ya,” katanya, dibarengi kedatangan Darmiyanto dari belakang istrinya.

Segelas teh hangat kemudian saya angkat. Hendak saya sruput tapi urung karena masih panas. Saya kemudian mengambil pisang, begitu juga dengan Darmiyanto. “Kesasar tidak Dik?” kata Darmiyanto, membuka percakapan. “Tidak, Pak. Tadi sempat kelewatan beberapa puluh meter, lalu tanya orang dan ternyata nama bapak tak asing bagi mereka,” jawab saya.

***

Darmiyanto mulai berkisah tentang masa kecilnya. Katanya, ia sudah tergila-gila dengan olahraga lari sejak di Sekolah Rakyat (SR) –sekarang Sekolah Dasar (SD). “Awalnya, dulu itu, kalau saya lari rasanya enak di paru-paru, Mas. Saya kemudian lari terus, sampai sekarang. Waktu itu, saya juga sering ikut lomba 17-an di tingkat RT, dan selalu juara satu. Lombanya keliling kampung, sekitar tahun 50-an,” katanya.

Pria kelahiran Boyolali ini, sekarang berusia 81 tahun. Kecintaannya terhadap lomba lari di masa kecil, kata Darmiyanto, diamati dan diapresiasi pula oleh Ketua RT di kampungnya, yang saat itu selalu hadir menyaksikan lomba. “Bocah ini sepertinya memang berbakat. Larinya lebih kencang ketimbang anak-anak seumurannya,” imbuh Darmiyanto meniru ungkapan Ketua RT-nya.

Darmiyanto juga mengatakan kalau dirinya sering dijagokan oleh Ketua RT-nya itu dan tak ada satupun kawan di kampung yang berani adu lari dengannya. “Dulu Pak RT sering menyuruh teman saya untuk balap lari dengan saya. Ada yang disuruh pakai sepeda juga untuk melawan saya, tapi mereka tidak mau; “Ya jelas menang, Mas Dar lah Pak,” katanya sambil terkekeh-kekeh mengenang masa kecilnya.

Darmiyanto yang semakin gandrung dengan olahraga lari, kemudian semakin giat berlatih secara otodidak. Saya sendiri sempat heran, kala ia bercerita tentang metode pelatihannya. Bagaimana tidak, ia berlatih lari dengan cara mengimbangi laju kuda kesayangan pamannya. Mengenai hal tersebut, begini ceritanya: Setiap hari, Darmiyanto selalu ikut pamannya memandikan kuda. Sebelum dimandikan, Darmiyanto membawa kuda tersebut lari-lari kecil keliling lapangan. “Kudanya kadang-kadang juga negar-negar (baca: berdiri dengan dua kaki) begitu Mas kalau saya pegang tambangnya. Tapi tetap saya pegangi sampai dia lari lagi, kemudian saya ikut lari di sampingnya. Semakin lama kok kudanya berlari semakin kencang. Saya ikuti terus saja itu. Begitu terus setiap hari,” katanya.

Semakin yakin dengan kemampuannya, Darmiyanto kemudian memberanikan diri untuk mengikuti kejuaraan lari maraton antar-pelajar di Klaten. Ia mewakili sekolahnya, dan tak jarang tampil sebagai juara.

***

Darmiyanto hijrah dari Boyolali ke Salatiga, pada tahun 70-an. Ia lantas diajak Yon Daryono untuk bergabung dengan klub atletik Dragon Salatiga, pada 1974. Sejak bergabung di klub tersebut, muncul niatan Darmiyanto untuk menguji kemampuannya dengan atlet Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas). Mulanya, kala ia mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) lari maraton, dalam rangka peresmian Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah.

Darmiyanto berangkat ke Wonogiri dengan mengayuh sepeda. Suatu keputusan nekat, karena salah satu senior menganggap Darmiyanto belum mampu mengikuti kejuraan nasional. Bahkan, Darmiyanto sempat dikata tak mampu menyelesaikan pertandingan hingga garis finish. Ditambah lagi, menurut sang senior, saingan yang ada cukup berat.

Namun demikian, predikat Pelatnas ternyata tak cukup ampuh meredam semangat Darmiyanto untuk tampil di Kerjurnas. Meski Kejurnas lari maraton 42 Km di Wonogiri diikuti sejumlah atlet Pelatnas dari Jakarta, misalnya, Ali Sofyan Siregar, toh Darmiyanto tetap berangkat ke sana. “Saya ngeyel waktu itu. Nah, saat rombongan dari Salatiga berangkat ke Wonogiri menggunakan mobil, saya lalu pulang ke rumah. Pamit Istri, kemudian menyusul naik sepeda onthel. Memang ngeri ceritanya, tapi saya sungguh ingin nge-test kemampuan dan saya ingin lihat atlet Pelatnas itu seperti apa,” jelasnya.

