Jurnalentera

head

MENGAPA MENGANGKAT TEMA INI?

Kebebasan beragama adalah hak sipil setiap individu yang sudah diatur dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Selain itu, kebebasan beragama secara tidak langsung juga memiliki jaminan dalam UUD 1945, UU No.39/1999 tentang HAM, UU NO.26/2000 tentang Pengadilan HAM serta berbagai peraturan pemerintah lain.

Namun pada kenyataan, kebebasan beragama di Indonesia masih jauh dari perlindungan berbagai pasal tersebut. Misalnya pembakaran rumah penganut Syiah di Sampang, penyerangan penganut Ahmadiyah di Banten dan pelarangan pembangunan gereja HKBP Philadelpia di Bekasi. Munculnya insiden-insiden itu telah menciderai praktik kehidupan sosial agama di Indonesia yang diharapkan dapat berjalan damai dan toleran.

Salah satu tantangan kontemporer terkait kebebasan beragama di Indonesia antara lain adalah pemilahan antara agama resmi dan tidak resmi. Pemisahan keduanya di Indonesia saat ini diatur dalam UU No.24/2014 tentang Administrasi Kependudukan. Agama lokal/adat yang kebanyakan dianut masyarakat adat (indigenous people) dianggap bukan agama, dan agama punya ciri-ciri dan syarat-syarat. Terma “kepercayaan” atau “penghayatan” dipisahkan dari agama, seolah-olah keduanya memang berbeda dan tidak mengandung unsur-unsur religiusitas dan spiritualitas. Selain itu, agama-agama lokal tersebut mendapat pengawasan ketat dari kejaksaan dan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) dalam pelaksanaan kegiatan dan perayaan kepercayaannya.

Pengaturan tersebut sangat berpotensi pada pelanggaran hak-hak para penganut kepercayaan di luar enam agama resmi yang diakui pemerintah. Judul “Agama, Tradisi dan Masyarakat Adat” dipilih sebagai bentuk komitmen Lentera untuk menjunjung tinggi hak-hak sipil, salah satunya kebebasan beragama dan berkeyakinan terlepas dari batasan-batasan primordial. Jurnalentera karenanya diharapkan dapat terus menampung, memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan.

STRUKTUR DEWAN REDAKSI

 

Ketua Dewan Redaksi
Galih Agus Saputra
Anggota Dewan Redaksi
Bima Satria Putra
Yunika Arum
Mei Yulinda Manalu
Tim artistik
Rio Hanggar Dhipta
Christian Adi Chandra
Agus Handako
Redaktur Tamu
Singgih Nugroho (Yayasan Percik)
Rasyid Ridha Saragih (Komunitas Payung)

PENULISAN

Dewan redaksi Jurnalentera berharap dapat mengumpulkan kajian akademis berupa hasil laporan penelitian maupun kajian teoritik terbaru, tulisan reflektif berdasarkan pengalaman langsung atau studi kasus nyata, serta gagasan-gagasan yang kritis dan merdeka yang berkaitan dengan agama-agama lokal/adat di Indonesia.

Beberapa topik yang dapat anda tulis atau teliti misalnya:

  1. Kajian hukum, konstitusi dan HAM terkait kebijakan pemerintah RI dalam memperlakukan agama lokal/adat di Indonesia,
  2. Ulasan sejarah terkait agama lokal/adat di Indonesia dari zaman kolonial hingga reformasi,
  3. Pengalaman gerakan sosial masyarakat adat dan penganut agama lokal/adat di Indonesia dalam mengupayakan kebebasan sipil,
  4. Korelasi antara menganut agama lokal/adat dengan kemiskinan atau diskriminasi ekonomi,
  5. Penganut agama lokal/adat dan perjuangan reforma agraria dan lingkungan hidup di Indonesia,
  6. Perempuan sebagai penganut agama lokal/adat, dan
  7. Pengalaman praktik pluralisme agama di tingkat lokal.

Beberapa sub-tema di atas diharapkan tidak membatasi kebebasan penulis untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan tulisannya sesuai dengan minat studinya. Redaksi Jurnalentera juga tetap terbuka terhadap berbagai topik selain telah dijelaskan di atas yang relevan dengan judul “Agama, Tradisi dan Masyarakat Adat”.

Anda dapat menulis di Jurnalentera Nomor 1/2016 dengan berbagai catatan di bawah ini:

  1. Tulisan adalah orisinil (bukan hasil plagiasi atau terjemahan) dan belum atau sedang diterbitkan di media lain.
  2. Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia, diketik dengan huruf Times New Roman ukuran 12, spasi 1,15, ukuran A4, format word 97-2013 document (docx) antara 6-15 halaman.
  3. Di bawah judul tulisan sertakan nama, status atau posisi dalam organisasi, minat studi, atau jurusan dan asal universitas (jika mahasiswa).
  4. Sistematika penulisan bebas, tetapi dimulai dengan abstrak dalam Bahasa Inggris disertai dengan 3-5 kata kunci. Daftar pustaka melampirkan sumber informasi hasil penelusuran kepustakaan dan dokumen yang relevan dengan mengikuti sistem harvard style.
  5. Dewan Redaksi Jurnalentera berhak untuk menyunting redaksional tulisan tanpa mengubah maksud dan makna dari tulisan.
  6. Tulisan yang terbit tidak mencerminkan pandangan redaksi.

Tulisan dikirimkan melalui surel lenterafiskom.uksw@gmail.com paling lambat 31 Desember 2016. Pengumuman tulisan dilakukan via surel pada Januari 2017. Setiap penulis yang berhasil terbit akan mendapatkan satu (1) eksemplar Jurnalentera Nomor 2/2017. Unduh halaman ini dalam bentuk .pdf di sini.

Informasi lebih lanjut hubungi :
Galih Agus Saputra – Ketua Dewan Redaksi Jurnalentera (081 901 731 778)
Facebook : Lentera Fiskom UKSW

penyelenggara