Ragam

Bertandang ke Kandang Gonang

Akar Merdeka memberikan lokakarya gambar cukil (woodcut) untuk pengunjung Aksi Seni Untuk Lingkungan #2, di Taman Kota Bendosari, Salatiga, pada 24 April 2017 (Foto: Galih Agus Saputra).

Malam itu malam minggu. Hujan turun, gerimis tipis. Setiba di Purwodadi, si pedagang angkringan memberitahu kalau perjalanan yang saya tempuh dari Salatiga baru setengah-jalan untuk tiba di Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora. Perjalanan masih kurang 42 Km, dan butuh waktu kurang lebih satu jam bila sepeda motor yang saya gunakan dipacu dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam. Perjalanan yang saya tempuh ini ialah untuk berkunjung ke rumah seniman gambar cukil (woodcut). Ia adalah Judas Iskariot Nanang Gatot Sulistiyo atau yang akrab disapa Gonang.

Gonang berkesenian bersama kawan-kawannya di Akar Merdeka. Komunitas itu telah membuat puluhan bahkan ratusan karya, baik untuk tujuan profit maupun non-profit. Kalau hendak dikatakan profit, sebenarnya juga tidak profit-profit amat karena profitabilitasnya juga digunakan untuk kegiatan non-profit. Salah satu contoh, misalnya, laba hasil pesanan sablon digunakan lagi untuk pengabdian masyarakat di lembaga pemasyarakatan atau di daerah konflik agraria.

Setiba di rumah Gonang, ia lantas mengajak saya ke Kandang. Mulanya saya heran mengapa ia mengajak ke sana. Tapi, ternyata Kandang ini adalah sebutan untuk bengkel seni atau tempat yang biasa dipakai Gonang dan kawan-kawannya untuk menggagas hingga kemudian mengeksekusi sebuah karya. Kandang itu ukurannya tak terlalu besar, barang tentu hanya tujuh kali empat meter. Bengkel seni tersebut dulunya adalah kandang sapi dan karena itu pula Gonang dan kawan-kawannya dengan mudah menyebutnya Kandang.

Gonang tampak pengertian melihat saya yang agak kedinginan akibat terguyur hujan selama perjalanan. Ia mengajak saya membuat Kopi Kotok yang aromanya hampir seperti tanah. Tapi tak masalah, asalkan masih kopi hitam pasti saya habiskan. Dan betul, beberapa puluh menit kemudian kopi di cangkir saya sudah tinggal ampas. Setelah itu, tiga kawan Gonang datang. Sejauh saya ingat, nama mereka adalah Deddy dan Brekele, satu lagi saya lupa. Saya memang mempunyai kebiasaan buruk, yaitu susah mengingat nama orang kalau hanya bertemu satu waktu.

Deddy adalah orang yang paling ramai di antara semua orang yang ada di Kandang. Bahkan, kalau boleh di kata, mulut si Deddy ini bagaikan kopi tubruk. Tak seperti kopi ekspresso, atau kopi yang disajikan menggunakan cangkir vietnam drip sehingga kopi yang hendak diminum menjadi tak berampas. Sebaliknya, isi kepala si Deddy ini bisa keluar begitu saja lewat mulutnya. Nyrocos kalau kata orang Jawa, seperti Mliwis–bebek rawa.

Malam itu, Deddy membuat semua orang yang ada di kandang sakit perut menahan tawa. Di saat Gonang menjelaskan salah satu karyanya yang mengangkat tema pendidikan, Deddy malah melontarkan banyolannya. Gonang menginginkan semua orang yang melihat Education Not For Sale (2014) dapat menangkap pesan bahwa, sejatinya pendidikan itu dapat diterima siapa saja tanpa tedeng aling-aling. Tapi, Deddy berkata lain, ia menganggap bahwa pendidikan gratis itu aneh. Menurutnya, jika hal itu terjadi, keluhan orang tua soal mahalnya biaya pendidikan bakalan hilang dan itu dianggapnya tidak keren. “Lagi pula, kalau pendidikan itu gratis, waktu bermain anak pasti berkurang. Semuanya jadi sibuk di sekolah, kan gratis,” kata Deddy, disambut tawa semua orang yang ada di Kandang.

