Ragam

Tansah Ora Enak Rasane

Soesilo Toer, penulis Republik Jalan Ketiga (2017), dan pendiri Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) di Blora, Jawa Tengah (Foto: Bagus Muhammad).

Pada suatu siang, sinar matahari menyusup ke ruang tamu melalui celah-celah kelambu yang menempel pada kaca di sebuah pintu. Sesosok lelaki tua yang mulai berat langkahnya, berjalan kemudian mengintip dari balik kelambu itu. Langkahnya tampak berat, tapi suaranya yang lantang tak menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang ragu-ragu. Digenggamlah gagang pintu itu, kemudian di-ongkek-lah ke bawah menggunakan tangan kanan yang kulitnya keriput. “Parkirlah motormu di belakang. Langsung masuk saja ke perpustakaan,” katanya, sambil melongokkan kepala. Saya cukup terperangah melihat sikapnya yang seperti itu. Toh, dia tidak mengenal siapa saya begitu juga sebaliknya. Itu bodoh, saya pikir. Tidak kenal kok dipersilahkan masuk begitu saja. Siapa tahu saya ini orang jahat, yang bisa berbuat apa saja.

Ia adalah Soesilo Toer, adik dari Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kenamaan di Indonesia asal Blora yang hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara. Sekarang ini, Soesilo, atau yang akrab dipanggil Ncus oleh Pram itu, juga menghabiskan masa tuanya di Blora, dan mendirikan Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) untuk mengenang kakaknya. Ada ratusan bahkan ribuan buku di Pataba, baik buku yang membahas persoalan ekonomi, politik, sastra, atau ensiklopedia britanica, dan lain sebagainya. Tapi, kunjungan saya ke Pataba ini bukanlah untuk melihat koleksi bukunya. Ketika itu, saya pikir ada Ncus yang bisa diajak bertukar cerita. Lagi pula, saya yakin sudah banyak literatur yang bersarang di otaknya. Hal itu terbesit dalam pikiran saya, ketika melihat poster yang dipajang oleh Ncus di depan rumah. “Bacalah, bukan bakarlah,” seperti itu pesan verbalnya.

Saya menginap di Pataba selama dua hari satu malam. Dan selama saya menginap ini pula, Ncus sering membuat saya kagum dengan ceritanya. Bahkan, Ncus kerap kali membuat saya hampir lupa diri. Perangaiku dikatanya mirip sekali dengan Pram. Saya sempat curiga kalau itu hanya caranya untuk mengakrabkan diri. Toh, pengetahuan soal sastra, juga perbendaharaan kata saya tak seluas Pram. Namun, Ncus lagi-lagi mengeluarkan sanjungannya kala mengamati tulisan tangan saya di buku harian yang saya bawa. “Ini benar-benar tulisan Pram. Tekunilah, bakatmu menulis,” katanya. Mendengar ucapan itu, saya merasa seperti terbang tinggi-melayang ke udara. Berulang kali ia mengatakan tulisan saya mirip dengan tulisan tangan Pram, hanya saja tulisan tangan saya tegak sementara tulisan tangan Pram miring ke kanan beberapa derajat. Entah perkataan Ncus itu dibuat-buat atau tidak, atau barang tentu ini adalah strateginya untuk meregenerasi penulis di kalangan anak muda, setidaknya hal ini -walau tetap terlihat narsis- menjadi stimulan positif bagi saya untuk memantapkan diri sebagai seorang penulis. “Tekunilah, anda pasti punya pengaruh dan akan menjadi orang hebat,” katanya sekali lagi, dan saya pun tersenyum.

Ncus orangnya gemar sekali berdiskusi. Bahkan, saya yang kerap sungkan karena merasa mengganggu waktu istirahatnya tak pernah dihiraukan. “Justru jam istirahat saya ya seperti ini, ngobrol sama anda seperti ini. Ngobrol itu memperpanjang umur saya. Yah, kira-kira nambah seminggu dari yang sudah ditentukanlah,” katanya, sambil tertawa. Kalau tidak ada tamu, Ncus sibuk memeriksa naskah tulisan karena selain mengelola perpustakaan, ia juga menulis dan menerima tulisan untuk diterbitkan lewat Pataba Press. Pada saat menjelang petang lah, Ncus baru mulai istirahat. Kemudian, pada saat menjelang tengah malam, ia bangun dari tidur lalu menjalankan tugasnya sebagai Rektor.

