Salatiga

Merayakan Kegelapan, Satu Jam Untuk Bumi

IMG_8336

Peserta menerbangkan lampion pada peringatan Earth Hour 2017 di Agrowisata Ecopark Salatiga, Sabtu (25/3) (Foto: Andri Setiawan).

Apa yang anda lakukan Sabtu malam 25 Maret kemarin? Jalan-jalan bersama pasangan atau teman? Atau menonton TV bersama keluarga? Tahukah anda, malam Minggu kemarin adalah hari dimana Earth Hour digelar. Earth Hour dilaksanakan setiap Sabtu terakhir di bulan Maret sejak tahun 2007. Pada pukul 20.30 sampai 21.30, masyarakat diimbau untuk memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan untuk menghemat energi listrik. Acara ini diinisiasi oleh Word Wide Fund for Nature (WWF) dan agen periklanan Leo Burnett Sydney sebagai bentuk kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim.

Gerimis malam itu membuat udara lereng Gunung Merbabu semakin dingin. Orang-orang mulai memadati lokasi peringatan Earth Hour 2017 di Agrowisata Ecopark Salatiga yang menghadap langsung ke Kota Salatiga tersebut. Suasana terasa remang-remang oleh obor dan lilin karena di acara ini memang meminimalkan penggunaan lampu listrik. Acara bertajuk “Satu Jam Untuk Bumi Salatiga” ini digelar oleh komunitas Salatiga Peduli yang sudah sejak lama aktif dalam gerakan cinta lingkungan.

Peringatan Earth Hour 2017 dimeriahkan dengan Tari Rama Shinta, Ucup and The Rebel Project, Prosanada, Saung Swara dan Sub Culture. Memasuki pukul 20.30, lampu-lampu di sekitar lokasi mulai dimatikan dan setiap peserta mulai menyalakan lilin. Pembawa acara kemudian membacakan renungan untuk bumi. Setelah hampir satu jam, para peserta menyalakan lampion dan menerbangkannya ke langit beserta harapan-harapan mereka untuk bumi yang lebih baik.

Seorang anak menyalakan lampion pada peringatan Earth Hour 2017. Kesadaran akan hemat energi harus dimulai sejak dini. (Foto: Andri Setiawan).

Satu hal yang disayangkan, selama Earth Hour berlangsung lampu-lampu Kota Salatiga yang terlihat jelas dari lokasi masih nampak terang benderang. Kota kecil di kaki Merbabu ini tidak nampak lebih gelap dari sebelumnya atau bahkan malah lebih terang mengingat malam itu adalah malam minggu. Kafe-kafe dan tempat makan bisa jadi buka lebih larut dan tempat-tempat nongkrong juga sedang ramai-ramainya.

Meski demikian, Prasetyo Ichtiarto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga mengapresiasi peringatan Earth Hour 2017 karena dapat menjadi media kampanye hemat energi. Menurutnya, sosialisasi hemat energi memang harus terus berjalan agar masyarakat menjadi semakin sadar energi. “Event-event yang sudah berjalan harus berkesinambungan dengan kesadaran dari masyarakat. Masyarakat memiliki kewajiban untuk menghemat sehingga dapat mengurangi biaya untuk energi. Mari kita bersama-sama melakukan hemat energi,” terang Ichtiarto.

Senada dengan Ichtiarto, Erick Darmawan, Wakil Ketua Salatiga Peduli mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat untuk hemat energi memang masih kurang. “Masyarakat harus sadar bahwa energi dari fosil ini jumlahnya terbatas dan akan segera habis. Maka dari itu kita coba kampanyekan untuk melirik energi terbarukan yang ramah lingkungan dan tidak mencemari udara,” jelas Erick.

Meski Kota Salatiga terlihat tidak gelap ketika Earth Hour, namun ternyata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah berhasil menurunkan beban kelistrikan hingga 264 megawatt atau setara dengan Rp 346,6 juta. “Total penghematan energi listrik 7,58 persen,” ujar Paulus Kardian, juru bicara Perusahaan Listrik Negara (PLN) Yogyakarta, Minggu (26/3) seperti dilansir dari tempo.co.

Earth Hour sendiri sengaja dilakukan pada pukul 20.30 hingga 21.30 karena satu jam tersebut merupakan jam sibuk pemakaian energi. Rumah-rumah menyalakan hampir semua lampu, orang-orang menonton televisi dan menyalakan peralatan listrik lainnya. Selain energi listrik, diharapkan masyarakat juga dapat berhemat untuk energi lainnya seperti bahan bakar minyak untuk kendaraan maupun mesin-mesin lainnya.

Berita ini ditulis oleh Andri Setiawan, wartawan LPM Lentera, mahasiswa Fiskom UKSW.

Penyunting: Ruth Novita

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s