Ketika Marnie di Sini, dan Hanya Ia yang Mengerti

“Sometimes i feel lost, sometimes i’m confused

Sometimes i find that i’m not alright

And i cry, and i cry, and i cry, and i cry..”

Permasalahan keluarga, keterasingan, kesendirian, pahitnya hidup yang kerap menghantam dari berbagai sisi, adalah apa yang membuat hidup ini terasa hambar dan malas untuk dijalani. Kiranya itu yang dirasakan Anna, seorang gadis penyendiri, seorang gadis yang berada di luar lingkaran. Demikian kesan pertama yang saya tangkap dari sosok remaja 12 tahun dalam film When Marnie Was There (2014), salah satu film animasi yang membuat saya terenyuh sambil tersenyum aneh. Film ini adalah adaptasi dari novel Joan G. Robinson, yang terbit pada 1967 dengan judul yang sama.

Semua dimulai dengan karakter Anna yang pemurung. “Aku benci diriku sendiri,” ujarnya. Dalam keadaan yang demikian, ditambah sakit asma yang dideritanya, Anna pindah ke pedesaan bersama Bibi dan Pamannya untuk sementara waktu. Ia suka menggambar. Gambar-gambarnya indah, namun tidak dengan keadaanya, dengan hatinya. Hidupnya jadi lebih antusias ketika suatu saat ia bertemu gadis pirang kaya yang tinggal di villa mewah pinggir danau. Namanya Marnie, yang mengingatkan pada nenek saya yang punya nama sama, Marni. Kedekatan mereka terbangun begitu saja, seakan-akan mereka sudah ditakdirkan untuk bertemu.

Selain Anna yang soliter, ada juga karakter Toichi, yang suka memancing ikan di danau dekat kediaman Marnie. Toichi ini, juga punya sifat aneh. Saking jarang bicaranya, oleh anak-anak desa ia dijuluki Toichi si bisu, yang hanya bicara sepuluh tahun sekali! Walau inti cerita film ini adalah Anna yang pendiam dan penyendiri, bila kita cermati, Toichi adalah karakter yang berwatak sama denganya. Oh, dan ada satu lagi, Hisako, yang suka melukis di pinggir danau. Bedanya, walau Hisako dan Toichi adalah karakter yang selalu terlihat sendiri, namun mereka tampak tidak kesepian. Mereka terlihat menikmati kesendiriannya, menikmati keterasingannya. Bukankah ini indah? Entah mereka yang aneh atau saya yang terlalu kagum. Hal ini jugalah yang menyeret saya pada lirik lagu Banda Neira. “Sepi itu indah, percayalah, membisu itu, anugerah,” dalam Hujan di Mimpi. Memang, segalanya musti dinikmati, bukannya diratapi, pun dengan kesedihan atau kesendirian itu sendiri.

Adegan favorit saya adalah ketika Anna dan Marnie berjalan-jalan di hutan, berbincang sembari mencari jamur. Marnie bercerita banyak tentang keluarganya, dan karena itulah Anna mengaku iri. Mereka sama-sama mempunyai permasalahan yang sama: keluarga. Pada adegan inilah kalian bisa mengerti situasi hidup yang dihadapi Anna. Dulu, Anna sebenarnya gadis periang. Namun semuanya berubah karena permasalahan keluarga. Ia segera menjadi gadis pendiam serta sulit bersosialisasi. Anna menangis, “Aku membenci diriku sendiri.” Lalu Marnie dengan lembut memeluk dan berucap, “Anna, kau boleh menangis. Ketahuilah, aku mencintaimu.” Marnie sendiri memang kaya, namun ini bukan sumber kebahagiannya. Ia kerap ditinggal orang tuanya yang sibuk, dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama pelayan dan pengasuh yang bersikap kasar dan galak.

