Cerpen / Sastra

10 Detik Menjemput Kematian

10 Detik Menjemput Kematian (Ilustrasi: Bima Satria Putra).

Bima Satria Putra

Seorang laki-laki tua, dengan bersemangat, masuk ke dalam bar lalu keras-keras menutup pintunya. Semua pengunjung bar menoleh, namun ia tampak tidak peduli sambil mengamati satu-satu pengunjung bar. Dari jauh ia melihat seorang perempuan cantik yang duduk sendiri di hadapan bartender, dengan bekas gincu merah mawar tebal di bibir segelas bir yang habis isinya. Ini yang dia cari.

Ia segera menghampiri dan mencoba berkenalan. “Seseorang yang tidak ingin menyebut dirinya sastrawan, menulis cerita ini, dan menginginkan aku bercerita banyak pada seorang perempuan di bar ini yang baru saja menghabiskan segelas Heineken dan hanya menyisakan bekas gincu merah yang tebal,” ujarnya.

“Siapakah yang menulis cerita itu? Dan apa yang ingin dia ceritakan? Kamu siapa?”

“Aku Wahyu. Siapa yang menulis cerita ini tidaklah seberapa penting, kamu bisa mengetahuinya di awal atau mungkin di akhir cerita. Dan aku memulainya dari sesuatu yang klise,” ujar Wahyu.

“Mas, tambah satu botol Bintang, dan satu gelas lagi yang baru, tapi biar aku yang menuangkannya,” lanjutnya. Segera bartender memberikan apa yang Wahyu pesan. Pelan-pelan Wahyu menuangkan bir itu. Seksama sekali, karena Wahyu ingin gelas itu terisi hanya setengahnya, tetapi busa-busa yang bergejolak mengaburkan batasan yang seimbang dari imaji volume simetris gelas tersebut. Wahyu berhasil. Lalu mengisinya pula ke gelas perempuan itu.

Inilah sebuah awal dari pertemuan yang mana mereka bercakap sangat panjang.

“Siapa namamu?” tanya Wahyu.

“Lah, penulis cerita menginginkan namaku siapa?”

“Ayu, supaya bersanding indah dengan namaku. Ayu, Wahyu.”

“Baik. Panggil aku Ayu. Sekarang, langsung saja ceritakan apa yang penulis ingin sampaikan.”

 

“Coba lihat gelasmu yang baru aku isi, apakah gelas tersebut setengah kosong atau setengah penuh?”

“Setengah penuh.”

“Banyak orang memakai situasi ini sebagai contoh umum dari fenomena pesimisme. Seorang pesimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah kosong, sementara seorang optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh.”

“Berarti aku seorang yang optimis?”

“Benar sekali. Tampak pula dari gincu merah di bibirmu yang meliuk. Aku yakin bibirmu adalah ciptaan Tuhan yang istimewa pada hari keenam, dan keesokan harinya ia beristirahat sambil mengagumi karya ciptaanya kemarin yang indah. Tuhan adalah seorang optimis, begitu pula karyanya.”

“Terima kasih. Sekarang, bagaimana dengan gelasmu? Apakah kamu seorang pesimis? Kamu bukan diciptakan oleh Tuhan?”

“Benar. Aku melihatnya sebagai gelas yang setengah kosong. Dan aku juga tidak peduli dengan Tuhan, sebab akulah Tuhan. Tapi jangan salah, baik optimis dan pesimis sama-sama benar dalam memandang gelas tersebut. Jadi berdebat soal mana yang benar dan berupaya memaksakan pandangannya masing-masing adalah tindakan bodoh.”

Wahyu mengeluarkan sigaret kreteknya. “Mau?”

“Tidak, terima kasih. Kamu sangat paradoks dan aku lebih suka Marlboro,” tolak Ayu dengan halus. Dan mereka berdua segera diselimuti kabut dari masing-masing rokok yang mereka hisap.