Melalui Education Not For Sale (2014), Akar Merdeka hendak menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa sejatinya pendidikan itu dapat diterima oleh siapa saja tanpa tedeng aling-aling (Foto: Muhammad Bagus)

Akibat ulah Deddy malam itu, udara di Kandang menjadi terasa panas. Keresahan soal biaya pendidikan sejenak sirna bersama banyolannya. Sebagian besar orang sudah mengantuk dan mulai tidur di Kandang. Ada pula yang tidur di rumahnya Gonang. Sementara saya sendiri, memilih tidur di hammock yang terikat pada dua tubuh pohon nangka di depan Kandang.

***

Langit tampak biru, membentang luas di atas Kandang. Sementara Gonang, pagi itu keluar dari dalam rumah sambil membawa baki, yang di atasnya terdapat tiga cangkir berisi kopi. Saya yang baru bangun tidur, lalu mengampirinya kemudian ikut duduk di atas batu, di sebelah pohon nangka. Usai menyeruput kopi buatan Gonang, saya kemudian merasa risih melihat kuku saya yang sudah lumayan panjang dan berwarna hitam di ujungnya. Merasa seperti itu, saya kemudian meminjam pemotong kuku ke Gonang. Gonang tidak meminjamkan pemotong kuku yang diambilnya, tapi malah menggunakannya terlebih dahulu. Sekarang, ia tampak perhatian betul dengan kebersihan badannya. Padahal, selama ini saya sering melihat tangannya belepotan tinta sablon atau tinta offset yang digunakannya untuk membuat gambar cukil. “Kasihan anak saya kalau tangan saya kotor,” kata Gonang, sambil menggunting kukunya.

Gonang sekarang sudah punya anak, tapi belum menikah. Ia bercerita kepada saya, kalau ia sempat menyampaikan keresahannya kepada kawan-kawan di Akar Merdeka. Keresahannya itu soal anak-anak yang terlahir tanpa Bapak atau Ibu, entah karena yatim atau piatu, atau yatim-piatu sejak lahir, atau karena seks tidak bertanggung jawab. Atas dasar itu pula Gonang kemudian mengadopsi anak dari rahim seorang perempuan di daerahnya. Gonang tidak banyak menceritakan bagaimana latar belakang kelahiran anak tersebut, tapi yang jelas ia sangat sayang, dan hendak membiayai semua kebutuhan hidup anak tersebut. “Ini hanya satu anak, masih ada ribuan bahkan jutaan anak yang bernasib demikian di Indonesia,” jelasnya.

Dalam berkesenian, baik Gonang maupun kawan-kawannya di Akar Merdeka memang selalu berusaha melakukan pembacaan terhadap isu sosial dan lingkungan hidup. Ini bukan upaya pengkultusan seorang Gonang, tapi sejauh yang saya tahu, Gonang memang banyak dikenal oleh kalangan anak muda di daerahnya. Pagi itu, setelah menghabiskan kopi di bawah pohon nangka dan juga mandi, saya sempat diajak Gonang untuk berkunjung ke rumah kawannya di seberang desa. Di sana, belasan anak muda tampak menghargai kedatangan Gonang, mulai dari anak muda penikmat aliran musik Punk hingga mereka yang berprofesi sebagai supir truk. Kawan-kawannya itu juga sering melakukan pengabdian masyarakat bersama Gonang melalui kerja-kerja kesenian.

Usai mengunjungi kawan Gonang di seberang Desa, kami kembali lagi ke Kandang. Pada kesempatan inilah Gonang banyak bercerita soal karya. Ada tiga karya yang ia ceritakan, poster Urut Sewu (2016), serta gambar cukil Equality before The Law (2015), dan Banyu Kanggo Panguripan (2014).

***

Dari kiri ke kanan: Gambar cukil (woodcut) Lovers Walking in the Snow (dikerjakan sejak 1764) oleh Suzuki Harunobu, dan Evening Snow at Kanbara (1833–1834) oleh Utagawa Hiroshige (Dok. Heilbrunn Foundation).