Pertemuan mereka inilah yang membuat saya sedari awal bertanya-tanya, siapakah Marnie ini? Pun dengan hubungan persahabatan mereka yang intim, yang tak segan untuk mengucapkan “aku cinta kamu” satu sama lain. Apakah ini lebih dari cerita hubungan persahabatan? Karena hubungan mereka terlampau romantis dari sekedar hubungan persahabatan. Pada akhirnya, semuanya terjawab sudah pada akhir film. Saya tidak akan menceritakannya di sini, karena itulah inti dari misteri yang terdapat di film ini, tentang siapakah sosok Marnie itu. Walau adegan ini mungkin terlihat biasa saja, namun bagi saya entah bagaimana, terasa begitu dalam.

Bisa dikatakan, film ini mempunyai alur yang lambat. Mungkin akan agak membosankan, khususnya bagi yang mengira bahwa ini adalah film anak-anak yang seru dan ceria. Sekalipun karakternya adalah gadis muda yang dibalut dalam format animasi, suasana yang dibangun sebenarnya sangat mewakili perasaan kaum muda. Ghibli Studio, yang memproduksi film ini, memang dikenal menjadi studio animasi legendaris Jepang yang beberapa kali memproduksi film dengan suasana krisis eksistensialis dan hambatan psikologis yang suram. Sebut saja, From Up on Poppy Hill, The Wind Rises dan The Grave of Butterflies (yang terakhir ini, belum saya tonton, karena berdasarkan ulasan yang ada, ia masuk daftar lima film yang bahkan akan membuat seorang laki-laki menangis. Walau saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa laki-laki tidak boleh menangis tentunya).

Tapi tunggu. Ada banyak film Ghibli yang punya latar pedesaan yang apik dan ceria, sehingga juga berhasil merebut segmentasi penonton anak-anak. Memang, film-film Ghibli banyak menggambarkan kehidupan yang sederhana, lingkungan yang hijau penuh pepohonan, atau hutan hujan yang mistik, dengan hawa lembab, penuh serangga, kumbang atau yang lainnya. Sebuah lingkungan indah di luar hiruk pikuk perkotaan yang menciptakan robot-robot pekerja urban yang terasing dan putus asa. Melihat tempat Anna dan bibinya tinggal serasa tidak ada hari Senin, everyday is Sunday in this place! Danau yang indah, pepohonan, rumah dengan kebun di depannya, penuh bunga dan rumput basah. Agaknya, kita bisa sepakat bahwasanya Ghibli selalu berhasil memukau kita walau dengan film yang sederhana semacam ini. Bersyukurlah setiap anak yang tumbuh melalui film-film Ghibli, dengan fantasi-fantasinya dan cerita tentang nilai-nilai kehidupan. Macam Spirited Away, Tenkuu no Shiro Laptua atau film Ghibli yang bagi saya paling memukau nomer dua setelah My Neighbor Totoro, yaitu Princes Mononoke, film yang bikin saya geleng kepala sambil kegirangan.

Selain misteri, fantasi dan latar belakang pedesaannya, When Marnie Was There punya caranya sendiri untuk memukau saya secara personal. Film ini mampu membuat saya merasa diceritakan dalam film itu sendiri. Setiap orang kiranya pernah merasa kesepian, terasing, dan menolak membaur karena merasa malu atau tak percaya diri, atau memang tak ada orang yang mengerti. Dan bila dari kalian ada yang pernah atau sedang merasakan hal demikian, coba tonton film ini. Saran saya adalah, ketika selesai menonton jangan buru-buru beranjak, tapi dengar juga lagu di akhir film ini yang liriknya menjadi pembuka tulisan di atas, yang semoga akan menjadi pelengkap keterenyuhan kalian. Harapan saya, semoga setiap anak tetap bisa menikmati karya-karya Ghibli, setiap anak dari berbagai generasi, setiap anak yang sudah dewasa dan orang-orang yang masih memupuk dan membahagiakan jiwa bocah kecil di dalam dirinya. Dan untuk Anna-Anna lain di luar sana, percayalah, bahwasanya kita hanya perlu teman yang mengerti. Namun jika tak ada yang mengerti, mari nikmati, jangan diratapi.

Ulasan ini ditulis oleh Christian Adi Candra.

Penyunting: Bima Satria Putra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s