“Sekarang mari kita coba lebih serius, apakah kehidupan itu sesuatu yang menyenangkan dan lebih baik dijalani, atau sesuatu yang menyiksa dan sia-sia?” tanya Wahyu.

“Sebenarnya bagiku hidup adal…”

“Berhenti. Sebenarnya penulis tidak mau tahu jawabanmu dan tidak peduli. Sebagai penulis, ia punya kekuasaan hingga beberapa menit ke depan untuk kamu mendengarkan gagasannya,” Wahyu menyela, lalu berkata, “Sama seperti situasi yang pertama, jawaban yang dipilih akan menunjukan kecenderungan seseorang apakah dirinya seorang pesimis atau optimis”.

“Aku seorang pesimis, dan walau aku mendeklarasikannya secara terbuka baru-baru ini, aku sudah memiliki ‘kesadaran tidak sadar’ bahwa aku seorang pesimis jauh sekali sejak aku kecil. Aku takut dengan kehidupan dan semuanya dimulai dari ketakutan akan kehilangan orang tua yang aku cintai. Rasa cemas akan kematian mereka menghantuiku selama beberapa tahun, dan aku tidak nyenyak tidur jika mereka pergi keluar rumah hingga malam, apalagi jika mereka tidak kunjung pulang. Kemana mereka? Apakah mereka kecelakaan dan mati? Kemudian aku sadar bahwa hanya masalah waktu untuk mereka mati dan aku kehilangan mereka, menyisakan memori dan barang-barang peninggalannya di rumah. Sehingga ketakutanku hilang bukan karena aku tidak memikirkan hal tersebut, tapi karena aku berhasil membunuh orang tuaku terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar mati. Jadi, aku sudah kehilangan orang tua sejak kecil, bahkan walau mereka masih hidup, dan dengan demikian aku merasakan kesedihan akan kematian mereka, belajar untuk kecewa dan bersiap-siap untuk tidak kaget secara berlebihan, bahwa mereka, bagaimanapun juga akan benar-benar mati kelak.”

“Itu kejam,” ujar Ayu. Lalu menenggak habis birnya. Wahyu segera menuangnya kembali. Kali ini penuh.

“Kejam? Bagiku tidak. Ini justru tindakan jujur dan paling baik yang bisa aku lakukan sebagai sebuah subjek yang fana. Sebaliknya, tindakan itu menghasilkan keindahan dan kebaikan dalam pandangan, perilaku dan tindakanku. Aku punya sedikit waktu untuk melakukan terlalu banyak hal, karena itu aku selalu memanfaatkan setiap waktu yang bisa aku jalani bersama orang tuaku sebaik mungkin. Sebaik-baiknya yang bisa aku usahakan. Seperti ada pepatah, cintailah seseorang seperti itu adalah pertemuan terakhirmu dengannya.”

“Bagaimana dengan dirimu? Bukankah kamu juga akan mati?”

“Saat aku berdamai dengan kematian orang tuaku dan merayakannya, aku masih memusuhi diriku sendiri. Karena skenario kematian yang pasti terjadi pada orang tuaku, juga akan terjadi pada diriku. Aku sempat diliputi rasa takut yang mendalam akan kematian, serta kesedihan karena menerima kenyataan bahwa suatu saat aku akan mati. Bagiku, hidup seperti membangun istana pasir di pantai, namun dengan mudah gelombang laut menyapu dan meratakannya, bahkan walau istana tersebut belum jadi. Hidup adalah kesia-siaan, sebab segala sesuatu yang kamu usahakan direnggut semena-mena begitu saja, kapanpun, dimanapun, oleh kematian.”

“Lalu, apakah setelah itu kamu sangat menyalahkan dan membenci kehidupan? Apa kamu berpikiran bahwa ketimbang bersusah-payah membangun istana pasir yang toh akan rusak, lebih baik tidak membangunnya sama sekali? Jika suatu saat mati, untuk apa pula bersusah-susah hidup?”

