Bulu-Bulu Abidin

Para relawan 1001 Pendaki Tanam Pohon di Gedong Pass, Desa Tajuk, Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tengah bersiap mengikuti penanaman pohon di lereng Gunung Merbabu (Foto: Galih Agus Saputra)

Kegiatan 1001 Pendaki Tanam Pohon di lereng Gunung Merbabu kali ini menyisakan banyak cerita. Salah satunya adalah kisah Abidin bersama sepeda serta bulu-bulunya.

***

Sore itu, cuaca sedikit mendung sementara matahari tampak malu-malu untuk menampakkan kecantikannya. Pada jam lima sore, 3 Maret lalu, saya tiba di Gedong Pass, Desa Tajuk, Getasan dengan menggunakan sepeda motor. Namun sebelumnya, atau lebih tepatnya saat perjalanan yang saya tempuh baru sepertiga, tampak seorang laki-laki di bahu jalan sedang mendorong sepeda ontel. Dalam hati saya mengatakan, dia pasti hendak mengikuti kegiatan 1001 Pendaki Tanam Pohon.

Nuansa klasik dan sederhana begitu melekat pada sepeda yang dihiasi bendera merah putih dan sejumlah bendera lainnya itu. Berbagai macam stiker, lalu bulu entah dari burung apa saja juga tampak diikat pada bagian tengah setang sepeda. Tak kalah nyentrik, laki-laki berambut gondrong dan bertopi yang mendorong sepeda itu juga mengenakan puluhan gelang di pergelangan tangan kanannya.

Kemudian, tebakkan saya ternyata benar. Pada jam tujuh malam, laki-laki itu tiba di Gedong Pass yang pada kesempatan ini menjadi titik kumpul para relawan 1001 Pendaki Tanam Pohon. Ia tiba begitu saja hingga kemudian berbaur dengan para relawan lainnya. Suasana malam itu memang cukup ramai. Tampak beberapa kalangan seperti seniman, musisi, aktivis, siswa SMA, mahahsiwa, dan komunitas lainnya tumpah ruah di sana.

Nicolas Abidin sedang memeriksa sepedanya sebelum pulang dari kegiatan 1001 Pendaki Tanam Pohon (Foto: Galih Agus Saputra)

Awalnya, saya tidak pernah punya rencana untuk mewawancarai sosok nyentrik itu. Sekedar tahu saja menurut saya sudah cukup. Tapi, salah satu senior punya pandangan yang berbeda tentangnya. Laki-laki itu adalah salah satu sosok yang menarik untuk diulas, katanya. Saya pun menyetujui pandangannya, dan bergegas lah saya menyiapkan sejumlah pertanyaan.

“Nama saya Nicolas Abidin. Saya lahir di Bandung pada 19 Oktober 1991, tapi sekarang tinggal di Kaliwungu, Kabupaten Kendal,” kata laki-laki dengan senyum ramah itu, sambil mengulurkan tangannya untuk dijabat.

Abidin merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Sehari-hari, kalau tidak naik gunung atau menghadiri kegiatan bertema lingkungan hidup, ia membantu Ibunya berjualan makanan di sekolah. Di sana, Abidin kebagian tugas menggoreng dan memasak.

Namun, sekarang ini Abidin juga punya kesibukan lain di sela-sela waktu membantu Ibunya. Ia tengah merintis Rumah Bibit di daerahnya. “Kira-kira, baru berjalan satu setangah tahun ini. Biasanya saya tinggal jika sedang ada acara yang membuat hati saya tergerak,” katanya.

Kemanapun perginya, Abidin selalu menggunakan sepeda ontel. Dan ternyata, sepeda ontel yang ia pakai saat ini bukan lah miliknya tetapi milik seorang sahabat yang diberikan padanya. Sahabat itu memberikan sepeda karena iba melihat sepeda lama Abidin yang sudah keropos.

“Dulunya ketika masih kuliah, hanya sepeda itu yang menemani saya ke kampus. Tapi sekarang, sepeda ini yang menemani saya pergi menyeberangi pulau,” kata Abidin, sambil menunjuk sepeda pemberian sahabatnya.

Gowes Sana Sini

Abidin memulai turnya sejak awal 2016. Kota yang pernah Ia kunjungi, dan tentunya ditempuh menggunakan sepeda ontelnya antara lain, Bandung, Tangerang, Bekasi, dan sebagian besar kota di Jawa Tengah. Semua kunjungan itu Ia lakukan dengan berbagai macam alasan atau dalam rangka menghadiri kegiatan lingkungan hidup, khususnya tanam pohon. “Menjaga alam kan kepentingan semua, termasuk saya,” tutur Abidin, dengan tegasnya.

Tur Abidin terus berlanjut dan semakin melebar ke berbagai kota di luar Pulau Jawa. Seperti pada 8 hingga 11 April 2017 lalu, Ia bersepeda sampai ke Gunung Rinjani, Lombok bersama rekannya Ronny Hartono dan rekan lainnya dari Sahabat Pecinta Alam NTB. Ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah ditempuh Abidin atau kurang lebih memakan waktu selama 12 hari.

“Saya tidak punya uang sepeserpun waktu pergi ke sana. Tapi niat saya sudah bulat, dan ternyata sampai juga di Lombok. .hehe. .,” terang Abidin, sambil tersipu malu saat ditanya soal biaya.