Keinginan Darmiyanto untuk mengikuti Kejurnas pun akhirnya tercapai. Ia sungguh berlari bersama atlet Pelatnas, juga menyelesaikan pertandingan hingga garis finish. Meski tak mendapat juara, Darmiyanto tetap bangga. Kekhawatiran seniornya pun tak terbukti dalam pertandingan ini dan kabar soal Darmiyanto mulai muncul di surat kabar.

***

Pengalaman di Wonogiri kian hari kian membakar semangat Darmiyanto. Sepulang dari sana, ia lantas menambah intensitas latihannya. Pun, semakin rutin mengikuti kejuaraan lari maraton di berbagai daerah, seperti di Jakarta, Kudus, Cepu, dan Surabaya.

Darmiyanto juga bercerita, kala ia meraih peringkat kedua dalam kejuaraan lari maraton yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. “Waktu itu, lombanya di Jl. Kaliurang. Saya juara dua, dan juara satunya Gatot, tuan rumah dari Yogyakarta. Dia pelari dari Pelatnas. Lah itu pialanya, yang agak besar,” kata Darmiyanto, sambil menujuk lemari, tempat ia menaruh piala.

Kemenangan lain yang diceritakan Darmiyanto ialah, ketika ia mengikuti kejuaraan lari maraton menyambut HUT RS. Dr. Kariadi. Kala itu, ia berlari sejauh 42 Km, dari Semarang menuju Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Darmiyanto adalah kontestan tertua dan berhasil masuk dalam jajaran lima besar.

Namun demikian, kejuaraan kali ini tampak meninggalkan pengalaman absurd untuk Darmiyanto. Musababnya, sejauh ia berlari, ia selalu dibuntuti wartawan yang kemana saja membawa gelas.

Belakangan diketahui, wartawan itu menaruh curiga pada Darmiyanto yang tak kenal lelah saat berlari. “Saya ditanya, pakai doping (obat penambah stamina –red) atau tidak. Saya digegeri, disuruh kencing di gelas. Yo wis,  saya cari kebun saja. Tak kencingi itu gelasnya terus tak kasih lagi ke dia,” katanya, sambil tertawa terbahak-bahak.

Usai kejuaraan berakhir di Grobogan, Darmiyanto lantas dipanggil Gubernur Jawa Tengah, Muhammad Ismail (periode 1983-1988 dan 1988-1993). Darmiyanto mendapat jamuan dan diberi ucapan selamat oleh Mayor Jenderal TNI (Purn.) itu.

***

Darmiyanto menunjukan fotonya ketika menerima medali di Australia (Foto: Galih Agus Saputra).

Sebelum pulang, saya sempat diajak Darmiyanto melihat koleksi medali dan pialanya yang disusun rapi di lemari kaca. Secara keseluruhan, Darmiyanto sudah mengumpulkan 170 medali, dan 19 piala, yang terdiri dari piala bergilir dan piala tetap. Ketika saya coba bertanya, sampai kapan dirinya akan terus berlari, Darmiyanto menjawab, “Sejauh saya masih diberi nafas, saya akan terus berlari.”

Pada Oktober 2016 lalu, Darmiyanto juga sempat mengikuti kejuaraan lari maraton di Australia. Kala itu, ia mendapat peringkat ketiga, nomor lari jarak pendek (sprinter) 200 m. Kalau sekarang ini, Darmiyanto tengah sibuk berlatih dan mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan yang rencananya akan berlangsung di Korea, pada Maret mendatang. Namun demikian, kali ini ia masih belum tahu pihak mana yang hendak menjadi sponsor. “Apakah dari pihak Pemkot Salatiga atau Pemerintah Pusat yang akan jadi sponsor, saya belum tahu. Yang penting sekarang ini saya latihan dulu saja,” katanya.

Metode pelatihan yang diterapkan oleh Darmiyanto sekarang ini pun sebenarnya cukup unik. Bahkan, kegiatan ini tak perlu lagi disebut sebagai metode pelatihan, karena memang hal itu lah yang ia kerjakan selama ini. Setiap hari, Darmiyanto berlari sejauh kurang lebih 24 Km. Jarak tersebut adalah jarak pulang-pergi dari rumahnya di Gg. Atlet, Ngemplak Tugel, menuju Jl. Pemotongan, Salatiga atau tempat Darmiyanto biasa memarkir becak.•

Berita ini ditulis oleh Galih Agus Saputra. Pemimpin Umum LPM Lentera. Mahasiswa Ilmu Komunikasi-Jurnalistik UKSW, angkatan 2014.

Penyunting: Andri Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s