“Benar sekali. Tapi kemudian aku sadar, bahwa hidup tidak pernah salah.”

“Lalu apa yang salah?”

“Sistem.” Wahyu menghisap sigaretnya dalam-dalam, dan hembusan asapnya sangatlah lama dan tebal. Sementara abu rokok Marlboro Ayu sudah melengkung, karena tidak dihisap dan tidak segera dihentak ke asbak.

“Jelaskan soal sistem yang kamu maksud?” Begitu Ayu bersemangat dan lupa dengan rokok ditangannya.

“Aku menjunjung tinggi kebebasan. Bukan kebebasan mutlak seperti orang gila, tapi kebebasan yang tidak merugikan orang lain, apapun itu. Tapi satu-satunya yang menghalangi kebebasanku adalah keberadaan kekuasaan atas diriku. Jadi, kebebasan punya kemesraan dengan kekuasaan. Kebebasan diri tercipta jika dirimu berkuasa atas diri sendiri.”

“Apa kekuasaan yang menghalangi kebebasanmu?”

“Otoritas dan bentuk-bentuk yang semacamnya.”

“Jadi kamu menginginkan kebebasan tanpa negara? Bukankah itu kekacauan?”

“Kekacauan macam apa? Pencurian?”

“Ya.” Ayu kemudian sadar dengan rokoknya, dihentaknya, lalu dihisapnya dalam-dalam. Tapi keburu habis.

“Apa itu pencurian? Begini saja, dalam hitungan ketiga, kita lari dari sini. Satu..”

“Hei, ini tidak baik!”

“Dua…”

“Tiga…”

Begitulah mereka berdua segera lari dari bar tersebut, bergandeng tangan, tanpa membayar bir yang sudah mereka minum. Bartender berteriak dan mengejar mereka. Gagal. Dari jauh mereka bisa mendengar bartender mengumpat, bahkan Tuhan pun, jika bertelinga, akan menutupnya.

Malam sudah sangat larut, dan mereka naik ke sebuah lantai paling atas dari suatu gedung, dan dari situ mereka bisa memandang bumi yang datar. “Mencuri itu dosa, tapi tidak semua pencurian adalah dosa,” ujar Wahyu.

“Maksudmu? Orang-orang miskin yang mencuri?”

“Nah, kamu paham maksudku. Kekacauan terjadi karena adanya kemiskinan dan penindasan. Apa yang barusan kita lakukan itu salah, karena pemilik bar adalah seorang kelas menengah. Curilah dari orang-orang kaya yang berkelimpahan dan serakah. Karena kekayaan adalah kejahatan. Aku munafik, tetapi aku menginginkan penghapusan kekayaan dan kemiskinan, aku menjunjung tinggi kecukupan. Jika kita mendorong kecukupan, maka setiap orang akan terpenuhi kebutuhannya, tidak ada yang kaya dan miskin. Bahkan ada satu orang kaya pun tetaplah jahat.”

“Kamu komunis? Kamu menginginkan kekayaan dibagi sama rata dan sama rasa?”

“Tidak. Aku menginginkan semua orang-orang berkerja sesuai dengan kemampuannya untuk semua orang sesuai dengan kebutuhannya. Seharusnya semuanya bisa kita dapatkan dengan gratis. Bir yang tidak kita bayar seharusnya gratis.”

“Tapi bagaimana pemilik bar dapat hidup jika semua mengambilnya cuma-cuma?”

“Pemilik bar memerlukan uang untuk?”

“Untuk makan dan membiayai pendidikan anak-anaknya.”