Pada 17 Agustus 2017, dalam rangka menyambut HUT RI ke-72, Abidin juga pernah menjalani ekspedisi untuk mendatangi belasan makam pahlawan yang ada di Madura. Melalui gowes ziarah ini, Abidin berharap dapat menumbuhkan semangat nasionalis kalangan segenerasinya. “Kita dapat saling belajar tentang sejarah dan mengenang jasa para pahlawan bangsa,” imbuhnya, yang kali ini tampak ada binar di wajahnya.

Abidin bahkan sempat mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia (Leprid) pada, 10 November 2017. Ceritanya, kala itu ada 10 pemuda perwakilan komunitas beberapa kota di Indonesia yang bersepeda, kemudian mendaki dan mengikuti upacara di Gunung Ungaran untuk mengenang jasa para pahlawan. Abidin adalah salah satu dari 10 pemuda yang turut berpartisiasi dalam kegiatan tersebut dan menerima penghargaan dari Leprid.

Mengenang Ayah dan Mbah Santo

Abidin mengaku tidak ingin berhenti bersepeda sembari merawat lingkungan hidup. Seperti pesan mediang sang Ayah, “apapun yang saya lakukan harus tetap bermanfaat untuk orang lain. Itulah sebabnya saya seperti sekarang ini,” tuturnya lembut.

Salah satu inspirasi di hidup Abidin untuk melestarikan alam adalah pegiat lingkungan dari Salatiga yaitu mendiang Trisanto Handoyo (akrab disapa Mbah Santo). Ia mengaku begitu mengagumi sosok Mbah Santo semasa hidupnya, baik dari caranya membuat orang agar tertarik untuk melestarikan alam, maupun keikhlasannya dalam melakukan kegiatan untuk kepentingan bersama.

“Yang saya lakukan sampai saat ini sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Almarhum Mbah Santo. Saya sangat …,” tutur Abidin, yang tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena menitikkan air mata ketika mengenang sosok yang amat dihormatinya itu.

Seperti orang pada umumnya, Abidin juga pernah mengalami masa-masa sulit di hidunya. Kala itu, ia hampir kehilangan nyawa ketika menempuh perjalanan menuju suatu lokasi tanam pohon. “Saya hampir masuk jurang karena rantai sepeda saya putus. Saat itu, saya langsung membanting tubuh dari sepeda dan kemudian menemukan bulu di depan saya yang ternyata berasal dari burung berwarna putih,” terangnya.

Bulu burung putih itu, seperti yang diakui Abidin, adalah yang pertama kali ia dapatkan. Bulu itu pula yang menjadi saksi bisu atas peristiwa yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun silam. Tetapi, bulu putih itu hanya lah salah satu di antara belasan bulu yang selalu dibawa Abidin. Pada kesempatan ini, saya enggan untuk menceritakannya satu per satu. Biar lah bulu-bulu itu yang menyimpan kisah atau misteri dan menempel pada sebuah setang sepeda. Yang tiap kali bergoyang kala ditiup angin dalam laju sepeda yang dikayuh Abidin.•

Nama:
Nicolas Abidin

Tempat dan Tanggal Lahir:
Bandung, 19 Oktober 1991

Domisili:
Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah

Komunitas:
Mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Pecinta Alam (Mahaspala, 2014);
Pendaki Indonesia (sejak 2016);
Badan Koordinasi Pemuda Pecinta Alam Kaliwungu (Bakoppak, sejak 2016);
Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti, sejak 2016);
Paguyuban Sepeda Antik Kaliwungu (Pusaka, sejak 2017);
dan Forum Relawan Lingkungan Kendal (Forelik, 2018).

Tur Sepeda Ontel:
Kendal-Gunung Ungaran (Reboisasi Gunung Ungaran 2017);
Kendal-Solo (HUT Kota Solo 2017);
Solo-Nusa Tenggara Barat (2017);
Gunung Rinjani-Kendal (2017);
Kendal-Jawa Barat (2017);
Kendal-Mojokerto (Bersih Gunung Penanggungan 2017);
Kendal-Makam R.A. Kartini, Bung Tomo, W.R. Supratman, Mbah Syaichona Cholil, Dr. Sutomo, KH. Hasyim Asyari, D.R. Wahid Hasyim, K.H. Abdurahman Wahid (Gusdur), Ir. Soekarno, Tan Malaka, Ir.Dr. Suharso, Dr. Tjipto, Gunawan Mangkunegara, Soegijopranoto,
dan Taman Makam Pahlawan Semarang (dalam rangka Gowes Ziarah menyongsong HUT RI 72);
Kendal-Bukit Kelangon, Gunung Merapi, Gunung Kidul, lintas pesisir pantai selatan di Gunung Kidul, makam Jenderal Soedirman, Kol. Suginono, Dr. Sardjito,
Ki Hadjar Dewantara, Candi Borobudur, Bukit Tidar, Selo Boyolali (2017);
Kendal-Jalur Pendakian Cuntel (Bersih Gunung Merbabu 2017);
Kendal-Desa Tajuk, Getasan (1001 Pendaki Tanam Pohon 2018).

Ulasan oleh Putri Yuniarti. Mahasiswa Ilmu Komunikasi-Jurnalistik, Fiskom, UKSW angkatan 2015.

Penyunting: Galih Agus Saputra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s