Menjelang petang, suara adzan maghrib di masjid sudah berkumandang. Mendengar seruan itu, diskusi pun berakhir lalu Ncus pamit untuk beristirahat. Tapi, sebelum pergi, Ncus menunjukan salah satu kamar di Pataba terlebih dahulu kepada saya. Kamar yang sekarang disediakan untuk tamu itu, kata Ncus, dulunya sering ditempati Pram saat pulang ke Blora. “Banyak orang sukses setelah tidur di sini. Minimal mereka yang sedang mengerjakan skripsi. Nanti, anda juga tidur di sana saja. Kalau jodoh, nanti bisa bertemu Pram dalam mimpi,” kata Ncus, sambil terkekeh-kekeh.

Setelah itu, Ncus kemudian pergi untuk istirahat. Sementara saya, yang sejak awal datang tadi sudah melihat kumpulan cerpen Martin Aleida di rak buku Pataba, yaitu Mati Baik-Baik, Kawan (2009) kemudian mengambil dan membacanya sampai tertidur. Tapi, nyamuk di Pataba ramainya bukan main. Malam itu, saya sempat tertidur kurang lebih dua hingga tiga jam dan ketika saya terbangun, penunjuk waktu di telepon genggam saya sudah menunjukan pukul 00.32 WIB. Karena tidak bisa tidur, saya pun keluar dari kamar lalu duduk di beranda Pataba dan memutuskan untuk melanjutkan membaca kumpulan cerpen Aleida. Selang beberapa saat kemudian, di dalam hening saya membaca mulai terdengar suara langkah kaki dari pintu gerbang halaman Pataba. Di kejauhan, tampak siluet sesosok manusia berjalan kian mendekat. “Belum tidur?” Suara itu muncul dibarengi engkrik jangkrik. Saya yang terlanjur penasaran, tidak melepaskan arah padangan yang tertuju pada bayangan hitam tersebut. Kini, posisinya semakin dekat, hingga kemudian ia berhenti di bawah terang lampu beranda. Sosok itu ternyata adalah Ncus, yang baru saja pulang dari tugasnya sebagai Rektor.

Rektor yang dimaksud ini bukanlah pimpinan tertinggi suatu universitas atau institusi pendidikan semacamnya. Ncus membuat akronim itu untuk profesi yang digelutinya saat ini. Seperti yang telah saya katakan tadi, pada siang hari Ncus disibukkan dengan naskah tulisan, itu pun kalau tidak ada tamu. Menjelang maghrib, ia beristirahat atau tidur, kemudian bangun lagi menjelang tengah malam. Pada saat itulah, Ncus menjalankan profesinya sebagai Rektor. Kisah Ncus sebagai Rektor di malam hari ini juga pernah difilmkan Diana Noviana dan Visian Pramudika dalam Tinta Merajut Bangsa (2015). Film tersebut masuk dalam jajaran 5 besar Eagle Award di tahun yang sama. “Rektor itu sendiri maksudnya adalah orek-orek barang kotor, pemulung atau pemungut sampah,” kata Ncus, disusul tawa lepasnya.

Setelah menyapa saya, Ncus kemudian pamit untuk kembali beristirahat. Saya pun demikian, dan pada kali ini lah saya bisa tidur sampai pagi. Ini juga berkat losion anti-nyamuk yang ditinggalkan di Pataba oleh pengunjung terdahulu. Siapa pun itu, terimakasih.

***

Pagi itu, Kasparov dan Luvshanka sudah sibuk naik-turun meja tamu yang terletak di beranda Pataba. Tak jarang pula, mereka mondar-mandir di kebun untuk mencari rumput. Mereka berdua ini adalah kambing peliharaannya Ncus. Saya sengaja menamai mereka agar terlihat lebih akrab. Keduanya berwarna hitam-putih, bertelinga panjang-menjulur ke bawah, sementara tatapan matanya sangat tajam. Saya sendiri tidak dapat mengartikan tatapan tersebut, tapi yang jelas mereka berdua juga sering mondar-mandir di depan saya yang sepagi itu sudah duduk di beranda Pataba.