“Kalau begitu setiap makanan dan pendidikan harus gratis. Orang-orang serakah mempertahankan mitos bahwa segala sesuatu di bumi terbatas, karena itu persaingan ditujukan untuk merebut segala sesuatu sebanyak-banyaknya, yang terkuatlah yang menang. Ini adalah kebohongan terbesar sejak Tuhan menciptakan dunia. Kenyataannya, semua diproduksi secara massal dan berlebihan, tapi tidak semua orang bisa menikmatinya. Untuk apa? Keserakahan segelintir orang-orang! Dan mengubah sifat-sifat orang untuk menjadi tidak serakah, tidak mengkonsumsi secara berlebihan, irit dan berkecukupan adalah kebohongan terbesar kedua sejak Tuhan menciptakan dunia. Upaya itu tidaklah cukup. Pabrik-pabrik harus kita kuasai, tanah-tanah harus kita duduki, dan semuanya kita miliki dan kelola bersama untuk kesejahteraan bersama.”

“Bagaimana caranya?”

“Revolusi.”

“Apa ada yang berhasil?”

“Semuanya berhasil. Tapi banyak yang gagal, bukan karena prinsip-prinsipnya salah, atau itu terlalu utopis karena berupaya menciptakan surga di dunia, tetapi karena berhasil dihancurkan oleh orang-orang yang serakah, yang ingin tetap menumpuk kekayaan dan membuat yang lain miskin. Lagipula, Tuhan memang menciptakan segala sesuatu untuk dinikmati bersama kan? Tapi sekarang penulis sudah terlalu mengantuk, sehingga ingin mengakhiri ceritanya. Esok hari kita lanjutkan lagi,” ujar Wahyu. Begitulah mereka berada di puncak gedung dan bercinta semalaman. Bintang tidak berkedip lagi karena melotot iri.

Keesokan harinya, matahari membangunkan mereka dengan silau dan panas, begitulah mereka bangun dari tidurnya. “Apa lagi yang ingin penulis sampaikan padaku?” tanya Ayu.

“Kamu tahu? Beberapa kata sifat memiliki kontradiksi yang aneh dan bertentangan dengan maksud dan makna kata tersebut. Seperti kata perubahan. Kamu sadar tidak kalau satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan, karena segala sesuatunya berubah dan tidak mungkin perubahan berubah menjadi ketetapan. Atau seperti kata abadi? Karena satu-satunya yang abadi adalah kefanaan, segala sesuatunya fana dan tidak mungkin yang fana berubah menjadi abadi. Begitu pula satu-satunya yang akan tetap hidup adalah kematian dan aku tidak perlu menjelaskannya lagi,” ujar Wahyu.

“Terus?”

“Jadilah realistik dengan menuntut yang tidak mungkin. Yang tidak mungkin adalah kemungkinan.”

Ayu tertawa terbahak-bahak. Lalu menyalakan rokoknya yang mahal itu, dan tidak lupa, menutupi kesurgaannya dengan neraka dalam rupa pakaian. Seperti Tuhan yang pelit dan menutup pintu surga, supaya manusia tidak boleh masuk kedalamnya dan merasakan kenikmatan.

“Yang tidak mungkin itu, sebenarnya hanya susah untuk menjadi mungkin. Aku tidak ingin kamu menyetujui gagasanku, setujui gagasanmu saja sendiri, dengan demikian, kamu akan menemukan bahwa gagasan kita berdua memiliki banyak kesamaan. Tapi aku takut dan lelah, karena gagasanku tidak segera tercipta, jadi sekarang aku ingin mati.”

“Berarti kamu pengecut.”

“Memang. Aku terlalu takut untuk menjalani hidup. Mabuk dan tidur jauh lebih baik, sebab paling tidak, begitulah bentuk kematian bisa kita rasakan, dalam bentuk yang paling tidak sempurna. Inilah kematian sesaat, sementara, semu. Tapi aku tidak bisa mabuk dan tidur untuk selamanya. Mabuk memerlukan uang, dan mabuk yang nikmat harganya sangat mahal. Menjelang pertengahan bulan, ketika uangku menipis, aku harus meminum alkohol dengan harga yang murah dan tidak enak rasanya. Sementara itu, walau tidur bisa aku dapatkan dengan cuma-cuma, tapi bagaimanapun juga aku tidak bisa tidur-tiduran untuk selamanya, sama seperti minum alkohol. Ada batas toleransi biologis untuk melakukan dua aktivitas tersebut, dan ketika aku tersadar kembali dari rasa mabuk, atau terlalu lelah karena banyak beristirahat dan tidur, aku terpaksa menjalani kehidupan. Aku dibangkitkan dari kematian yang sementara itu.” Wahyu mengenakan pakaiannya.