Gambar cukil mulanya dikenal pada abad ke delapan, di Jepang. Kala itu, teknik ini digunakan untuk menyebarkan teks, terutama dalam kitab suci ajaran Buddha. Seniman gambar cukil asal Jepang, Tawaraya Sotatsu yang meninggal pada 1640, juga menggunakan teknik ini untuk mencetak desain di atas kertas dan sutra pada awal abad tujuh belas. Selain Sotatsu, dikenal pula seniman kenamaan seperti Suzuki Harunobu (1725-1770) dan Utagawa Hiroshige (1797-1858), dimana pada masa ini setiap cetakan dikerjakan empat ahli; perancang; pemahat; pencetak; dan penerbit. Sebuah cetakan biasanya dipahami dan dikeluarkan sebagai upaya komersialisasi oleh penerbit atau penjual buku. Merekalah yang memilih tema dan menentukan kualitas pekerjaannya, atau bisa dikatakan bahwa perancang selalu bergantung pada keahlian dan kerja sama antara pemahat dan pencetak yang bertanggung jawab untuk mengeksekusi sebuah gagasan. Gambar cukil kemudian masuk ke Eropa pada masa Renaisans (abad 14-17). Dimana lahirnya masa ini ditandai dengan adanya transformasi kebudayaan, yang mulanya bersifat teologis menjadi kebudayaan yang sarat akan kehidupan intelektual. Pada masa ini pula, berbagai upaya pencarian realisme sosial dan emosi manusia dalam seni banyak dilakukan oleh akademisi Renaisans melalui pendekatan humanis.

Albrecht Dürer (1471–1528) adalah salah satu seniman gambar cukil yang banyak dikenal di Jerman, sementara Tiziano Vecellio atau yang akrab disiapa Titian (1488–1576) juga telah dikenal karyanya di Italia. Dürer lahir di wilayah Franconian, atau lebih tepatnya di Nuremberg, Jerman yang kala itu menjadi salah satu pusat artistik terkuat di Eropa pada abad 15-16.  Dalam berkesenian, Dürer banyak belajar dari ayahnya, seorang pemandai emas, dan pelukis lokal seperti Michael Wolgemut. Bengkel milik Wolgemut itu, banyak menghasilkan gambar ilustrasi yang diantaranya dibuat dengan teknik cukil baik untuk buku dan berbagai macam publikasi lainnya. Pada usia tiga puluh, Dürer menyelesaikan serial gambar cukil yang menempatkan aspek religius sebagai subjeknya. Serial tersebut terdiri dari The Four Horsemen, from The Apocalypse (1498), The Large Woodcut Passion Cycle (1497–1500), dan The Life of the Virgin (mulai dikerjakan pada 1500). Samson Rending The Lion (1497–1498) juga menjadi salah satu karya fenomenal dari Dürer. “Seniman brilian Jerman, Albrecht Dürer telah mentransformasikan gambar cukil (woodcut) sebagai medium, seperti pada Samson Rending the Lion,” tulis Wendy Thompson dalam The Printed Image in the West: Woodcut (2003).

Titian mulai dikenal atas pilihan warnanya yang luar biasa. Pendekatannya untuk sebuah lukisan, sangat berpengaruh hingga abad tujuh belas dan berkontribusi besar pada semua area utama seni Renaisans, misalnya lukisan untuk altar, potret, mitologi, dan bentangan lukisan di pastoral. Dalam berkesenian, Titian banyak berlatih pada seniman yang dibersarkan melalui mazhab Venesia (Venetian Artist) seperti Giovanni Bellini (1459-1516) dan Giorgione (1477/8-1510). Seperti yang telah dicatat Departemen of European Paintings dalam Titian (ca. 1485/90–1576) (2003), Titian sempat berkolaborasi dengan dua seniman tersebut, sementara pendekatan yang mereka gunakan pada lukisan dianggap begitu menggugah karena keindahan alam yang terdapat pada bentangan lukisan di pastoral dirayakan bersamaan dengan musik dan cinta. Beberapa karya Titian yang terkenal di antaranya, Saint Jerome in the Wilderness (pertengahan abad 16), Landscape with Goat (1500–1511), dan Two Satyrs in a Landscape (1505–1510). Ada juga Assumption of the Virgin (1516-1518) yang terdapat pada altar Santa Maria Gloriosa dei Frari.