Kasparov dan Luvshanka sesekali berhenti di depan saya untuk memberikan tatapan matanya. Tatapan itu tampak polos, seperti butuh perhatian. Atau kalau tidak salah, tatapan itu memang menjadi bagian dari strategi mereka berdua untuk mendapat barang seikat-dua ikat rumput dari saya. “Embek,” begitu suaranya, kemudian saya balas dengan belaian lembut di kepala mereka berdua secara bergantian. Setelah itu, mereka kemudian berlari ke halaman depan karena melihat Bu Ncus yang datangnya entah dari mana. Pantas saja, menu kesayangan mereka berdua telah disiapkan di sana: berikat-ikat daun ketela. Saya sendiri yang sedang asyik-asyiknya melihat mereka berdua lari kegirangan menuju halaman depan, kemudian teralihkan dengan suara Ncus yang datang dari pintu penghubung Pataba dengan rumahnya. “Ayo, sarapan dulu. Itu tadi juga sudah dibuatkan teh hangat sama ibu. Nanti keburu dingin,” serunya. Mendengar perintah tersebut, saya pun menghampirinya. Sesampainya di sana, Ncus mempersilakan saya sekali lagi untuk menikmati hidangan, sambil berlalu meninggalkan saya di ruang tengah Pataba.

Lagi-lagi, pandangan saya teralihkan pada hal lain. Kali ini, pada gundukan yang terletak di sebuah nampan. Rupanya, gundukan itu adalah sarapan untuk saya yang sejak sebelum saya bangun tadi sudah disiapkan. Waktu itu, sejauh saya perhatikan, teknologi pangan di Blora sepertinya berbeda dengan di Salatiga. Meski dalamnya tetap sama: nasi pecel, tapi bungkusnya berbeda. Nasi pecel di Salatiga dibungkus menggunakan kertas minyak atau daun pisang, sementara nasi pecel di Blora bungkusnya adalah daun jati. Daun jati ini tidak merubah cita rasa nasi pecel. Masih tetap sama; rasa nasinya tetap tawar; sayurnya tetap segar; dan rasa sambel kacangnya tetap gurih tapi pedas, tapi juga manis. Dan, berhubung pagi itu saya lapar sekali, barang tentu kurang dari dua puluh menit saja nasi pecel saya sudah habis. Usai sarapan, Ncus datang menghampiri saya lagi. Pada kesempatan ini lah diskusi panjang benar-benar dimulai. Mulanya, Ncus bercerita tentang bagaimana awal mula digagasnya Pataba, kemudian Ncus bercerita bagaimana dirinya hampir terlibat dalam pengerjaan salah satu serial Kronik Revolusi bersama Pram. Dan yang tak kalah penting penuturannya adalah soal pendidikan, juga politik dalam negeri.

Pataba didirikan bersamaan dengan wafatnya Pram, pada 30 April 2006. Sepenutur Ncus, munculnya gagasan untuk mendirikan Pataba berawal dari keinginan Pram yang akan menetapkan rumah tersebut sebagai heritage untuk kota Blora. “Nah, maka dari itu setelah Pram meninggal saya kemudian melanjutkan idenya,” kata Ncus. Pertimbangan yang amat panjang dan cukup rumit harus Ncus lewati kala memilih Pataba sebagai nama perpustakaan. Perihal nasion dan rasial juga turut ia renungkan. Awalnya, Ncus memilih nama Pataba sebagai akronim dari Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Blora. Tapi, kepanjangan tersebut kemudian ia rubah lagi karena tidak sesuai dengan salah satu keinginan Pram yang selain menginginkan Pataba sebagai warisan Blora, tapi juga menginginkannya menjadi warisan nasional. Maka dari itu, Ncus kemudian merubah kepanjangan dari Pataba menjadi Perpustakaan Pramoedya Anak Blora Asli. Namun, lagi-lagi pilihan kedua ini tetap tidak mengakomodir keinginan Pram, pun persoalan rasial malah mulai terlihat. “Ada bau-bau rasialisme kalau pakai ini. Apalagi waktu itu kan sedang ada persoalan keributan masalah ras, banyak yang ngomong soal warga negara asli. Nah, kemudian saya renungkan lagi, kenapa harus pakai ‘asli’?” jelasnya.