“Makanya kamu tidak membayar bir semalam?”

“Iya. Aku termasuk hidup berkecukupan, tapi itu adalah standar-standar orang-orang yang diberikannya kepadaku. Buktinya aku tidak bisa makan bakso setiap hari.”

“Apa yang kamu lakukan supaya kamu bisa lebih sering makan bakso setiap bulannya?”

“Aku bukannya pemalas, tapi aku tidak mau membuang tenaga dan hasil kerjaku pada kapitalis. Makanya aku menulis. Tapi itu tidak cukup. Aku bahkan tidak ingin tulisanku dibayar, tapi aku terpaksa, supaya aku bisa makan lebih banyak bakso. Aku tidak ingin tulisanku dibeli, setiap rupiahnya adalah penghinaan. Bahkan dibeli seratus milyar pun aku merasa terhina, tapi aku terpaksa menerimanya. Banyak hal di dunia telah dihargai, tetapi menjadi tidak bernilai lagi. Penghargaan bukan diwujudkan melalui melalui harga.”

Ayu menghisap rokoknya. Dan mereka duduk di pembatas gedung, dan kaki mereka bergoyang seperti anak-anak yang duduk di pinggir jembatan, dimana batasan antara hidup dan mati sangat tipis. “Bagaimana merealisasikan ideal-idealku? Dengan bermain gitar? Apakah bermain gitar akan menghancurkan negara dan kapitalisme? Sepertinya tidak. Makanya aku memuja kematian,” lanjut Wahyu.

“Lalu kenapa penulis membuat cerita ini? Bukankah untuk mempengaruhi banyak orang?” tanya Ayu.

Wahyu berpikir panjang. Lalu penulis berhenti menulis cerita. Tapi tidak, aku harus menyelesaikan cerita ini. “Benar juga, bermain gitar tidak langsung merubah dunia, begitu pula dengan menulis. Tapi paling tidak, ini yang bisa aku lakukan dan ini bagianku dalam upaya menciptakan dunia yang lebih baik,” tulisku.

Mereka terdiam mengetahui ucapanku sebagai penulis. Wahyu mengambil rokok yang sedang dihisap Ayu.

“Berarti kamu bukan seorang nihilis, Wahyu?”

“Bukan. Sederhananya begini. Bagiku, seorang nihilis, seperti menganggap segala sesuatu sebagai kesia-siaan. Lagipula aku membenci Nietzsche.”

“Kenapa?”

“Karena Nietzsche sudah semakin banyak dibaca orang. Semakin tidak terkenal suatu tokoh, maka aku semakin mencintainya. Semakin tidak didengar suatu lagu, aku akan semakin mencintai grup musik yang membuatnya. Seperti yang orang-orang lakukan setiap hari. Mereka ingin membuat dirinya tampak semakin berbeda dengan yang lain, sehingga menyangkal apa yang bahkan dicintainya. Seseorang seringkali membenci lagu yang membuat dirinya ingin menari, tapi tidak menyukainya hanya karena lagu tersebut didengarkan oleh orang lain. Saat sedang jatuh cinta, pasangan-pasangan itu akan berupaya menunjukan kesamaan untuk membuktikan bahwa mereka sangat cocok. Tapi saat mereka sudah menyatu, dengan cepat pula mereka berupaya menunjukan perbedaan dan batasan-batasan masing-masing. Lama-lama aku hanya mencintai diriku sendiri.”

“Ya, kamu sangat pesimis sekali.”