Dari kiri ke kanan: Gambar cukil (woodcut) Samson Rending the Lion (1497–1498) oleh Albrecht Dürer, dan St. Jerome in the Wilderness (dikerjakan pada pertengahan abad 16) oleh Tiziano Vecellio (Titian) (Dok. Heilbrunn Foundation).

Gonang sendiri menekuni gambar cukil bersama Akar Merdeka sejak pertengahan 2011. Namun demikian, jauh sebelumnya, Gonang telah banyak melihat karya yang dibuat oleh Taring Padi dan Taring Babi atau lebih tepatnya disaat ia masih sering bermain musik Metal dari panggung ke panggung. Baik Taring Padi dan Taring Babi, keduanya adalah lembaga budaya kerakyatan di Indonesia yang lahir sejak 1998 dan telah merespon fenomena sosial-politik yang ada melalui kerja-kerja kesenian. Taring Babi juga erat kaitannya dengan salah satu band di Indonesia, yang memainkan musik beraliran Punk yaitu Marjinal. “Taring Babi itu adalah sebuah komunitas, dan di dalamnya ada kegiatan bermusik, dengan nama Marjinal. Disini kita coba menyuarakan apa yang selama ini ingin kita suarakan melalui media musik,” kata Bob, salah satu personil Marjinal kepada Septian Nugraha dalam Komunitas Taring Babi, Berawal Dari Anti Rakus dan Berkolektif Positif (2014). Sementara itu, karya Taring Padi saat ini telah terdokumentasikan dalam Taring Padi: Seni Membongkar Tirani (2010). Seperti yang dikatakan Alexander Supartono dalam Taring Padi: Seni Membongkar Tirani (2010), dengan pengategorian dan pembacaan, buku ini mendokumentasikan reaksi radikal pekerja seni seperti TP (akronim dari Taring Padi –pen) terhadap perubahan sosial-politik di Indonesia sejak Reformasi 1998. Bentuk reaksi itu adalah kerja seni kolektif yang progresif, inklusif, militan, dan berkelanjutan sampai sekarang.

***

Gonang, laki-laki berambut panjang lurus, selurus rambut perempuan di iklan sampo itu menceritakan bagaimana tumbuhnya gagasan, berikut lakunya bersama kawan-kawan di Akar Merdeka dalam berkesenian. Selama ini, pandangan hidup Samin Surosentiko (1859-1914) yang kemudian disebut ajaran Samin (Saminisme) sering dirujuk ketika menggagas sebuah karya. Gonang sendiri cukup fasih kala ditanya beberapa pandangan hidup yang pernah disampaikan Samin. Beberapa di antaranya yang ia jelaskan adalah; Banyu Kanggo Panguripan (baca: air untuk penghidupan); Rukun Ing Paseduluran (baca: hidup rukun dalam persaudaraan); serta Lakonana Sabar Trokal. Sabare Dieling-eling. Trokale Dilakoni (baca: jalanilah perbuatan baik dengan sabar. Sabarnya diilhami. Perbuatan baiknya dijalankan). Ketiga pandangan hidup tersebut menjadi landasan filosofis dan dapat dilihat pada tiga karya Akar Merdeka, yaitu Equality before The Law (2015), Banyu Kanggo Panguripan (2014), dan poster Urut Sewu (2016).

Poster Urut Sewu (2016) adalah karya solidaritas Akar Merdeka untuk masyarakat pesisir Urut Sewu, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah yang mengalami konflik agraria dengan aparatur negara pada 2011 (Foto: Muhammad Bagus).