Singkat cerita, Ncus kemudian memilih Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa sebagai kepanjangan dari akronim Pataba. Kepanjangan tersebut, Ncus sesuaikan dengan salah satu karya Pram yaitu Anak Semua Bangsa (1981) yang terdapat dalam serial Tetralogi Buru atau yang sering dikenal sebagai Tetralogi Bumi Manusia. Karya Pram yang termasuk dalam tetralogi tersebut selain Anak Semua Bangsa (1981), adalah Bumi Manusia (1980), Jejak Langkah (1985) serta Rumah Kaca (1988) yang kesemuanya pernah dilarang terbit semasa pemerintahan Orde Baru.

Salah satu serial dari Pram yang banyak dikenal selama ini, selain Tetralogi Buru adalah Kronik Revolusi Indonesia. Seperti yang telah dikatakan Pram dalam Kronik Revolusi Indonesia Jidil I (1999), “kronik ini terdiri dari lima jilid, meliputi rentang waktu lima tahun, masing-masing dengan ketebalan paling sedikit 500 halaman.” Dalam karya besarnya ini, Pram tidak bekerja sendiri melainkan merangkum berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di Indonesia pada masa awal kemerdekaan bersama Koeslah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil. Namun, di sisi lain, Ncus mengaku sangat sedih kala pertama kali buku ini terbit. “Bahkan, saya sempat menangis ketika pertama kali menerima buku tersebut,” tuturnya. Saya sendiri kurang begitu paham dengan adanya dosa dalam setiap tindakan manusia. Tapi, beda halnya jika segala sesuatu yang dikerjakan manusia itu dianggap memiliki konsekuensi: itu baru masuk akal. Hal ini pula yang tampaknya dialami Ncus. Waktu itu, Ncus adalah salah satu orang yang diajak Pram untuk mengerjakan Kronik Revolusi Indonesia. Namun demikian, Ncus tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan Pram karena ada beberapa kendala yang harus ia hadapi. Salah satunya, kala itu Ncus sedang sibuk mengurus warung makannya, dan di sini lah Ncus agak kerepotan membagi fokusnya. “Sebentar-sebentar ada yang datang, ada yang beli makan, ada yang beli teh. Akhirnya, ya saya bilang tidak sanggup menerima tugas itu kepada Pram, hingga dikemudian harinya Koesalah mencari tenaga lain dan diajaklah Ediati Kamil itu,” tutur Ncus.

Pada saat mengerjakan Kronik Revolusi Indonesia, Pram memilih mengajak Ncus lantaran Ncus dianggap memiliki strata pendidikan yang paling tinggi diantara Toer bersaudara. Ncus belajar ekonomi di Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan studinya di The Peoples’ Friendship University of Russia (berganti nama Patrice Lumumba University pada 1961), hingga pada akhirnya meraih gelar Phd di Plekhanov Russian University of Economics. Namun demikian, jalan terjal nan berliku tampaknya harus ditempuh oleh Ncus pasca studinya di Rusia. “Waktu itu saya sudah tahu, kalau kepulangan saya dari sana itu akan disambut dengan 3B: bunuh, bui, dan buang,” katanya.

Ncus lulus dari Lumumba pada 1967 dan Plekhanov pada 1971. Ia kemudian pulang ke Indonesia pada 1973, dan kepulangannya ini pun juga bukan tanpa sebab mengingat kehidupannya ketika di Rusia tergolong kecukupan. Ihwal pertimbangannya untuk pulang adalah, “ingin mencoba sedikit banyak memberi keterangan bahwa mereka itu (Pram dan Koeslah –red) yang waktu itu sudah ditahan, bukan lah pengkhianat, bukan PKI, dan sebagainya,” katanya. Namun demikian, Ncus tetap saja di tahan di Kebayoran Lama Jakarta (1973-1978) sesampainya di Indonesia. “Dulu sebenarnya, dosen-dosen di Rusia menganjurkan saya pulang setelah 1980-an agar saya tidak ikut ditahan. Tapi, ya mau gimana lagi, hidup itu kan seperti roda yang terus berputar. Meskipun saya sudah tahu ada ancamannya, ya begini lah Toer: Tansah Ora Enak Rasane (baca: meskipun rasa/kondisinya tidak mengenakan). Kalau beruntung ya bebas, kalau celaka ya ditahan, atau dibunuh,” tutur Ncus. Selain ingin memberikan keterangan untuk Pram dan Koeslah, Ncus sendiri sebenarnya juga memiliki pertimbangan lain kala memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Hal tersebut ia katakan sebagai janjinya kepada pemerintah Indonesia yang telah memberi kesempatan padanya untuk belajar di Rusia. “Sebelum saya berangkat itu kan saya sempat membuat surat perjanjian dengan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Di situ ada catatan bahwa setelah selesai kuliah, harus bekerja pada pemerintah Indonesia minimal 10 tahun. Jadi itu kan saya mau memenuhi semua perjanjian yang saya teken dengan hati nurani kan,” katanya.