“Aku tidak melihat segala sesuatu sebagai hitam dan putih macam nihilis. Segala sesuatunya itu sebenarnya tidak sisa-sia, tapi hanya nyaris sia-sia. Aku tertekan hanya karena hasrat menggebu untuk menata hidup yang lebih baik, serta kemuakanku melihat betapa nyamannya masyarakat mengubur imajinasinya dan berkompromi dengan situasi.”

“Jadi, walau kecil, itu tetap suatu kontribusi?”

“Benar. Dan jika kamu menganggap bahwa kematian adalah penderitaan, maka aku menjalani penderitaan selama hidup. Aku hidup di saat aku mati, atau merasakan kematian yang sementara itu. Itulah kehidupanku, kematian,” ujar Wahyu.

“Kamu tidak menghargai hidup. Beberapa orang berjuang untuk hidup, tapi kamu malah ingin mati? Tidak sadarkah kamu bahwa tengkorak di dalam kuburan ingin melekat dalam daging?”

“Sama seperti hak untuk hidup, semua orang punya hak untuk mati. Apa yang salah dengan keinginan seseorang untuk mati? Seharusnya kita menciptakan toko-toko alat kematian, atau jasa-jasa bunuh diri, tetapi secara gratis.”

“Apa yang membuatmu masih hidup sampai sekarang?”

“Pertama, orang-orang yang mencintaiku. Aku bisa saja melompat dari gedung ini. Tapi orang-orang sialan itu, yang mencintaiku, melarangku untuk mati. Sebab mereka egois, mereka ingin hidup mereka nyaman dan menyenangkan dengan orang-orang yang mereka cintai, bahkan walau orang-orang tersebut menderita. Mereka menginginkan aku merasakan penderitaan ini. Kedua, rasa sakit. Bahkan seandainya mereka membuat pesta dalam upayaku bunuh diri, kematian itu sakit. Aku ingin kematian yang tidak sakit, seperti disuntik mati. Jadi dua faktor itu harus terpenuhi.”

“Lompat saja dari gedung ini.”

Wahyu terdiam. Jantungnya berdebar sangat kencang dan karena rokoknya habis, dia meminta sebatang lagi dari Ayu.

“Mau mati bersamaku? Ada sebuah lagu, tentang cahaya yang tak pernah padam. Mati disampingmu adalah mati yang surgawi.”

“Itu lagu The Smith. Padahal lagunya soal kecelakan berkendara, bukan bunuh diri.”

“Persetan. Ayo mati bersamaku. Kita berada kurang lebih 200 meter dari ketinggian jalan, jika kecepatan jatuh kita adalah 20 meter per detik, kita akan mengalami tabrakan keras kurang lebih 10 detik sejak kita melompat.”

“Tapi kamu melupakan rumus percepatan. Gravitasi menarikmu lebih cepat. Pada detik-detik pertama kejatuhan, kecepatan jatuh akan lebih lama ketimbang detik-detik terakhir momentum tabrakan. Dan 10 detik akan menjadi sangat lama, seperti kita saksikan di film-film, kamu akan mengingat masa lalu dan mendadak kamu menyesal. Dan cara ini akan sangat, sangat, sangat menyakitkan.”

“Kepalamu harus jatuh terlebih dahulu. Supaya kamu langsung mati.”

Ayu terdiam lama. Lalu merebut rokok dari tangan Wahyu. “Ayo, tapi habiskan dulu rokok ini.”

Rokok mereka habis. Dan Ayu mengikuti Wahyu menjemput kematian. Otak Wahyu tercecer dan tubuh Ayu terbelah karena jatuh menimpa tiang listrik, tapi mereka tidak merasakan sakit. Sebab mereka tidak ada. Ternyata ucapan orang-orang bahwa kematian itu sakit adalah kebohongan terbesar ketiga di dunia.

Demikianlah penulis membunuh karakter dalam ceritanya, namun dia tetap hidup. Aku terlalu takut untuk mati.

Penulis adalah mahasiswa FISKOM UKSW.

Penyunting: Andri Setiawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s