Poster Urut Sewu (2016) dibuat sebagai bentuk solidaritas seniman Akar Merdeka untuk masyarakat pesisir Urut Sewu, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah yang mengalami konflik agraria dengan aparatur negara pada 2011. Poster Urut Sewu (2016) juga dibuat untuk peringatan 5 tahun kejadian tersebut. Berdasarkan catatan kronologis yang dibuat Tim Penutur Selamatkan Bumi dalam Kronologi Konflik Tanah Pesisir Urut Sewu, Kebumen, Jawa Tengah (2014), kejadian ini menyebabkan 6 petani dikriminaliasasi (menggunakan pasal pengrusakan dan penganiayaan), 13 orang luka-luka, 6 orang diantaranya luka akibat tembakan peluru karet, dan di dalam tubuh seorang petani lainnya bersarang peluru karet dan timah. Selain itu, 12 sepeda motor milik warga dirusak dan beberapa barang seperti handphone, kamera, dan data digital dirampas secara paksa oleh aparat. Persoalan agraria di Indonesia memang cukup pelik dialami masyarakat, dan tak kunjung menemui titik tertang dari tahun ke tahun. Tak jarang pula, para pejabat publik, pemodal, dan aparatur negara terlibat di dalamnya.

Sebagai penikmat karya atau desain komunikasi visual, saya ini tergolong penikmat yang amatiran. Saya tidak tahu banyak soal aliran yang ada pada karya visual misalnya lukisan abstrak atau seni rupa. Oleh karena itu, saya kemudian membuka makalah Sumbo Tinarbuko tentang Semiotika Analisis Tanda Pada Karya Desain Komunikasi Visual (2003) sebelum menikmati karya dari seniman Akar Merdeka. Menurut Sumbo, semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. “Pesan yang terdapat pada berbagai karya desain komunikasi visual adalah pesan yang disampaikan kepada khalayak sasaran dalam bentuk tanda. Secara garis besar, tanda dapat dilihat dari dua aspek, yaitu tanda verbal dan tanda visual. Tanda verbal didekati dari ragam bahasa, gaya penulisan, tema dan pengertian yang didapatkan. Sementara tanda visual dilihat dari cara menggambarkannya, apakah secara ikonis, indeksikal, atau simbolis,” tulis Sumbo.

Poster Urut Sewu (2016) terdiri dari beberapa gambar seperti gedung bertingkat, kepulan asap, barisan aparatur negara, pagar kawat berduri, barisan petani, dan manusia berdasi yang tampak sedang menjatuhkan 4 bom. Tiga di antara empat bom tersebut terdapat tulisan “Kapitalis,” “Penguasa,” dan “Oknum”. Selain itu, ada juga tulisan “Petani Dilarang Masuk” yang menempel pada pagar kawat berduri. Kalau dilihat dari beberapa tanda yang ada, baik tanda visual maupun verbal pada poster Urut Sewu (2016), Akar Merdeka hendak menyampaikan pesan yang menjelaskan adanya konflik antara petani dan aparatur negara. Di atas aparatur negara itu terdapat manusia berdasi yang melemparkan bom–Kapitalis, Penguasa, dan Oknum-ke tengah kerumunan petani yang geraknya telah dibatasi dengan pagar kawat berduri. Manusia berdasi itu sendiri berasal dari daerah perkotaan yang memiliki sekian banyak gedung bertingkat dan diselimuti asap polusi. “Seperti itulah yang terjadi di sana. Padahal pemimpin ini kan sebenarnya kita sendiri yang memilih, tapi kok malah melakukan penindasan,” kata Gonang. Kondisi ini tampak kontras dengan apa yang disampaikan Samin tentang Rukun Ing Paseduluran. Pemimpin yang telah dipilih oleh masyarakat tak mampu menjadi pengayom, namun sebaliknya malah melanggengkan tindakan represif melalui aparatur negara kepada masyarakatnya sendiri.