Ncus meraih gelar Phd setelah mengkritik Marxisme-Leninisme, sekaligus Kapitalisme dalam disertasinya yang dikerjakan sejak 1967. Dalam disertasi tersebut, Ncus memaparkan sintesis dari Kapitalisme dan Marxsisme-Leninisme yang kemudian ia sarikan dalam Republik Jalan Ketiga (2017). Rahmat Petuguran yang pernah membahas konsep jalan ketiganya Ncus dalam Republik Jalan Ketiga, Mencari Alternatif Selain Kapitalisme dan Sosialisme (2017) mengatakan bahwa, Ncus mengkritik kapitalisme dan sosialisme sekaligus yang sama-sama memiliki kelemahan mendasar. Dari kritik itulah Ncus menawarkan konsep republik jalan ketiga. Hematnya, republik seperti ini bisa merupakan gabungan antara kapitalisme dan sosialisme pada sisi-sisi tertentu atau membuat sistem yang sama sekali baru. Namun jalan ketiga ini tidak bisa paksakan dalam setiap situasi karena harus disesuaikan dengan kondisi, kultur, keyakinan, dan geografis di masing-masing negara. Dan, yang tak kalah penting adalah republik seperti ini harus memiliki pemimpin yang kuat, baik dari aspek intelektualitas maupun integritasnya. “Pemimpin yang kuat antara lain ditandai dengan kemampuannya melepas ego pribadi untuk menumpuk kekayaan. Pemimpin harus rela “makan sepotong roti sehari” dan hanya mewariskan buku ketika mati nanti,” kata Ncus, kepada Rahmat.

Ncus dapat mengurai sosialisme, kapitalisme, kemudian merangkum sarinya dalam Republik Jalan Ketiga (2017) secara sederhana dan gamblang sehingga mudah dipahami pembaca. Tapi, dibalik itu semua, ternyata ada proses yang agaknya gampang-gampah susah. Gampang merumuskannya karena Ncus punya otak yang brilian, sementara susah karena buah pemikirannya itu selalu bersinggungan dengan kebijakan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan, baik di Rusia maupun di Indonesia. Ncus yang kala itu mengkritik sosialisme bisa saja disebut makar karena ia mengerjakannya di Rusia (Uni Soviet) yang masih kental akan Marxisme-Leninisme. Bahkan, “sampai-sampai disertasi saya dulu itu diuji di empat universitas di sana, termasuk salah satunya di universitas tempat saya pascasarjana,” kata Ncus. Di sisi lain, disertasinya itu juga tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia, karena pada waktu itu (mungkin hingga sekarang) pemerintah di Indonesia masih punya fobia dengan simbol palu-arit. “Mau bawa pulang ya takut, lambangnya gini-gini (palu-arit -red) semua. Termasuk ijazah, bahkan dua belas piagam penghargaan yang pernah saya dapat,” tambah Ncus.

Siang itu, Ncus juga menceritakan bagaimana awal mula munculnya ide untuk mensarikan disertasinya ke dalam Republik Jalan Ketiga (2017). Itu semua berawal dari kunjungan salah seorang wartawan dari media di ibu kota ke Pataba, dimana dalam kunjungannya itu si wartawan sempat menuduh disertasinya adalah hasil plagiat dari pemikiran Anthony Giddens. Ncus kaget bukan main mendengar pernyataan itu. Musababnya, Ncus mulai mengerjakan disertasinya pada 1967, sementara Giddens baru menulis The Third Way pada 1980-an. “Waktu dengar dia ngomong begitu, megap-megap saya. Orang saya mengerjakan terlebih dahulu kok dianggap menjiplak. Lagipula, setelah sekian puluh tahun, saya baca sendiri punya Giddens itu membahas sosiologi, sementara kajian saya ini kan di bidang ekonomi. Hal lain yang perlu diketahui juga adalah ini bukan yang benar-benar asli ya. Soalnya tadi, saya kan tidak berani bawa pulang disertasi saya. Ini hanya sarinya,” terang Ncus.

