Opini

Konflik Sebagai Strategi Perubahan: Belajar Dari Konflik UKSW

Ilustrasi: Rio Hanggar Dhipta

Opini oleh John Ihalauw, Rektor UKSW 1993-2001.
Kini menjadi guru besar di Universitas Bunda Mulia, Jakarta.

Kehebohan yang terjadi di UKSW itu bermula dari proses pergantian Rektor. Pemilihan dan pergantian rektor adalah sepenuhnya kewenangan dari Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) sebagai Badan Hukum yang menyelenggarakan UKSW. Ketika proses pencarian bakal-calon rektor dimulai, saya tidak berada di kampus; saya sedang menjalani bulan-bulan terakhir dari masa lima tahun cuti. Ketika itu saya bekerja di Jakarta dan menjadi Presiden Direktur dari sebuah perusahaan farmasi yang sedang dipersiapkan untuk go-public. Tetapi pada akhirnya diputuskan untuk melakukan private placement saja karena kondisi pasar modal yang tidak kondusif.

Sejumlah unit meminta kesediaan saya untuk menjadi bakal-calon rektor. Sebagai alumnus yang pernah menjadi aktivis senat Fakultas Ekonomi, memimpin Lembaga Penelitian (dua tahun), mantan Dekan Fakultas Ekonomi (empat tahun) dan mantan Pembantu Rektor I Urusan Akademik (lima tahun) di UKSW, saya menyatakan kesanggupan saya. Sampai di situ keterlibatan saya. Selebihnya adalah dinamika dari universitas.

Hal pertama yang menimbulkan silang pendapat terjadi karena dicampuradukannya dua tahapan yang berbeda: tahapan nominasi atau penjaringan bakal-calon rektor dan tahapan pemilihan calon rektor sebagai usul dari senat. Apabila dua tahapan itu dipandang sebagai satu tahap saja, maka bakal-calon rektor yang diusulkan oleh setiap unit sekaligus juga adalah pilihan unit yang bersangkutan dalam tahapan pemilihan calon rektor. Pada pihak lain yang memandangnya sebagai dua tahapan yang berbeda, bakal-calon rektor yang dijaring dari unit tidak harus sama dengan yang dipilih untuk menjadi calon-rektor.

Di senat universitas, senator membicarakan kepentingan universitas, bukan kepentingan unit. Sehingga senator bebas untuk memilih siapapun sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan universitas. Hal kedua yang tidak kalah seru adalah tentang kewenangan senat universitas dan kewenangan YPTKSW. Ada pihak yang berpendapat bahwa Senat Universitas memiliki kewenangan tertinggi untuk memilih rektor dan YPTKSW hanya sebagai juru stempel saja.

Pada pihak lain, secara legal formal YPTKSW sebagai badan hukum yang menyelenggarakan UKSW memiliki kewenangan penuh untuk memilih dan mengganti rektor. Peran senat universitas hanyalah sebatas menyampaikan usul yang merupakan hasil keputusan rapat senat universitas. Artinya usulan itu bisa diterima, bisa juga ditolak. Justru karena kewenangan itulah YPTKSW menugaskan untuk dimulainya proses penjaringan bakal-calon rektor dan pemilihan calon – rektor untuk diusulkan ke YPTKSW.

Konflik juga memiliki daur-hidup. Jika pada tahap awal konflik benih-benih silang-pendapat tidak terselesaikan dengan baik, maka proses konflik bereskalasi. Para pihak yang berselisih mencari pembenaran diri masing-masing dan seiring dengan itu mendiskreditkan pihak lain. Itu dilakukan dengan berbagai macam cara yang tak terbayangkan sebelumnya. Puncak konflik adalah ketika peraturan yang merupakan aturan main bersama harus ditegakkan dan dilaksanakan demi menjaga keutuhan dan kewibawaan organisasi (UKSW), khususnya kelancaran proses belajar mengajar dengan segala resiko yang telah diperhitungkan dengan matang.

Sesudah keputusan itu dilaksanakan, proses konflik menurun dan akhirnya reda dengan sendirinya. Mungkin banyak pihak yang merasa risih dengan kejadian yang menimpa UKSW. Mereka memandang UKSW yang baik adalah UKSW yang tenang-tenang saja. Namun bagi saya, justru dengan konflik ini UKSW berkesempatan untuk menunjukkan bahwa sebagai sebuah organisasi UKSW memiliki daya-tahan yang luar biasa dan mampu memanfaatkan konflik sebagai sebuah strategi untuk mendorong perubahan.

Setiap organisasi yang inovatif harus memiliki daya-tahan seperti yang telah diperlihatkan UKSW. Selain itu perlu diingat pula bahwa konflik adalah hal yang normal dalam kehidupan sebuah organisasi; konflik bukan sesuatu yang luar biasa dan karena itu perlu dikelola. Sebagai suatu strategi perubahan, konflik membuka peluang untuk mengubah hal-hal yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan organisasi. Itu sebabnya UKSW mengadakan sejumlah perbaikan dan penyempurnaan dalam berbagai ketentuan dan peraturan serta manajemen organisasi.

Selanjutnya konflik juga memberi kesempatan bagi siapapun untuk memutuskan apakah akan terus berkiprah dalam organisasi yang bersangkutan atau hijrah ke organisasi lain. Perlu kiranya diingat bahwa tak ada seorangpun yang tak tergantikan. Bahwa kompetensi inti yang dimiliki organisasi perlu diperlihara, itu adalah hal yang seharusnya dilakukan. Namun demikian keinginan itu tidak meniadakan hak seseorang untuk mencari peluang lain yang menurutnya lebih sesuai dengan dirinya. Ketika konflik mencapai puncaknya, banyak pihak yang menguatirkan tentang masa depan UKSW. Apalagi, tanpa disadari dan diketahui banyak orang, ketika itu UKSW juga dilanda financial distress yang luar biasa, bahkan sejak sebelum berlangsung eskalasi konflik. Data memperlihatkan jumlah mahasiswa masing-masing 1993 (6.432 orang), 1994 (6.770 orang), 1995 (6.286 orang),
1996 (6.056 orang), 1997 (6.352 orang), 1998 (7.019 orang), 1999 (8.178 orang), 2000 (9.247 orang) dan 2001
(10.351 orang). Data ini memperlihatkan bahwa dampak konflik terasa dalam tahun 1995 dan 1996.

Dalam dua tahun situasi berbalik. Tahun 1997 terjadi pemulihan dan terus semakin sehat pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun-tahun sesudah itu kesehatan finansial UKSW semakin kuat pula, sehingga berbagai program studi baru dapat diluncurkan, renovasi dan pembangunan fasilitas baru dapat terlaksana. Bahkan semasa konflik dan tahun-tahun sesudahnya program studi-lanjut dosen ke aras S2 dan S3 di dalam dan di luar negeri tidak dikendorkan. Semua peristiwa di atas memperlihatkan jika konflik dikelola dengan baik dan dibangun kerjasama dan komitmen baru dari semua pihak yang berkepentingan, maka kemajuan yang bermanfaat bagi semua pihak dapat diraih pula. Namun, itu semua harus dilaksanakan beralaskan “takut akan Tuhan”. Itu saja. •

Tulisan ini pernah terbit di majalah IMBAS edisi November 2006 dan majalah Lentera Nomor 4/2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s