Equality before The Law (2015) dibuat kala seniman Akar Merdeka melakukan pengabdian masyarakat yang ditujukan bagi narapidana di Lapas Klas 1 Madiun. Kala itu, ada dua misi yang diusung seniman Akar Merdeka melalui pengabdian masyarakat tersebut; pertama, untuk memberikan keterampilan bagi narapidana di dalam Lapas sehingga mereka tetap dapat berkarya dan memiliki pendapatan ekonomi selama di dalam penjara; dan kedua, Akar Merdeka bermaksud membantu mengurangi beban psikologis narapidana, yang selama ini hanya dapat memandang tembok putih di blok-blok penjara. Kegiatan itu kemudian disambut baik oleh penghuni Lapas, baik oleh para sipir dan narapidana. Beberapa program yang telah mereka kenalkan juga berjalan dengan baik dan berkesinambungan, bahkan melahirkan komunitas kerja kreatif para narapidana yang diberi nama Seni Untuk Kedaulatan Rakyat (Suket). Kabar terakhir yang diterima Gonang, Suket berkembang dengan pesat di Lapas Klas 1 Madiun. Regenerasi pengurusnya juga berjalan dengan baik, bahkan mereka sudah memiliki galeri seninya sendiri dan memiliki brand untuk produk mereka yaitu Bui Power. Produk Bui Power sering dipesan oleh para sipir, dan tak jarang pula para sipir membantu memasarkan produk mereka ke masyarakat luar. “Yang tidak kalah penting, melalui kegiatan ini kegelisahan para narapidana di dalam penjara bisa tersampaikan ke masyarakat luar lewat karya seninya. Pinginnya sih kegiatan semacam ini bisa kita lakukan di penjara di seluruh Indonesia. Kan positif kegiatannya,” terang Gonang.

Equality before The Law (2015) adalah retrospeksi angan-angan seniman Akar Merdeka atas hukum di Indonesia yang seharusnya dijalankan dengan mengedepankan prinsip egaliter (Foto: Muhammad Bagus).

Pahatan pada Equalitiy before The Law (2015) terdiri dari beberapa gambar. Dua bagian yang paling kentara dalam desain ini adalah gambar tangan menengadah, dan timbangan. Pada bagian atasnya terdapat tulisan Equality before The Law (baca: Kesetaraan di hadapan hukum), sementara pada bagian bawahnya terdapat tulisan Akar Merdeka. Melalui kumpulan tanda, baik verbal maupun visual itu Akar Merdeka hendak meretrospeksikan angan-angannya akan hukum di Indonesia yang seharusnya dijalankan dengan mengedepankan prinsip egaliter. Seniman di Akar Merdeka cukup resah dengan penegakan hukum di Indonesia, yang sejauh mereka ketahui selama ini selalu berjalan timpang atau tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Fenomena itu dapat dijumpai pada sejumlah kasus yang seakan memberi kesan bahwa penegakan hukum di Indonesia hanya berpihak pada kalangan borjuis dan kalangan elit politik. Ingatan masyarakat akan sosok laki-laki dengan gaya rambut belah tengah dan berkaca mata, dalam perhalatan tenis Internasional Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali pada 2010 tentu masih segar. Dia, Gayus Tambunan terdakwa kasus mafia hukum dan mafia pajak, yang pada masa itu ditahan di Rumah Tahanan Brimob Kepala Dua, Depok masih dapat liburan di luar penjara dengan cara menyuap uang kepada sejumlah petugas. “Kalau maling kecil saja ditindas betul-betul, dipukuli juga. Tapi kalau koruptor yang banyak merugikan masyarakat luas di biarkan enak-enak. Dihukum pun hukumannya enak. Ini kan tidak benar, harusnya kita semua sama di mata hukum,” tegas Gonang.

Banyu Kanggo Panguripan (2014) adalah karya dari Akar Merdeka yang selama ini selalu dibawa ke mana saja. Baik pada saat Akar Merdeka mendapat undangan untuk memajang karyanya dalam suatu perhelatan pameran lukisan, maupun disaat Akar Merdeka menggelar lokakarya di suatu tempat. Banyu Kanggo Panguripan (2014) adalah retrospeksi dari pesan Samin Surosentiko yang mewanti-wanti agar sumber mata air selalu dijaga dengan sungguh-sungguh karena menjadi kebutuhan vital masyarakat. “Memang ini yang selalu kita kampanyekan. Kemana saja selalu kami bawa, di Festival Mata Air, Aksi Seni Untuk Lingkungan, Forest Art Camp, peringatan Hari Bumi, ini selalu menjadi isu utama yang kami bawa. Sampai kapan pun kami ingin masyarakat tahu pentingnya sumber mata air itu seperti apa,” jelas Gonang.