Ncus enggan mengatakan nama wartawan yang menuduhnya melakukan plagiat. Namun demikian, ia berharap wartawan tersebut membaca Republik Jalan Ketiga (2017) sehingga mengetahui secara persis apa yang telah ia kerjakan.

Republik Jalan Ketiga (2017) adalah kritik Soesilo Toer atas kapitalisme dan sosialisme.

***

Beberapa waktu sebelum saya datang ke Pataba, sejumlah mahasiswa telah melakukan aksi yang sengaja digelar untuk merespon mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh, misalnya, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM. Mereka mengadakan aksi bertajuk “Parade Pendidikan Indonesia Sehat” (30/1). Seperti yang saya kutip dari Balairung Press, melalui parade ini, massa bermaksud menemui Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir untuk menyampaikan penolakan atas komersialisasi pendidikan. Aksi serupa juga terjadi di Semarang (3/5), dimana gabungan BEM perguruan tinggi di Semarang memanfaatkan momentum Hari Pendidikan Nasional, dengan menggelar aksi bakar ban di depan kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi tersebut diinisiasi sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa, karena tidak mendapat kesempatan untuk berdialog dengan para pejabat pemerintahan terkait komersialisasi pendidikan oleh perguruan tinggi. Siang itu, saya dan Ncus juga sempat membicarakan hal serupa.

Menurut Ncus, isu soal komersialisasi pendidikan ini bukan lah hal yang baru. Meski tidak dapat digeneralisir, Ncus mengatakan bahwa selama ini banyak universitas di Indonesia yang sengaja didirikan hanya untuk meraup keuntungan dan mengesampingkan jati dirinya sebagai institusi pendidikan. “Anda pasti juga sudah mendengar, contoh yang paling ekstrim, ada perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan jual beli ijazah S1, S2, bahkan sampai S3. Ini apa kalau bukan ngawur? Mereka mendirikan perguruan tinggi bukan untuk mendidik bangsa tapi malah merusak pendidikan itu sendiri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ncus kemudian mengajak saya bertamasya ke era kolonial, dimana pada masa itu pemerintah Belanda juga memanfaatkan pendidikan sebagai alat kekuasaannya untuk meraup keuntungan. “Coba saja anda runut dan renungkan, kenapa dulu Belanda memilih orang-orang cerdas untuk disekolahkan di negerinya? Supaya orang Indonesia pintar? Tentu bukan, politik balas budi itu ditujukan hanya untuk membuat orang Indonesia agar menjadi guritanya Belanda. Dulu waktu Belanda datang ke Indonesia, mereka tidak lebih dari seratus ribu jiwa. Padahal, orang di negeri ini saat itu sudah hampir mencapai seratus juta jiwa lebih. Tapi kok tetap berhasil menjajah? Ya karena tangan mereka itu adalah orang Indonesia sendiri. Apalagi mereka yang menjadi kepanjangan tangan itu kan seperti kere munggah bale (baca: lupa diri setelah mendapat kedudukan yang lebih tinggi -red). Ibaratnya dulu sering tidur di lantai, sekarang tidur di kasur. Akhirnya ya berubah, karena mereka tidak punya pendirian. Malah ada yang berubah menjadi lebih rakus,” tegas Ncus.

Politik balas budi yang dimaksud Ncus itu adalah Politik Etis yang diumumkan oleh Ratu Wilhelmina pada 17 September 1901. Bilven dkk. dari Ultimus pernah mencatat persoalan ini dalam Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula (2015). “Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia-Belanda. Pemerintah Hindia-Belanda mulai mengadopsi Ethische Politiek/Politik Etis yang merupakan kritik terhadap politik tanam paksa. Kebijakan Politik Etis terangkum dalam Trias Van Deventer,” tulisnya.