Gambar kendi dalam Banyu Kanggo Panguripan (2014) menjadi simbol tanah air. Sumber mata air selalu ada di tanah yang ditumbuhi berbagai macam tanaman, atau pohon-pohon tinggi nan menjulang dan lebat. Tangan manusia pada bagian atas dan bawah, mengambarkan seseorang yang hendak meminum air dari dalam kendi tersebut. Namun, ada rantai yang membelegu kedua tangan itu, ini adalah satir seniman Akar Merdeka untuk fenomena privatisasi sumber mata air. “Air itu airnya siapa kok di jual,” tanya Gonang. “Air adalah sumber kehidupan yang melimpah ruah dan seharusnya bisa dinikmati siapa saja tanpa selubung komersil,” imbuhnya. Kendi dalam Banyu Kanggo Panguripan (2014) juga memiliki mata pada bagian tubuhnya, ini melambangkan sang Khalik yang setiap saat mengawasi tindak tanduk manusia. “Pasti ada balasan yang setimpal bagi orang-orang serakah,” kata Gonang, menutup cerita soal karyanya.

Banyu Kanggo Panguripan (2014) selama ini menjadi fokus utama dari Akar Merdeka dalam mengkampanyekan air sebagai sumber kehidupan (Foto: Muhammad Bagus).

Perbincangan soal karya Akar Merdeka seakan membuat saya dan Gonang lupa waktu. Tak terasa, jam di telepon genggam saya sudah menunjukan pukul 22.00 WIB. Kami pun saling pandang kemudian tertawa bersama, disusul Gonang yang berkata, “lama juga perbincangan kita.” Sehari sebelum berangkat, Gonang sempat menyuruh saya untuk membawa kaus polos bila berkunjung ke rumahnya. Ia akan mencetak salah satu gambar cukil Akar Merdeka pada kaus polos yang saya bawa. Walhasil, pada malam itu pula saya diajarinya mencetak gambar cukil. Karya yang saya pilih untuk dicetak adalah Banyu Kanggo Panguripan (2014).

Kunjungan ke Akar Merdeka ini setidaknya memberikan pemahaman kepada saya bahwa media komunikasi selalu berevolusi seiring berkembangnya peradaban manusia. Dewasa ini, kita mengenal berbagai macam media, baik media tradisional: seperti koran, televisi, dan radio, maupun media yang paling mutakhir seperti internet. Tapi, jauh sebelum itu, manusia juga mengenal media yang lahir jauh sebelum peradaban modern, salah satunya gambar cukil (woodcut) yang juga dikenal sebagai xylography. Pun, pesan yang disampaikan melalui media tersebut, telah melalui proses yang amat panjang, entah melalui pembacaan isu sosial, politik, dan ekologi, atau berangkat dari landasan filosofis atau pandangan hidup seorang tokoh yang ajarannya telah diamini banyak orang. Setiba di kamar kos, saya kemudian merebahkan tubuh di atas kasur, kemudian sempat membayangkan gambar yang telah melekat ribuan tahun lamanya di gua-gua dan gunung batu. Dalam diam, saya berkata, “Bagaimana rasanya bertamasya ke jaman purba?”•

Tulisan ini dibuat oleh Galih Agus Saputra. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi-Jurnalistik Fiskom, UKSW. Aktif sebagai Staf Advokasi di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Semarang, dan Sekretaris di Kerja Kreatif Akar Rumput, komunitas pemuda-seniman-aktivis-mahasiswa yang menaruh perhatian pada persoalan lingkungan hidup. Dapat dihubungi melalui galihagussaputra8@gmail.com.

Penyunting: Andri Setiawan dan Bima Satria Putra

Klik video di bawah ini untuk menyaksikan kunjungan Redaksi LPM Lentera ke Kandang Gonang:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s