Trias Van Deventer terdiri dari tiga program utama: Irigasi, Migrasi, dan Edukasi. Secara kasat mata, kebijakan ini memang terlihat lebih arif ketimbang kebijakan tanam paksa. Namun demikian, Trias Van Deventer pada akhirnya juga tidak ada bagusnya untuk orang Indonesia, karena irigasi sekaligus migrasi penduduk hanya untuk keperluan perkebunan swasta milik orang-orang Belanda, kemudian pendidikan juga hanya untuk melahirkan tenaga administrasi untuk pemerintah Belanda. Terlebih lagi, sekolah yang didirikan Belanda pada akhirnya juga melahirkan diskriminasi. Ada dua golongan sekolah yang dibangun kala itu: bangunan sekolah kelas satu untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang bertahta, sementara anak-anak pribumi pada umumnya di tempatkan di kelas dua. Diskriminasi ini akhirnya juga mengakar di setiap lini kehidupan orang Indonesia pada waktu itu. Ada istilah “inlander” yang digunakan untuk menyebut orang Indonesia, bahkan dipakai secara resmi di berbagai tempat, “Anjing dan Inlander dilarang masuk. Demikian terpancang di depan setiap kolam renang,” tulis Bilven dkk.

Tak terasa, perbincangan saya dan Ncus telah berlangsung kurang lebih satu setengah, hingga dua setengah jam. Kala saya melirik telepon genggam, waktu sudah menunjukan pukul 12.30 WIB. Saya yang waktu itu masih kenyang akibat sarapan nasi pecel, dipaksa makan lagi oleh Ncus. Bahkan, kali ini Ncus mengajak saya ke warung makan terdekat yang saya tidak ingat apa nama jalannya. Pada kesempatan ini pula, saya kembali terherankan oleh kekhasan masakan Blora. Sebab, biasanya sayur asem-asem di Salatiga itu adalah sayur kuah bening yang didalamnya ada sayuran seperti kacang panjang, kacang tanah, jagung manis dan sebagainya. Sementara di Blora, sayur asem-asem itu adalah sayuran yang sama asemnya, tapi di dalamnya terdapat irisan daging sapi. Saya yang vegetarian, jadi sungkan kalau tidak menghabiskan masakan yang sudah dipesan Ncus. Akhirnya, saya hanya makan nasi dan kuahnya saja. Sementara dagingnya, saya sisihkan di bibir piring.

Obrolan saya dengan Ncus di warung makan itu juga masih saya ingat betul. Ncus sempat bertanya soal pendidikan saya, yang kini sudah memasuki semester tujuh. Kemudian, ia juga sempat bertanya soal aktifitas yang saya ikuti di kampus. Ncus mengapresiasi jurusan yang saya pilih, sekaligus kegiatan yang saya ikuti di kampus yaitu pers atau jurnalistik. Yang tak kalah menarik dan selalu saya ingat pula, Ncus ini sepertinya paham betul dengan muka saya yang selalu tampak serius, atau tak jauh berbeda dengan perangai pegiat jurnalistik lainnya. Maka dari itu pula, Ncus kemudian menyuruh saya untuk mencari pacar agar hidup saya ini tidak terlalu serius. “Pacaran itu juga bisa menunjang pendidikan, maksudnya agar otak kanan dan kiri anda ini berjalan seimbang,” katanya, disusul tawa kami berdua.

Ucapan Ncus yang terakhir itu kemudian mengingatkan malam dimana saya menginap di Pataba. Waktu itu, saya sempat berkirim pesan singkat dengan seorang perempuan, dimana dalam salah satu pesan singkat yang saya kirim itu, saya sempat bertanya tentang bagaimana cara kami berdua hendak menjalin hubungan. Beberapa saat setelah saya kirim pesan singkat, perempuan itu kemudian memberikan jawaban yang membuat saya girang, sekaligus membuat saya ingin segera beranjak dari tempat duduk kemudian berlari mengelilingi halaman Pataba. “Saya suka hubungan yang natural, Kak,” begitu tulisnya. Duh, Adek! Jatuh cinta sama kamu ini bukan main rasanya.•

Tulisan ini dibuat oleh Galih Agus Saputra. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi-Jurnalistik Fiskom, UKSW. Aktif sebagai Staf Advokasi di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Semarang, dan Sekretaris di Kerja Kreatif Akar Rumput, komunitas pemuda-seniman-aktivis-mahasiswa yang menaruh perhatian pada persoalan lingkungan hidup. Dapat dihubungi melalui galihagussaputra8@gmail.com.

Penyunting: Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s